<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PPI Groningen</title>
	<atom:link href="http://www.ppigroningen.nl/wp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ppigroningen.nl/wp</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 12:30:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Indonesiana Summer Cycling Groningen I</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/19/indonesiana-summer-cycling-groningen-i/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/19/indonesiana-summer-cycling-groningen-i/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 12:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[

Hari Minggu 18 Juli 2010 kemarin, telah dilaksanakan kegiatan perdana Indonesiana Summer Cycling Groningen yang digagas oleh Pak Adji. Animo warga Indonesia di Groningen cukup besar juga ternyata. Dari yang diperkirakan akan diikuti sekitar 10 orang, ternyata berkembang menjadi 19 orang (termasuk dua tamu dari Indonesia). Konsekuensinya, iring-iringan kita cukup panjang.


Rute yang dilewati adalah Groningen centrum, stadspark, sisi barat Hornseemer, Eelde, Vosbergen, Wittemolen, Haren, centrum: dengan total perjalanan +/- 25 km dan total waktu +/- 4 jam (mulai pukul 09.15, selesai pukul 13.00). Selama perjalanan kita melakukan beberapa kali pemberhentian yaitu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/35183_1386735147011_1191008275_30974132_4542187_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-1056 aligncenter" title="Indonesiana Summer Cycling" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/35183_1386735147011_1191008275_30974132_4542187_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Hari Minggu 18 Juli 2010 kemarin, telah dilaksanakan kegiatan perdana Indonesiana Summer Cycling Groningen yang digagas oleh Pak Adji. Animo warga Indonesia di Groningen cukup besar juga ternyata. Dari yang diperkirakan akan diikuti sekitar 10 orang, ternyata berkembang menjadi 19 orang (termasuk dua tamu dari Indonesia). Konsekuensinya, iring-iringan kita cukup panjang.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/34784_1386731346916_1191008275_30974098_4812248_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1058" title="Mengayuh" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/34784_1386731346916_1191008275_30974098_4812248_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Rute yang dilewati adalah Groningen centrum, stadspark, sisi barat Hornseemer, Eelde, Vosbergen, Wittemolen, Haren, centrum: dengan total perjalanan +/- 25 km dan total waktu +/- 4 jam (mulai pukul 09.15, selesai pukul 13.00). Selama perjalanan kita melakukan beberapa kali pemberhentian yaitu di Hornsemeer, Huis Lemferdinge (Eelde), Wittemolen, dan Italini Ice Cream (Haren).</p>
</div>
<div>
<p>Tidak dijumpai halangan yang berarti selama perjalanan (sekali salah jalan, tapi ada berkahnya juga ketemu sapi mirip bison; rantai sepeda Iging patah, untungnya sudah masuk Groningen). Dan dari tawa ceria para peserta sepanjang perjalanan, saya menilai semuanya, termasuk tamu kita dari Indonesia, bisa menikmati perjalanan yang cukup panjang ini.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/34507_1386734106985_1191008275_30974129_7198701_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1057" title="Bersepeda" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/34507_1386734106985_1191008275_30974129_7198701_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Pemandangan di tempat-tempat yang kami lewati juga sangat indah dan tidak membosankan. Orang-orang yang berpapasan juga sangat ramah-ramah (bahkan ada beberapa yang sempat mengajak bercakap-cakap). Bagi saya pribadi, kegiatan perdana ISC kemarin menjadi suatu pengalaman yang sangat menyenangkan. Saya pribadi mengucapkan terima kasih ke Pak Adji yang telah menggagas kegiatan ini.</p>
</div>
<div>
<p>Rencananya ISC akan menyelenggarakan kembali kegiatannya minggu depan. Untuk kepastian waktu dan rutenya akan diumumkan di milis. Rekan-rekan yang kemarin belum sempat mengikuti ISC-01/2010 kami undang untuk mengikuti kegiatan berikutnya ini.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/Afbeelding-9.png"><img class="alignleft size-full wp-image-1066" title="Titah Yudhistira" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/Afbeelding-9.png" alt="" width="76" height="98" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Titah Yudhistira</strong></p>
<p>Foto: <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=2051262&amp;id=1191008275&amp;page=2" target="_blank">M. Insanu</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/19/indonesiana-summer-cycling-groningen-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertarungan di Utara Belanda, Terbesar di Eropa Barat</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/05/30/groenscup/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/05/30/groenscup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 11:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Humas / PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Groens Cup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1010</guid>
		<description><![CDATA[Seraya menggendong tas penuh berisi peralatan olahraga dan pakaian secukupnya, Darsono dan 16 pemuda lainnya bertolak dari Stasiun Eindhoven, Belanda. Suhu 13 derajat celsius pada pukul 7 pagi, tidak menyurutkan langkah mereka menuju Groningen, sebuah kota di utara Belanda sejauh 3 jam perjalanan menumpang kereta dari Eindhoven.
Darsono dan rekan-rekannya merupakan mahasiswa Universitas Teknik Eindhoven. Bersama sekitar 400 mahasiswa asal Indonesia lainnya yang tersebar di 11 kota di Belanda, mereka berkumpul di ACLO Sport Centre, Groningen, pada Sabtu (22/5) hingga Minggu (23/5) untuk ikut ambil bagian dalam turnamen olahraga mahasiswa Indonesia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/30_05_2010_007_001_005.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1011" title="Groenscup" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/30_05_2010_007_001_005-220x300.jpg" alt="" width="220" height="300" /></a>Seraya menggendong tas penuh berisi peralatan olahraga dan pakaian secukupnya, Darsono dan 16 pemuda lainnya bertolak dari Stasiun Eindhoven, Belanda. Suhu 13 derajat celsius pada pukul 7 pagi, tidak menyurutkan langkah mereka menuju Groningen, sebuah kota di utara Belanda sejauh 3 jam perjalanan menumpang kereta dari Eindhoven.</p>
<p>Darsono dan rekan-rekannya merupakan mahasiswa Universitas Teknik Eindhoven. Bersama sekitar 400 mahasiswa asal Indonesia lainnya yang tersebar di 11 kota di Belanda, mereka berkumpul di ACLO Sport Centre, Groningen, pada Sabtu (22/5) hingga Minggu (23/5) untuk ikut ambil bagian dalam turnamen olahraga mahasiswa Indonesia se-Belanda.</p>
<p>Para peserta yang berpartisipasi tak hanya mahasiswa di Belanda, ada pula pelajar sekolah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), karyawan KBRI, sampai kontingen mahasiswa asal Belgia.</p>
<p>Keberadaan sedemikian banyak warga Indonesia di Belanda tak pelak menjadi sasaran Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPI G) selaku penyelenggara turnamen berjuluk Groenscup tersebut.</p>
<p>Menurut ketua panitia Groenscup, Pandji Triadyaksa, ajang tahun ini diharapkan semakin menjalin keakraban dan solidaritas di antara mahasiswa Indonesia. Berbekal niat tersebut, panitia penyelenggara menciptakan slogan `Indonesia Satu dalam Sportivitas&#8217;.</p>
<div id="attachment_1012" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/30068_1417068419692_1022043431_1229526_3119388_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-1012" title="Panitia Groenscup" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/30068_1417068419692_1022043431_1229526_3119388_n-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Panitia Groenscup 2010</p></div>
<p>Tema itu sendiri mendapat acungan jempol dari Wakil Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Umar Hadi, saat membuka turnamen Groenscup. Menurutnya, tema tersebut merupakan pengingat bagi para mahasiswa Indonesia untuk sanggup berkompetisi secara sportif demi memajukan Indonesia.</p>
<p>“Berkompetisi tidak melulu konﬂiktual. Mahasiswa Indonesia juga harus sanggup memberi kontribusi dengan berkolaborasi dan membangun kemitraan,” paparnya.</p>
<p>Dalam turnamen yang akrab disebut Groenscup itu, mereka memperebutkan piala di cabang olahraga bulu tangkis, futsal, tenis meja, bola basket, catur, kartu, dan adu panco.</p>
<p>Turnamen Groenscup adalah ajang tahunan PPI G.</p>
<p>Ajang tersebut merupakan salah satu yang terbesar di Belanda dan boleh jadi di Eropa Barat. Untuk event ini, Ketua Panitia Groenscup Pandji Triadyaksa mengaku pihaknya mengalokasikan dana sekitar 7.200 euro. Dana tersebut didapat dari berbagai sumber, antara lain dari KBRI, PPI G, Universitas Groningen, dan berbagai sponsor.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/Picture-1.png"><img class="alignleft size-full wp-image-1014" title="Jerome Wirawan" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/Picture-1.png" alt="" width="71" height="77" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Jerome Wirawan</strong></p>
<address>Artikel ini juga dimuat di <a href="http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/05/30/ArticleHtmls/30_05_2010_007_001.shtml?Mode=0" target="_blank">Media Indonesia</a><strong><br />
</strong></address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/05/30/groenscup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terdampar di Portugal</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[Perjalananku ke, di dan dari Portugal, 13 &#8211; 20 April 2010 akan jadi  salah satu perjalanan yg tak terlupakan dalam hidupku. Bagaimana tidak,  menurut sahabatku aku bisa menganggap diriku sebagai  bagian dari  sejarah hahaha&#8230; berlebihan &#38; aku tau dia sedang bercanda.. tapi  setelah kupikir-pikir, mungkin juga. Paling tidak perjalanan itu menjadi  bagian dari sejarah hidupku sendiri.. yang bisa kuceritakan pada  VanyAlma &#38; cucu-cucuku nanti..
Perjalanan ini menjadi berharga, bukan hanya karena tempat-tempat indah  yang kukunjungi, sahabat lama &#38; keluarganya yang kutemui,  orang-orang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1028" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/26138_388397219083_812484083_3829649_7100392_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-1028" title="Terdampar di Portugal" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/26138_388397219083_812484083_3829649_7100392_n-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Tempatku tidur di Porto Campanha Airport</p></div>
<p>Perjalananku ke, di dan dari Portugal, 13 &#8211; 20 April 2010 akan jadi  salah satu perjalanan yg tak terlupakan dalam hidupku. Bagaimana tidak,  menurut sahabatku aku bisa menganggap diriku sebagai  bagian dari  sejarah hahaha&#8230; berlebihan &amp; aku tau dia sedang bercanda.. tapi  setelah kupikir-pikir, mungkin juga. Paling tidak perjalanan itu menjadi  bagian dari sejarah hidupku sendiri.. yang bisa kuceritakan pada  VanyAlma &amp; cucu-cucuku nanti..</p>
<p>Perjalanan ini menjadi berharga, bukan hanya karena tempat-tempat indah  yang kukunjungi, sahabat lama &amp; keluarganya yang kutemui,  orang-orang baik &amp; ramah (bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan untuk  membantuku), teman-teman baru (dari berbagai bangsa &amp; negara) yang  kusapa, tetapi terlebih karena seluruh perjalanan ini membuatku keluar  dari tempurungku, mengatasi ketakutanku dan membuatku mengerti apa yang  mampu kulakukan.. I know what I&#8217;m capable of, because of this particular  trip.</p>
<p>Selasa, 13 April, tujuan utamaku adalah Lisbon. Selain Roma, Lisbon  adalah salah satu kota yang kutekadkan untuk kukunjungi sebelum pulang  ke Indonesia. Bukan semata-mata untuk melihat keindahan kotanya, tapi  terlebih untuk mengunjungi seorang sahabat dan keluarganya disana. Aku  memutuskan pergi sendiri karena ternyata Portugal bukan tempat favorit  bagi teman-temanku yang sama-sama suka jalan. Demi tiket murah, aku  harus berangkat jam 2 subuh menuju Bremen untuk naik pesawat Ryanair  selama 3 jam, turun di Faro dan melanjutkan perjalanan dengan bis selama  kurang lebih 2 jam untuk sampai ke Lisbon. Demikian pula saat pulang,  aku harus berkereta selama 2,5 jam ke Porto untuk kemudian naik pesawat  ke Eindhoven selama 3 jam dan melanjutkan dengan kereta ke Groningen  selama 2,5 jam. Rencananya, perjalananku kali ini akan berakhir Jumat,  16 April 2010.</p>
<p>Cemas menyelinap dalam hati membayangkan betapa sekian etape perjalanan  harus aku hadapi sendiri. Tapi aku berusaha menenangkan diri karena aku  pernah ke Bremen dan begitu sampai Lisbon aku akan tinggal bersama  sahabatku. Pengalaman naik pesawat Ryanair &amp; naik metro dalam  beberapa perjalananku sebelumnya bisa kujadikan referensi.</p>
<p>Sejak berangkat sampai ke Faro, tidak ada kesulitan berarti yang  kuhadapi. Bahkan di Faro aku bertemu seorang teman baru. Seorang pelajar  dari Lithuania yang sedang menuju Lisbon untuk menemui kekasihnya. Kami  sempat berjalan-jalan, berfoto-foto bersama melihat-lihat kota Faro  sebelum melanjutkan perjalanan ke Lisbon. Suhu Faro saat itu sangat  hangat, sangat berbeda dari Groningen yang dingin. Turis2 berbusana  summer berjalan2 di sekitar dermaga. Senang, gembira, tersenyum.</p>
<p>Sampai di Lisbon, aku dijemput sahabatku, istirahat sebentar dan  langsung diajak jalan-jalan seputar kota Lisbon. Banyak hal yang bisa  dinikmati di Lisbon. Bangunan-bangunan tua dengan detil-detil yang  mencengangkan, kastil di atas bukit, menara kota, patung-patung, pusat  perbelanjaan, street performance &amp; masih banyak lagi. Keesokan  harinya, sahabatku &amp; keluarganya mengantarku ke Fatima, sebuah kota  dimana terletak tempat ziarah bagi umat Katolik. Di sana Bunda Maria  pernah menampakkan dirinya pada 3 orang anak kecil dan di tempat itu  didirikan basilica besar, beberapa kapel dan tempat jalan salib yang  indah. Dalam perjalanan kembali ke Lisbon, kami mampir di sebuah tempat  yang sangat berangin, sebuah tebing dengan tugu dan salib diatasnya lalu  laut lepas. Kata sahabatku, tempat itu adalah ujung barat benua Eropa.  Euphoria melandaku seketika.. tak pernah kubayangkan aku berada di ujung  Eropa hahahaha&#8230; Kami juga mengunjungi Tower of Belem, Jeronimo&#8217;s  Monastery,dan Monument to the Discoveries.  Hari ketiga di Lisbon, aku  diantar ke Sintra. Sebuah dataran tinggi diluar kota Lisbon, dimana  terletak Pena Palace, sebuah istana bergaya Romanticism yang dicanangkan  menjadi warisan dunia (world heritage).</p>
<p>Puas berjalan-jalan, lelah dan senang. Apalagi sambil meladeni  kecerewetan gadis kecil lucu &amp; pintar, anak sahabatku, yang selalu  mengingatkanku pada VanyAlma di Bandung, perjalananku hampir sempurna.  Kecemasan melandai, ketika sedang mengepak kembali barang-barangku dalam  ransel, kami melihat berita di CNN tentang gunung berapi yang meletus  di Islandia &amp; membuat banyak penerbangan di batalkan. Kami langsung  mengecek situs Ryanair dan Porto Airport. Sampai sore itu, jadwal  penerbanganku belum masuk dalam daftar yang dibatalkan. Sepanjang malam  aku berharap semoga aku tetap bisa berangkat keesokan paginya.</p>
<p>Harapanku tidak menjadi kenyataan. Manusia boleh berencana, katanya,  tapi Tuhan yang menentukan. Begitulah yang terjadi padaku. Bangun  pagi-pagi dan bersiap-siap berangkat ke Porto. Disambut dengan berita  buruk bahwa penerbanganku dibatalkan. Aku berusaha mengganti jadwal  penerbangan melalui situs Ryanair tapi tidak berhasil. Karena sudah  check-in online, aku harus datang ke bandara  &amp; mengganti jadwal  disana. Akhirnya aku berkereta ke Porto Airport. Sampai di sana antrian  mulai panjang. Aku mengantri dengan banyak orang Jerman &amp; Belanda  yang seharusnya terbang ke airport-airport di Jerman &amp; Belanda hari  itu. Waktu itu hari Jumat pagi. Aku diberi pilihan, uangku dikembalikan,  mengganti jadwal penerbangan dengan tujuan Eindhoven yang berangkat  hari Senin pagi, atau tujuan Dusseldorf yang berangkat Minggu sore. Aku  pilih penerbangan ke Dusseldorf Minggu sore karena ingin segera sampai  Groningen. Walaupun setelah memilih itu aku baru terpikir bahwa kalau  sampai di Dusseldorf malam hari, belum tentu aku bisa langsung  melanjutkan perjalanan ke Groningen. Karena itu, aku menghubungi salah  satu temanku di Jerman, minta pertolongan untuk mencarikan penginapan di  Dusseldorf atau jadwal kereta menuju Belanda.</p>
<p>Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di bandara, menolak tawaran  sahabatku di Lisbon untuk kembali kesana. Dengan membayar 6 euro untuk  menyegel ransel &amp; 2.13 euro untuk jasa penitipan, ransel kutitipkan  di tempat penyimpanan barang. Setelah segala urusan beres, hatiku mulai  tenang. Aku makan siang di bandara dan merencanakan untuk jalan-jalan di  seputar kota Porto sebelum hari gelap. Berbekal peta yang kuambil dari  tourist information, aku naik metro menuju Porto. Kota Porto ternyata  tidak kalah indahnya dengan Lisbon. Bangunan-bangunan tua, tugu-tugu,  taman, dan satu yang berkesan adalah sungai lebar bernama Ribiera dengan  jembatan panjang yang menghubungkan tengah kota Porto dengan daerah  bernama Gaia. Cafe-cafe di sepanjang sungai memasang meja dan  payung-payung di depan toko mereka. Romantis <img src='http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  sayangnya.. waktu itu  hujan. Aku berteduh sambil minum kopi di salah satu cafe. Pelayannya  mengajakku ngobrol. Ternyata dia orang Eindhoven yang bekerja di sana  selama summer. Sebelum hari gelap aku kembali ke bandara. Mencari tempat  yang nyaman untuk tidur. Aku tidur di sebuah bangku panjang terbuat  dari besi yang membuat sepanjang malam itu aku kedinginan dan sering  terbangun. Bandara Porto cukup luas, aman, buka 24 jam dan banyak orang  yang juga menginap di sana sambil menunggu penerbangan.</p>
<p>Keesokan pagi, aku bangun dengan semangat. Aku sudah berencana, aku akan  membaca artikel yang kubawa sambil menunggu pesawatku terbang sore  harinya. Tetapi, selesai sarapan aku melihat di papan pengumuman banyak  penerbangan ke Jerman dibatalkan. Cemas menyelinap lagi. Aku cek situs  ryanair dan ternyata benar, penerbanganku sore itu dibatalkan lagi.  Huaaaa&#8230; seketika ingin menangis &amp; panik.. Aku hubungi sahabatku di  Lisbon, minta tolong untuk mencarikan bis atau kereta yang bisa segera  membawaku ke Groningen. Aku benar-benar ingin cepat sampai Groningen  karena ada kuliah yang harus kuikuti hari Selasa dan ada target untuk  tesisku yang harus kuselesaikan. Aku mengantri lagi di loket Ryanair  untuk mengganti jadwal pesawat. Kali ini banyak orang Perancis &amp;  Jerman yang mengantri. Sementara mengantri, sahabatku memberi kabar  bahwa ada kereta dari Lisbon ke Amsterdam yang berangkat hari Senin pagi  dengan harga 144 euro. Aku menunda keputusanku untuk membeli tiket  tersebut karena masih ingin mencari kepastian dari Ryanair. Ternyata,  jadwal penerbangan ke Belanda atau Jerman baru ada lagi pada hari Selasa  siang. Aku memutuskan untuk minta penggantian uang, lalu meminta  temanku membelikan tiket bis Lisbon &#8211; Amsterdam dan kembali ke Lisbon,  ke rumah sahabatku.</p>
<p>Dalam perjalanan menuju Lisbon, sahabatku memberi kabar ternyata tiket  bis Lisbon &#8211; Amsterdam sudah habis terjual. Keputusanku yang terlambat  beberapa menit saja, membuatku kembali gagal segera sampai di Groningen.  Untungnya sahabatku menemukan perusahaan bis yang masih menjual tiket  dari Lisbon ke Paris seharga 89 euro. Seketika aku meminta sahabatku  untuk membeli tiket itu, tanpa banyak bertanya &amp; tanpa banyak  pertimbangan lagi daripada menanggung resiko kehabisan tiket lagi.  Setelah itu, baru terpikirkan bahwa aku masih harus mencari tiket kereta  dari Paris menuju Groningen dan baru terpikirkan juga bahwa aku tetap  tidak bisa menghadiri kuliahku hari Selasa karena butuh 38 jam  perjalanan untuk sampai di Groningen dari Lisbon melalui jalan darat.</p>
<p>Hari Sabtu malam, aku kembali ke rumah sahabatku. Malam itu, aku memesan  tiket kereta dari Paris ke Groningen melalui situs Nshighspeed dan  membayar 123 euro. Keesokan harinya, seolah-olah ingin menghiburku  (hehehe.. gw GR bgt ya boo..) aku kembali diajak jalan-jalan. Kali ini,  mengunjungi Cristo Rei. Sebuah tempat dimana berdiri patung besar Yesus  sedang merentangkan tangannya seperti yang ada juga di Dilli &amp; Rio  de Janeiro. Dalam jalan-jalan ini temanku tambah banyak, karena  sahabatku juga mengajak kenalan-kenalannya,  sebanyak 9 orang.  Perjalanan yang seru, diakhiri dengan makan-makan enak dan  ngobrol-ngobrol santai, sejenak membuatku lupa pada kekecewaan,  kepanikan dan rasa rindu yang melanda terhadap kamar dan  sahabat-sahabatku di Groningen.</p>
<p>Perjalanan ke Cristo Rei membuatku terpana, karena ketika berada di  dalam kapel Cristo Rei aku mengambil sebuah kertas yang disediakan untuk  pengunjung dan diantara sekian banyak kertas kecil yang tersedia,  terambil olehku, kertas bertuliskan : &#8220;Do not be anxious about anything.  In everything resort to prayer and supplication together with  thanksgiving and bring your request before God (Fil 4:7)&#8221;</p>
<p>Akhirnya datang juga hari yang dinantikan. Senin siang pk 13.30, bisku  berangkat. Aku diantar istri sahabatku &amp; anaknya. Terharu karena  kebaikan dan kemurahatian mereka menjadi shelter selama aku terdampar,  kami berpelukan. Aku berkenalan dengan dua orang perempuan Inggris. Sama  seperti aku, pesawat mereka menuju UK dibatalkan. Nasib mereka lebih  buruk dari aku karena sesampainya di Paris mereka masih harus mencari  transportasi untuk sampai ke Cambridge. Mereka berencana naik bis lagi  dan ferry. Duduk di sebelahku seorang perempuan Perancis. Dia dan  suaminya akan menunju Lyon sesampainya di Paris. Tampaknya semua orang  di bis itu mengalami pengalaman yang sama denganku. Pesawat mereka  dibatalkan. Kebanyakan mereka orang-orang berbahasa Portugis &amp;  Perancis, beberapa berbahasa Inggris. Hanya aku yang orang Asia. Aku  merasa sedang berada di Menara Babel, dimana semua orang berbeda bahasa  &amp; semua terasa asing bagiku.</p>
<p>Kecemasan kembali datang ketika baru saja 2 jam perjalanan, ban bis yang  kutumpangi kempes !! Aku berpikir.. &#8220;kenapa sial banget sih  gueeeeeee???&#8221; Cemas karena aku takut terlambat sampai di Paris dan  ketinggalan kereta yang menuju Groningen. Akhirnya aku pasrah, berusaha  berdoa &#8211; dalam situasi seperti ini, herannya aku malah sulit berdoa &#8211;  dan berdiam diri atau mengalihkan pikiran dengan mengajak ngobrol dua  perempuan Inggris teman seperjalananku.</p>
<p>Sampai di Paris, hari Selasa pk 17.00 di terminal Galieni. Aku harus  menuju Gare du Nord untuk naik kereta Thalys menuju Brussel pk 18.00.  Untungnya, seorang sahabatku di Groningen sudah memberi petunjuk jalur  metro dari Galieni menuju Gare du Nord. Saat itu adalah saat yang paling  menegangkan karena aku harus membeli tiket metro, mencari jalur metro  yang tepat di tengah hiruk pikuk metro Paris, turun di stasiun yang  tepat untuk berganti jalur metro dan harus bergegas karena waktu yang  sempit.</p>
<p>Kelegaan mulai menghampiriku ketika aku menginjakan kaki di Gare du Nord  30 menit sebelum kereta berangkat. Begitu duduk di kereta Thalys, aku  menghembuskan napas lega. Aku mengirim kabar pada orang-orang terdekatku  yang selama ini menemaniku dan memberi semangat melalui sms, bahwa aku  sudah hampir dekat Groningen hahahaha.. padahal masih 10 jam lagi  sebelum aku sampai di kamarku yang nyaman.</p>
<p>Sampai di Brussel pk. 19.23. Jadwal kereta berikutnya menuju Amsterdam  pk. 20.18. Sempat minum kopi &amp; makan croissant, kereta yang  ditunggu-tunggu ternyata terlambat 20 menit. Pada titik itu, aku sudah  tidak mau mengeluh, tidak mau bertanya mengapa aku sial lagi. Cukup.  Harapanku hanya segera sampai Groningen malam itu, bagaimanapun caranya.  Di dalam kereta menuju Amsterdam aku minta tolong sahabatku di  Groningen untuk mengecek situs ns.nl tentang kereta terakhir dari  Schipol atau Rotterdam menuju Groningen. Berdasarkan informasinya, aku  memutuskan untuk turun di Rotterdam untuk melanjutkan ke Amersfort dan  dari Amersfort ke Groningen. Selama perjalanan, aku berharap supaya  untuk etape terakhir ini perjalananku lancar. Kalau ada satu saja kereta  yang terlambat maka aku akan terdampar lagi di salah satu kota itu.  Bersyukur, karena akhirnya aku bisa naik kereta terakhir dari Rotterdam  menuju Amersfort dan dari Amersfort ke Groningen. Sampai Groningen CS pk  02.00 Rabu dini hari. Lelah, gatal-gatal karena 2 hari tidak mandi,  tapi bersyukur karena akhirnya aku sampai di &#8216;rumah&#8217;.</p>
<p>Pengalaman 3 hari terdampar di Portugal, membuatku belajar untuk tidak  terlalu cemas pada hal-hal yang belum terjadi. Aku belajar untuk  menjalani apa yang harus kuhadapi saat itu dan tidak terlalu banyak  berencana. Seorang sahabat bilang, setiap hari punya kesusahannya  sendiri. Suamiku menulis di wall FB-ku, supaya aku menjalani setiap  kesulitan seperti air mengalir. Sms-sms yang datang dari orang-orang  terdekat sepanjang perjalanan menyemangatiku untuk tetap tegar  menghadapi kesulitan. Dan ketika aku membandingkan kesulitan yang  kualami selama 3 hari kemarin dengan kesulitan orang lain yang sama-sama  terdampar atau dengan orang lain yang mengalami musibah berat,  sepertinya tidak pantas aku mengeluh. Pengalaman berharga memang harus  dibayar, itu kata Ibuku waktu beliau meneleponku. Aku juga belajar  menjadi lebih cepat mengambil keputusan, lebih tanggap terhadap  lingkungan sekitarku, lebih berani bertindak dan lebih asertif memulai  percakapan dengan orang baru, hal-hal yang selama ini kupikir tidak  termasuk sifatku. Now, I know what I&#8217;m capable of. Thank God for making  me stranded in Portugal <img src='http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mackenzie&#8217;s Rating of European Cities</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/21/mackenzies-rating-of-european-cities/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/21/mackenzies-rating-of-european-cities/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 09:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Panduan]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=851</guid>
		<description><![CDATA[A while ago, I turned 26. To be honest, I was so not looking forward  being 26 because a lot of things in traveling get more expensive when  you are 26, starting from train tickets to flight tickets, hostels to  entrance fees, and so on. They do not consider you as “youth” anymore. I  feel it’s not really fair coz prices go up for me yet I don’t get an  increase in my salary :p
Anyway, I have been in Europe for 4.5 years. I am ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-11.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-855" title="Jalan-jalan" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-11-300x270.png" alt="" width="182" height="163" /></a>A while ago, I turned 26. To be honest, I was so not looking forward  being 26 because a lot of things in traveling get more expensive when  you are 26, starting from train tickets to flight tickets, hostels to  entrance fees, and so on. They do not consider you as “youth” anymore. I  feel it’s not really fair coz prices go up for me yet I don’t get an  increase in my salary :p</p>
<p>Anyway, I have been in Europe for 4.5 years. I am going to list almost  all the European cities and towns that I have been before I turned 26  and I will give them a rating from * (worst) to ***** (best) when  compared to the cities/towns in the same category. I divided them to  five different categories based on population:</p>
<p>XL [&gt;700,000]</p>
<p>Vienna, Austria *****<br />
Paris, France *****<br />
Rome, Italy *****<br />
Prague, Czech ****<br />
Budapest, Hungary ****<br />
Barcelona, Spain ****<br />
Stockholm, Sweden ****<br />
Brussels, Belgium ***<br />
Berlin, Germany ***<br />
Munich, Germany ***<br />
Marseille, France **<br />
Cologne, Germany **<br />
Riga, Latvia **<br />
Amsterdam, Netherlands **<br />
Milan, Italy *<br />
Naples, Italy * (Absolute crap! do not go there, I repeat, do not go  there!!)</p>
<p>L [350,000 – 700,000]</p>
<p>Copenhagen, Denmark *****<br />
Lisbon, Portugal *****<br />
Palma, Spain *****<br />
Tallinn, Estonia ****<br />
Helsinki, Finland ****<br />
Dresden, Germany ****<br />
Zurich, Switzerland ****<br />
Lyon, France ***<br />
Florence, Italy ***<br />
Bremen, Germany ***<br />
Stuttgart, Germany ***<br />
The Hague, Netherlands ***<br />
Gdansk, Poland ***<br />
Antwerp, Belgium **<br />
Toulouse, France **<br />
Frankfurt, Germany **<br />
Nuremberg, Germany **<br />
Bologna, Italy **<br />
Vilnius, Lithuania **<br />
Rotterdam, Netherlands **<br />
Oslo, Norway **<br />
Dortmund, Germany *<br />
Bratislava, Slovakia *<br />
Gothenburg, Sweden *</p>
<p>M [100,000 – 350,000]</p>
<p>Nice, France *****<br />
Heidelberg, Germany *****<br />
Venice, Italy *****<br />
Bern, Switzerland *****<br />
Bruges, Belgium ****<br />
Ghent, Belgium ****<br />
Mulhouse, France ****<br />
Strasbourg, France ****<br />
Potsdam, Germany ****<br />
Parma, Italy ****<br />
Geneva, Switzerland ****<br />
Amiens, France ***<br />
Caen, France ***<br />
Dijon, France ***<br />
Lille, France ***<br />
Nimes, France ***<br />
Ulm, Germany ***<br />
Ferrara, Italy ***<br />
Rimini, Italy ***<br />
Verona, Italy ***<br />
Leiden, Netherlands ***<br />
Bergen, Norway ***<br />
Porto, Portugal ***<br />
Ljubljana, Slovenia ***<br />
Uppsala, Sweden ***<br />
Basel, Switzerland ***<br />
Lausanne, Switzerland ***<br />
Graz, Austria **<br />
Salzburg, Austria **<br />
Besancon, France **<br />
Karlsruhe, Germany **<br />
Mannheim, Germany **<br />
Wurzburg, Germany **<br />
Ravenna, Italy **<br />
Salerno, Italy **<br />
Groningen, Netherlands **<br />
Utrecht, Netherlands **<br />
Gdynia, Poland **<br />
Orebro, Sweden **<br />
Liege, Belgium *<br />
Tampere, Finland *<br />
Ludwigshafen, Germany *<br />
Oldenburg, Germany *<br />
Saarbrucken, Germany *<br />
Enschede, Netherlands *<br />
Tilburg, Netherlands *</p>
<p>S [10,000 – 100,000]</p>
<p>Avignon, France *****<br />
Carcasonne, France *****<br />
Colmar, France *****<br />
Capri, Italy *****<br />
Sintra, Portugal *****<br />
Lucerne, Switzerland *****<br />
Kutna Hora, Czech ****<br />
Hillerod, Denmark ****<br />
Rothenburg, Germany ****<br />
Luxembourg City, Luxembourg ****<br />
Sopot, Poland ****<br />
Cascais, Portugal ****<br />
Segovia, Spain ****<br />
Soller, Spain ****<br />
Toledo, Spain ****<br />
Neuhausen am Rheinfall, Switzerland ****<br />
Andorra la Vella, Andorra ***<br />
Bayeux, France ***<br />
Lourdes, France ***<br />
Baden-Baden, Germany ***<br />
Bamberg, Germany ***<br />
Constance, Germany ***<br />
Pisa, Italy ***<br />
Siena, Italy ***<br />
Delft, Netherlands ***<br />
Aveiro, Portugal ***<br />
Coimbra, Portugal ***<br />
Neuchatel, Switzerland ***<br />
Vevey, Switzerland ***<br />
Carlsbad, Czech **<br />
Beaune, France **<br />
Como, Italy **<br />
Lucca, Italy **<br />
Maastricht, Netherlands **<br />
Malbork, Poland **<br />
Montreux, Switzerland **<br />
Arles, Italy *<br />
Leeuwarden, Netherlands *<br />
La Chaux-de-Fonds, Switzerland *</p>
<p>XS [&lt;10,000]<br />
Hohenschwangau, Germany *****<br />
Monte Carlo, Monaco *****<br />
Flåm, Norway *****<br />
Lauterbrunnen, Switzerland *****<br />
Meiringen, Switzerland *****<br />
Eze, France ****<br />
Positano, Italy ****<br />
Ravello, Italy ****<br />
Vernazza, Italy ****<br />
Giethoorn, Netherlands ****<br />
Divaca, Slovenia ****<br />
Valldemossa, Spain ****<br />
Sankt Moritz, Switzerland ****<br />
Vatican City, Vatican ****<br />
Chenonceaux, France ***<br />
Mont Saint Michel, France ***<br />
Amalfi, Italy ***<br />
Monterosso al Mare, Italy ***<br />
Riomaggiore, Italy ***<br />
Trakai, Lithuania ***<br />
Hindeloopen, Netherlands ***<br />
Batalha, Portugal ***<br />
San Marino, San Marino ***<br />
Interlaken, Switzerland ***<br />
Melk, Austria **<br />
Manarola, Italy **<br />
Vaduz, Liechtenstein **<br />
Sloten, Netherlands **<br />
Buchs, Switzerland *</p>
<p>This rating is based on both objectivity and subjectivity. I did not  include the cities that I have spent too little time to judge them  better.  Enjoy and hopefully this can be useful in planning your next  trip in this magical continent of Europe.</p>
<p>in the train from Groningen &#8211; Utrecht<br />
15 April 2010</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/greenzie"><img class="alignleft size-full wp-image-852" title="Mackenzie Hadi" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/12404_401635590934_619500934_5330923_2544581_n-e1271841958105.jpg" alt="http://www.facebook.com/greenzie" width="55" height="93" /></a></p>
<p>Kontributor</p>
<p><strong>Mackenzie Hadi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/21/mackenzies-rating-of-european-cities/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Website PPI Groningen hadir kembali</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/20/website-ppi-groningen-hadir-kembali/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/20/website-ppi-groningen-hadir-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 01:36:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PPIG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=631</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama sempat menghilang dari dunia maya, website PPI Groningen kembali aktif menyapa para anggota PPI Groningen. Banyaknya kritik dari kawan-kawan disini dan yang hendak datang ke Groningen, membuat Pengurus PPI Groningen menjadi terpanggil untuk menuntaskan janji kami untuk menghidupkan kembali website yang sempat bisu selama 2 tahun lebih ini.
Untuk terus mengaktifkan website ini, maka setiap Laporan Pandangan Mata akan terus diunggah ke website ini. Begitu pula dengan persiapan kegiatan-kegiatan PPI Groningen yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Selain itu pula, profil masyarakat Groningen akan kami ulas agar kawan-kawan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Batik-Day.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-632" title="Batik Day" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Batik-Day-300x291.jpg" alt="" width="300" height="291" /></a><strong>Setelah sekian lama</strong> sempat menghilang dari dunia maya, website PPI Groningen kembali aktif menyapa para anggota PPI Groningen. Banyaknya kritik dari kawan-kawan disini dan yang hendak datang ke Groningen, membuat Pengurus PPI Groningen menjadi terpanggil untuk menuntaskan janji kami untuk menghidupkan kembali website yang sempat bisu selama 2 tahun lebih ini.</p>
<p>Untuk terus mengaktifkan website ini, maka setiap Laporan Pandangan Mata akan terus diunggah ke website ini. Begitu pula dengan persiapan kegiatan-kegiatan PPI Groningen yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Selain itu pula, profil masyarakat Groningen akan kami ulas agar kawan-kawan makin mengenal satu sama lain.</p>
<p>Terima kasih telah berkunjung dan jangan lupa untuk mempromosikan website ini kepada kawan-kawan yang akan datang ke Groningen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/20/website-ppi-groningen-hadir-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laptop dan Cacar Air</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/19/laptop-dan-cacar-air/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/19/laptop-dan-cacar-air/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 16:22:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Gimana sih rasanya terkena cacar air di Belanda dan laptop rusak di negara yang cepat internetnya? Kali ini kami berhasil menyalin salah satu lembaran buku curhat Susanah Agus, warga Groningen dari Jambi yang mengambil program Master of Educational Sciences
23 Maret: Senin Pagi 
“Because the hardware is broken, we’ll send this laptop to Toshiba  service center. It takes 20 working days to return again here. We’ll  notify you by mail to pick your laptop up when it has arrived here,  then.”
Whuaaaa… Aku mesti bisa bertahan di housing tanpa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gimana sih rasanya terkena cacar air di Belanda dan laptop rusak di negara yang cepat internetnya? Kali ini kami berhasil menyalin salah satu lembaran buku curhat Susanah Agus, warga Groningen dari Jambi yang mengambil program Master of Educational Sciences</p>
<p><strong><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/3119262027_4fe08f0707_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-885" title="Laptop crash" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/3119262027_4fe08f0707_m.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a>23 Maret: Senin Pagi </strong></p>
<p>“Because the hardware is broken, we’ll send this laptop to Toshiba  service center. It takes 20 working days to return again here. We’ll  notify you by mail to pick your laptop up when it has arrived here,  then.”</p>
<p>Whuaaaa… Aku mesti bisa bertahan di housing tanpa laptop  selama 1 bulan  bo!   Hidup yang gak menyenangkan tapi mesti kujalani.. Dan mulai dech  rutinitasku Blue Building (BB) – Faculty of Behavioral and Social Sciences  (GMW) ato BB–Universiteit Bibliotheek (UB) demi bab 2 thesis (yang ternyata sampe  hari gini gak kelar-kelar juga  ) … Terkadang BB–Winschoterdiep kalo mo  VOIPan ato webcaman ama belahan jiwa di Jambi sana.</p>
<p><strong>8 April: Kamis sore</strong></p>
<p>Abis webcaman sama suamiku di kamar Hesti. Mo  nangis rasanya ngeliat bercak–bercak merah berair di bawah ketiak anakku, Salsa.  Suamiku kira Salsa terkena alergi kayu “rengas” (kayu khas sumatera yg  bisa bikin alergi kulit sensitif) , tapi rupanya Salsa terkena sejenis  cacar air, herpes istilahnya. Duch, rasanya sediiiiih banget gak ada di  samping Salsa saat dia sakit.</p>
<p>Badan terasa capek banget, jadi mutusin tidur sebentar di kamar Hesti  sebelum pulang. Ealaaah malah kebablasan, terbangun ampir jam 9 malam.  Terasa ada yang sakit di belakang telinga kiri. “Ada bengkak nich di  telinga, mbak. Biasanya itu tanda ada yg sakit dibadan, mbak” kata  Sharah.</p>
<p>Tetap mutusin pulang ke BB malam itu, karna ada yg mo dikerjakan besok  pagi2 di kampus. Penasaran dengan radang di belakang telinga, aku  ngontak mas Adit, dokter sekaligus mahasiswa PhD bidang neuroscience  RUG. Katanya kemungkinan ada virus yg mengganggu kesehatanku, &#8220;Radang  itu sebagai tanda ada yang sakit&#8221; ujarnya. Wuih.. sedikit cemas tapi tetep  positive thinking..barangkali akunya kecapean.</p>
<p><strong>9 Apr</strong><strong>il: Jum’at siang</strong></p>
<p>Mas Sigit dateng bawain laptop dia. Wah bisa  minjam sampe hari minggu euy, jadi gak perlu ke kampus selama 3 hari.  Berhubung mesti nyambung ke internet di housing jadi na minta bantuan  ama mas Joni, IT solution engineer di BB  . Janjian besok pagi bakal  disambangin ke kamar.</p>
<p>Jam 6 sore badanku semakin gak enak. Mutusin tuk berbaring sejenak. Jam 7  pergi ke acara Tadarrus special di Ranonkelstraat … spesial ngerayain  ultah mas Teguh, si tuan rumah. Cuma sanggup bertahan sampe jam 8  lewat, radang di belakang telinga semakin berdenyut. Akhirnya nyerahin  pelaksanaan tadarrus sama ketua DeGromiest, mas Muizz. Mutusin pulang  karena badan semakin gak enak. Jam 10 malam baru sadar kalo timbul satu  lagi radang di belakang telinga sebelah kanan. Whuaaa… apa gerangan  sakitku ini???</p>
<p><strong>10 April: Sabtu</strong></p>
<p>Sepagian itu ngobrol ngalor–ngidul ngetawain muka  maupun punggung yang “kayaknya mo berjerawat” sambil nungguin mas Joni  utak–atik laptop. Jam 12 siang, pas mo siap2 ke tempat mbak Aini di  Feithstraat, baru terlihat ada beberapa bintik2 berair di perut ama  lengan kanan atas. “Whuaaaa… cacar airkah???  Wiken kan huisart gak  praktek !!! Duch mesti gimana nich? Kalo bener cacar air alamat gak bisa  keluar bo.. gimana mo ngerjain thesis????” Panik dech rasanya tapi  tetep mutusin pergi ke Feithstraat , keburu ada janji.</p>
<p>“Ini mah kerjaan virus varicella.. positif CACAR AIR. Biasanya akan  demam nich. Tapi tenang aja, asal banyak istirahat, makan teratur ama  minum vitamin cacarnya akan sembuh sendiri kok.” Kata mbak Aini. Meski  kepala “ajep–ajep” tetep siapin ini–itu untuk acara spesial sore itu.  Alhamdulillah acara na sukses.</p>
<p>Meski ditawarin nginep di Feithstraat tapi aku mutusin nginep di Winschoterdiep  saja, soale berasa dingin banget di kamar mbak Aini, ampe menggigil bo   . Sampe di Winschoterdiep langsung deh isolasi diri di kamar Hesti. Berhubung  Ida belum pernah kena cacar, jadinya gak boleh ketemu sama aku. “Mbak  istirahat aja di sini sampe sembuh, Hesti bisa tidur di kamar Ida selama  mbak dirawat disini. Gak usah mikir apa–apa. Kami siapin makan mbak  sampe sehat.” wanti–wanti Hesti ama Sharah.</p>
<p>Via telp mas Adit nyaranin apa yg mesti kulakukan menjelang ketemu  dokter; minum parasetamol kalo demam. Yah, demam menyerang malam itu  tapi berkat parasetamol dan minum bergelas–gelas air, demam mereda esok  paginya, meskipun semalaman itu berkali–kali ke toilet</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/24614_382855289579_785839579_3956229_7671083_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-882" title="Cacar Air" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/24614_382855289579_785839579_3956229_7671083_n-300x225.jpg" alt="" width="252" height="189" /></a><strong>11 April: Minggu</strong></p>
<p>Memutuskan sms papa Salsa, kakak dan adikku di Jambi.  Mereka sebaiknya tau kalo aku sakit, tapi tetep wanti2 jangan kasih tau  Bapak dan Ibu, ortuku. Adikku bales sms: “Hahaha.. ibu dan anak yang  kompak. Salsa jugo kayaknyo herpes tuch, sodaronyo cacar. Cepet sembuh  yo, yuk”.  Baca sms itu aku jadi kepikiran, inikah contoh kontak batin ibu–anak?  Salsaku baru mo sembuh dari herpes, akunya berjuang mengatasi cacar air  disini.</p>
<p><strong>12 April: Senin pagi</strong></p>
<p>Senyum2 sendiri meliat cacar memenuhi wajah. Badan  terasa agak enakan meski kepala masih cenat–cenut. “Mesti difoto neeh..  biar ada kenangan2 cacar di Belanda” .. meski sakit tapi tetep narsis.</p>
<p>Nelpon ke huisart, bikin janji ketemu, sambil hati berharap bisa ketemu  hari ini juga. Berhubung cacar, bisa ketemu huisart hari itu juga. Tapi  jam 9:50 pagi. Whuaaa.. 20 menit lagi bo.. Buru–buru dech ganti baju  (untung udah mandi jam 8 tadi  ).</p>
<p>“Ke UMCG Cuma 10 menit sepedaan kok dari sini, mbak, ikutin aja arah  ini, mbak sampe kok, lokasi praktek pas di belakang UMCG. Maaf aku gak  bisa anter, gak pa pa kan?” wanti2 Hesti.</p>
<p>“Gak pa pa, tempat prakteknya yg ada patung kuda itu kan?” tanyaku  (hihihi.. soale cuma 1 kali ke sana, pas ngedaftar 7 bulan lalu  .)</p>
<p>Tapi aku lupa kalo patung kuda itu adanya di dalam ruangan tunggu,  jadinya pas tiba di belakang UMCG..aku na sibuk nyari patung kuda.  Setelah beberapa saat baru inget kalo patung na di dalam ruang tunggu..  Alamaakkk.. udah muter2 nyari patungnya. Pas tiba di ruang tunggu udah  jam 9:51. Whuaaa.. telat bo.. mana mesti antri neeh buat daftar. Lima  menit kemudian baru bisa daftar sambil minta maaf telat akibat sedikit  tersesat (sambil pasang muka memelas euy). Barangkali kasian liat muka  bertutul2 cacar, aku na bisa langsung ketemu huisart.</p>
<p>Tapi bener kata orang–orang. Dokter disini jarang banget mo kasih obat.  “You only need to have lots of rest and eat nutritious meals. No need  antivirus medicine. Let your body immune struggle the virus. I only  prescribe you antihistamine for itchy. No need for food supplement, just  eat enough fruit and vegetables.” Cuma utk dengerin itu aja, melayang  dech beberapa euro. Sakit emang mahal …Hihihi   …</p>
<p>Merasa udah mendingan dan kadung rindu sama kamar sendiri, aku mutusin  pulang ke BB sore hari, meski Hesti dan Sharah meminta tinggal di sana  sampe benar2 sembuh. Kebetulan pak Makmur menjenguk, jadi sekalian  pulang bareng beliau dech. “Bye-bye Winschoterdiep. Thanks for wholehearted  care I’ve got during my critical phase of chickenpox.”</p>
<p><strong>19 April: Senin pagi</strong></p>
<p>Wah.. udah bener-bener enak badanku, saatnya  kembali ke rutinitas BB-GMW ampe laptopku selesai diservis. Sambil  memandang wajahku di cermin, “Friends in need are friends indeed.”</p>
<p>“Thesis…. Aku dataaaaaaaaaaaaaaaaaaannnng. ”</p>
<p>****</p>
<p>Thanks to all of my friends for your wishes to my health.<br />
Special thanks for Hesti , Sharah, &amp; Ida (for the wholehearted care  &amp; love), Mas Adit (for medical advice), mbak Aini (for medical  spirit), pak Makmur, mas Joni  &amp; mas Sigit (for generous help).</p>
<div>
<p><a href="http://www.facebook.com/estito?v=wall&amp;ref=ts#!/profile.php?id=785839579&amp;ref=ts"><img class="alignleft size-full wp-image-884" title="Susanah Agus" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-22-e1271868771231.png" alt="" width="60" height="55" /></a>Kontributor</p>
</div>
<div>
<p><strong>Susanah Agus</strong></p>
</div>
<address></address>
<address>Foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/avlxyz/3119262027/sizes/s/">Avlxyz</a> dengan lisensi Creative Commons; dan koleksi Susanah Agus<br />
</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/19/laptop-dan-cacar-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Groens Cup 2010</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/14/groenscup2010/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/14/groenscup2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 11:31:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Humas / PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Groens Cup]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen (PPI Groningen) kembali menyelenggarakan kegiatan  Groenscup. Groenscup adalah  acara olahraga tahunan antar pelajar Indonesia di Belanda yg telah berjalan sejak tahun 2002. Acara ini akan diselenggarakan pada:
Sabtu &#38; Minggu
22-23 Mei 2010
ACLO Sports Center, Blauwborgje 16, 9747 AC Groningen
Pendaftaran Groenscup 2010  dibuka pada tanggal 22 Maret s.d. 11 April 2010 dan dilakukan secara on line. Untuk pendaftaran dan informasi lainnya, silahkan mengunjungi website Groenscup 2010 di  www.groenscup.nl
atau dapat mengontak :
info@groenscup.nl
HP 0619909770 atas nama Nur Alia Oktaviani
HP 0619909771 atas nama Lia Atwa
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_520" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Piala-GC-2010.jpg"><img class="size-medium wp-image-520 " title="Piala GC 2010" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Piala-GC-2010-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Piala Cabang GroensCup 2010</p></div>
<p style="text-align: left;">Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen (PPI Groningen) kembali menyelenggarakan kegiatan  Groenscup. Groenscup adalah  acara olahraga tahunan antar pelajar Indonesia di Belanda yg telah berjalan sejak tahun 2002. Acara ini akan diselenggarakan pada:</p>
<p style="text-align: left;">Sabtu &amp; Minggu</p>
<p style="text-align: left;">22-23 Mei 2010</p>
<p style="text-align: left;">ACLO Sports Center, Blauwborgje 16, 9747 AC Groningen<span id="more-517"></span></p>
<p style="text-align: left;">Pendaftaran Groenscup 2010  dibuka pada tanggal 22 Maret s.d. 11 April 2010 dan dilakukan secara on line. Untuk pendaftaran dan informasi lainnya, silahkan mengunjungi website Groenscup 2010 di  <a href="http://www.groenscup.nl/">www.groenscup.nl</a></p>
<p style="text-align: left;">atau dapat mengontak :<br />
info@groenscup.nl<br />
HP 0619909770 atas nama Nur Alia Oktaviani<br />
HP 0619909771 atas nama Lia Atwa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/14/groenscup2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tim Groningen Bukukan Kemenangan di Maastricht</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/14/maastrichtcup2010/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/14/maastrichtcup2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 11:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Humas / PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Maastricht]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[PPI Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[ 
Dari Utara ke Selatan, bersiap raih medali Groenscup
Perhelatan bulu tangkis akbar bagi orang Indonesia kembali digelar di Maastricht 10-11 April silam. Groningen, yang dikenal dengan pelajar Indonesia yang ramai lancar, mengirimkan tidak hanya satu, namun dua kontingen sekaligus.
Menghadapi tim-tim yang memiliki kemampuan lebih superior tidak membuat perwakilan Groningen gentar.
Perlu dicatat bahwa Maastricht Cup kali ini diikuti oleh pebulutangkis yang pernah tampil di ajang Denmark Open Super Series dan Norwegian International Championship.
Adalah Fajar, Sigit / Adji dan Iswandi / Iging di tim A yang menjajal kelihaian Libero, mantan pemain pelatnas ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-512 alignnone" title="Maastricht Cup 2010 - 1" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Maastricht-Cup-2010-1-300x199.jpg" alt="Maastricht Cup 2010 - 1" width="244" height="162" /> <img class="size-medium wp-image-514 alignnone" title="Maastricht Cup 2010 - 2" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Maastricht-Cup-2010-2-300x199.jpg" alt="Maastricht Cup 2010 - 2" width="245" height="163" /></p>
<p>Dari Utara ke Selatan, bersiap raih medali Groenscup</p>
<p>Perhelatan bulu tangkis akbar bagi orang Indonesia kembali digelar di Maastricht 10-11 April silam. Groningen, yang dikenal dengan pelajar Indonesia yang ramai lancar, mengirimkan tidak hanya satu, namun dua kontingen sekaligus.</p>
<p>Menghadapi tim-tim yang memiliki kemampuan lebih superior tidak membuat perwakilan Groningen gentar.<br />
Perlu dicatat bahwa Maastricht Cup kali ini diikuti oleh pebulutangkis yang pernah tampil di ajang Denmark Open Super Series dan Norwegian International Championship.</p>
<p>Adalah Fajar, Sigit / Adji dan Iswandi / Iging di tim A yang menjajal kelihaian Libero, mantan pemain pelatnas dan rekan tanding Peter Gade, dan rekan-rekan dari tim Denmark 4.</p>
<p>Sementara Iswandi Basri, Hendi Hendian, Muhamad Insanu, Wisnu Ardianto, Fanny Lintong, dan Novian Drajat di tim B menjajal lawan dari Masyarakat Bulutangkis Indonesia yang notabene merupakan juara bertahan.</p>
<p>Tak mudah menyerah serta dukungan fans setia terekam di setiap pukulan.<br />
Sempat tertinggal 0-1, tim A berhasil membalikkan keaadan menjadi kemenangan  2-1 atas Maastricht. Bahkan pasangan Sigit/Fajar hanya membutuhkan belasan menit untuk mencatat straight set.</p>
<p>Di tim B, Hendi di luar dugaan berhasil mencuri set pertama melawan tim juara bertahan. Walaupun Heli Mahara dari MBI 1 membalikkan keadaan, kombinasi drop shot dan cross smash menawan Hendi menuai decak kagum.</p>
<p>Pertandingan memanas dan tim B berhasil memaksakan rubber set saat melawan MBI Perjuangan. Tim B terus menunjukkan determinasi tiada tara walau akhirnya terhenti saat melawan Belgia akibat cidera yang dialami Wisnu.</p>
<p>Di grup lain, perjuangan tim A diuji tuntas oleh Libero dkk. Tim Denmark 4 memenangkan pertandingan 3-0 dan kemudian melaju menjadi juara Maastricht Cup tahun 2010.</p>
<p>Sungguh, pertarungan penuh semangat ditunjukkan kedua tim Groningen. Tak kurang dari sembilan pendukung setia terus menemani perjuangan mereka.</p>
<p>Groningen kalah kali ini, namun determinasi serta pengalaman bertanding dengan para juara telah mengasah kemampuan seluruh personil.</p>
<p>Groningen telah bersiap.<br />
Jika tak awas, mereka akan menancapkan taringnya di Groenscup mendatang.</p>
<p>Manajer tim: Pak Makmur,<br />
Personil: Syarif &#8220;Iging&#8221; Riyadi, Fajar Budi Prasetyo, Muhammad Sigit Andhi Rahman, Adji Kusworo, Iswandi Basri, Hendi Hendian, Muhamad Insanu, Wisnu Ardianto, Fanny Lintong, dan Novian Drajat Kuswanto.<br />
Supporter:  Wahono, Lia Atwa, Rachma, Nizar, Silvita, Pak Gany, Hendra, Mba Poppy, dan Mba Tina.</p>
<p>Dokumentasi perjuangan atlet Groningen di Maastricht Cup dapat diakses di <a rel="nofollow" href="http://groups.yahoo.com/group/ppigroningen/photos/album/1717748648/pic/list" target="_blank">album foto  berikut</a>.</p>
<p>Kehebohan tim supporter Groningen dapat disaksikan di <a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/video/video.php?v=1310277710110" target="_blank">video berikut</a>.</p>
<p>Kontributor</p>
<p><strong>Andre Item dan Makmur</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/14/maastrichtcup2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Groningen Goes To Maastricht Cup</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/28/groningen-goes-to-maastricht-cup/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/28/groningen-goes-to-maastricht-cup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 11:34:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Maastricht]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[PPI Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Dear  rekan-rekan PPI Groningen,
Para atlet bulutangkis kita akan berlaga  menghadapi Maastricht Cup 2010, tanggal 10-11 April 2010 nanti.
Kami  mengajak rekan-rekan sekalian untuk memberikan dukungan kepada dua tim  yang akan diberangkatkan.

Informasi selengkapnya tentang Maastricht  Cup 2010 dapat diunduh di sini
Inilah  mereka yang akan membawa nama Groningen:
Manager: Pak Makmur
Tim  A : Syarif Riyadi a.k.a. Iging, M. Sigit Andirahman, Fajar Budi  Prasetyo, Adji Kusworo, Iswandi Basri
Tim B: Hendi Handian Rahmat, Fanny Lintong, Wisnu Ardianto,  Novian Darajat, Muhamad  Insanu.
Mohon dukungan dari kawan-kawan ya!
Foto diambil dari flickr dengan lisensi CreativeCommons
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/159261316_635c73dbe7_m.jpg"><img class="alignleft size-full  wp-image-722" title="159261316_635c73dbe7_m" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/159261316_635c73dbe7_m.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a>Dear  rekan-rekan PPI Groningen,</p>
<p>Para atlet bulutangkis kita akan berlaga  menghadapi Maastricht Cup 2010, tanggal 10-11 April 2010 nanti.<br />
Kami  mengajak rekan-rekan sekalian untuk memberikan dukungan kepada dua tim  yang akan diberangkatkan.</p>
</div>
<p>Informasi selengkapnya tentang Maastricht  Cup 2010 dapat diunduh di <a rel="nofollow" href="http://maastrichtcup.wordpress.com/" target="_blank">sini</a></p>
<p>Inilah  mereka yang akan membawa nama Groningen:<br />
Manager: Pak Makmur<br />
Tim  A : Syarif Riyadi a.k.a. Iging, M. Sigit Andirahman, Fajar Budi  Prasetyo, Adji Kusworo, Iswandi Basri<br />
Tim B: Hendi Handian Rahmat, Fanny Lintong, Wisnu Ardianto,  Novian Darajat, Muhamad  Insanu.</p>
<p>Mohon dukungan dari kawan-kawan ya!</p>
<p><em>Foto diambil dari <a href="http://www.flickr.com/photos/wouterpostma/159261316/">flickr</a> dengan lisensi CreativeCommons</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/28/groningen-goes-to-maastricht-cup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesian Dinner part 2</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/22/indonesian-dinner-part-2/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/22/indonesian-dinner-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 10:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Humas / PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ESN]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sukses menyelenggarakan Indonesian Dinner 29 November 2009 silam, kali ini PPIG bekerjasama dengan ESN mengadakan Indonesian Dinner part 2 kemarin siang di de Smidse. Sebelum hari-H tiket sudah terjual habis di markas ESN sebanyak 48 tiket dan bahkan beberapa masih mencoba untuk membeli tiket on the spot
Para tamu mulai berdatangan mulai pukul 17.00 dan langsung diterima oleh Aditya Hernowo (yang kebetulan hari itu dia juga berulang-tahun), dan setiap tamu dihadiahi dompet batik secara cuma-cuma oleh Adhi Wibawa. Dompet batik ini diterima sangat antusias oleh para tamu internasional yang membayar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0388.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-705" title="Para Penari" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0388-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Setelah sukses menyelenggarakan Indonesian Dinner 29 November 2009 silam, kali ini PPIG bekerjasama dengan ESN mengadakan Indonesian Dinner part 2 kemarin siang di de Smidse. Sebelum hari-H tiket sudah terjual habis di markas ESN sebanyak 48 tiket dan bahkan beberapa masih mencoba untuk membeli tiket on the spot<br />
Para tamu mulai berdatangan mulai pukul 17.00 dan langsung diterima oleh Aditya Hernowo (yang kebetulan hari itu dia juga berulang-tahun), dan setiap tamu dihadiahi dompet batik secara cuma-cuma oleh Adhi Wibawa. Dompet batik ini diterima sangat antusias oleh para tamu internasional yang membayar € 5 untuk acara perpaduan kuliner, budaya dan seni Indonesia ini.<br />
Acara dibuka oleh host kocak Adhi Wibawa yang membuat suasana Indonesian Dinner menjadi lebih hangat dan penuh gelak tawa. Host dari Surabaya ini kemudian mempersilahkan duo penari Cendrawasih, Yuanita Christayanie dan Ratih Kusuma Dewi untuk menampilkan liukan-liukan anggun dan eksotis tari Bali ini. Para tamu tak segan-segan langsung mengeluarkan kamera, camcorder dan ponsel untuk merekam penampilan langsung yang disemarakkan dengan kostum tari pink-kuning serta mahkota ini. Tak sia-sia latihan duo penari itu yang telah dipersiapkan selama dua minggu sebelum hari-H.<br />
Bapak Raymond selaku perwakilan dari KBRI turut mempromosikan program beasiswa bagi mahasiswa/i Internasional yang tertarik untuk kuliah di Indonesia, dan turut mengajak bule-bule ini untuk menghadiri acara Pasar Malam Indonesia yang akan diadakan awal April di Malieveld, Den Haag. Sementara beliau berpresentasi singkat, bule-bule ini juga ditemani oleh bala-bala di tiap-tiap meja.<br />
Merangkak ke acara setelahnya, tim Karo &#8216;Tartar Bintang&#8217; yang dikomandani oleh Mangara Silalahi turut mendapat sambutan meriah dari<br />
para tamu. Tim yang terdiri dari 4 orang ini mempersembahkan 2 lagu awal yang mencengangkan para penonton serta penampilan &#8216;Tari Pembersih Jiwa&#8217;. Tim ini kemudian menemani para tamu yang sambil menikmati hidangan utama pukul 18.30.<br />
<a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0411.jpg"><img class="alignleft size-medium  wp-image-704" title="Para Tamu mengambil makanan" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0411-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tim masak yang dipimpin oleh trio &#8216;Cendol Effect&#8217; yaitu Inez Taniwangsa, Feri Kustanto serta Budi Annisa Sidi, menjamu para bule dengan sajian Ajam Goreng Boemboe Koening (10 kg!) , Kering Tempe (6 papan!) dan Nasi Oedoek (6.5 kg!) yang membuat lidah mereka menari-nari. Siapa yang mengira satu mangkok besar sambal ternyata habis disikat oleh para bule? Mereka juga tak luput untuk memuji masakan Indonesia dan bahkan beberapa dari mereka menanyakan resep sajian yang dipersiapkan mulai dari hari Sabtu ini. Selain trio &#8220;Cendol Effect&#8217; ini, tim konsumsi juga diperkuat oleh Klara Kwantoro, Hesti Suarti dan Eisha Maghfiruha yang turut membantu mengolah resep 4 jam sebelum acara dimulai.<br />
Sajian ditutup dengan Es Cendol yang sempat membuat tangan trio &#8216;Cendol Effect&#8217; gemetaran setelah 2 jam gagal mencoba membuat cendol pada malam Minggu. Dengan bantuan sigap Fanny Lintong, sajian manis bersantan &#8220;ijo-ijo&#8221; ini akhirnya sukses menggoda lidah-lidah para tamu. Semua sajian sore itu juga ditata secara rapi berkat bantuan serving dish oleh Om Binsar dari Toko Semarang.<br />
Tak berhenti di kuliner Indonesia, lagi-lagi para tamu diajak berpartisipasi untuk menari Poco-poco di depan ruangan.Tak ayal beberapa dari mereka antusias untuk belajar kilat tari asal Sulawesi ini. Beberapa dari mereka bahkan kemudian mempraktekkan kembali gerakan &#8220;line dance&#8221; ini seusai acara yang ditutup pukul 19.45.<br />
<a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0447.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-706" title="Panitia Indonesian Dinner" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0447-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Pada acara ini, seluruh tim Indonesian Dinner ini juga tak segan-segan untuk mengenakan kebaya dan baju batik tradisional sebagai upaya promosi kebudayaan Indonesia. Pada bagian penutup acara, panitia membagikan dua door-prizes berupa selendang batik. Acara pun selesai dengan meriah dan panitia langsung sigap membereskan tempat acara.<br />
PPI Groningen mengucapkan terima kasih kepada seluruh kawan yang turut menyukseskan acara Indonesian Dinner part 2 ini serta mohon maaf apabila ada kesalahan serta keterbatasan tiket yang dijual.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/22/indonesian-dinner-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
