<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PPI Groningen</title>
	<atom:link href="http://www.ppigroningen.nl/wp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ppigroningen.nl/wp</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 09:34:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Indonesian Dinner 2012</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2012/02/01/indonesian-dinner-2012/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2012/02/01/indonesian-dinner-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 09:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[On 17th February 2012, the Indonesian Student Association will organize the annual Indonesian Dinner 2012. This year the theme will be &#8220;The heritage and culture of Indonesian food and dance&#8221;
On this event, you can enjoy a complete dinner-set of tasteful Indonesian food while enjoying the beauty of Indonesian art, in form of dancing and singing
Location       :Treslinghuis Groningen, Klaprooslaan 120
Time            : 18.00 &#8211; 20.00
Entrance fee : €10
Come and join us there to enjoy the ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>On 17th February 2012, the Indonesian Student Association will organize the annual Indonesian Dinner 2012. This year the theme will be <em>&#8220;The heritage and culture of Indonesian food and dance&#8221;</em></p>
<p>On this event, you can enjoy a complete dinner-set of tasteful Indonesian food while enjoying the beauty of Indonesian art, in form of dancing and singing</p>
<p>Location       :Treslinghuis Groningen, Klaprooslaan 120<br />
Time            : 18.00 &#8211; 20.00<br />
Entrance fee : €10</p>
<p>Come and join us there to enjoy the true beauty of Indonesian heritage and culture<br />
For further information and ticket reservation, please contact Suryawan at <a href="mailto:antonius_sry@yahoo.com">antonius_sry@yahoo.com</a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/freezenfreeze/6800353315/" title="dinner3 by Black and Saturated, on Flickr"><img src="http://farm8.staticflickr.com/7174/6800353315_b6a6ce8f19.jpg" width="354" height="500" alt="dinner3"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2012/02/01/indonesian-dinner-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tour van Delfzijl, mampukah mereka?</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2011/10/06/tour-van-delfzijl-mampukah-mereka/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2011/10/06/tour-van-delfzijl-mampukah-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 01:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1362</guid>
		<description><![CDATA[
Sabtu, 1 Oktober 2011 pukul 09.00 CET. Cuaca masih dingin saat itu, badan pun masih meronta ingin kembali berbaring di dekapan kasur. Entah apa yang merasuki 13 pemuda-pemudi (paling tidak muda menurut pengakuan mereka) itu untuk bangun pagi dan pergi ke Grotemarkt dengan sepedanya masing-masing. Lebih sulit lagi dimengerti ketika selanjutnya diketahui bahwa mereka akan menempuh perjalanan tidak kurang dari 60 km menuju Delfzijl dengan mengayuh sepeda. Gila!
Mohon dicatat, tidak semua dari orang-orang itu rajin berolahraga sebelumnya. Jangankan 60 km, jarak rumah dan kampus di dalam kota Groningen yang rata-rata ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/316328_10150394708478615_782713614_9918934_1077545906_n.jpg" alt="Tour de Delfzijl" width="500" height="300"/></p>
<p>Sabtu, 1 Oktober 2011 pukul 09.00 CET. Cuaca masih dingin saat itu, badan pun masih meronta ingin kembali berbaring di dekapan kasur. Entah apa yang merasuki 13 pemuda-pemudi (paling tidak muda menurut pengakuan mereka) itu untuk bangun pagi dan pergi ke Grotemarkt dengan sepedanya masing-masing. Lebih sulit lagi dimengerti ketika selanjutnya diketahui bahwa mereka akan menempuh perjalanan tidak kurang dari 60 km menuju Delfzijl dengan mengayuh sepeda. Gila!</p>
<p>Mohon dicatat, tidak semua dari orang-orang itu rajin berolahraga sebelumnya. Jangankan 60 km, jarak rumah dan kampus di dalam kota Groningen yang rata-rata dibawah radius 5 km pun kadang membuat mereka malas. Lagipula tersirat di wajah beberapa dari mereka keraguan. Akankah mereka mampu mengayuh sepeda sejauh itu?</p>
<p>Perjalanan itupun dimulai. Lumayan tepat waktu. Kata lumayan ini pujian bagi mereka orang-orang Indonesia. Mereka memang telat tapi masih dalam batas yang bahkan orang Jepang atau Belanda tulenpun masih dapat memahami.</p>
<p>Dipandu oleh seseorang yang terlihat paling gempal diantara mereka, rombongan itu melaju menuju bagian timur Groningen. Mereka dengan santai bersepeda menuju pemberhentian pertama, Noorddijk. Kawasan pertanian dan peternakan di pinggir kota Groningen, dekat dengan Lewenborg yang menurut legenda “jauh hingga harus menyiapkan paspor menuju kesana”. Disanalah rombongan 13 pemuda-pemudi pemberani ini akan kedatangan 3 pemuda lain yang turut bergabung dalam kaukus petualangan tersebut.</p>
<p>Disana mereka melihat sebuah kincir angin tua dari abad 18 dan tentunya pemandangan alam disekitarnya yang&#8230;. datar. Sebelum tiba di Noordermolen, begitu nama kincir angin tersebut, mereka juga melewati kompleks olahraga Kardinge dan sekaligus area konservasi alam. Disana terdapat sebuah jalan yang sungguh asri, dimana pohon-pohon rapi berbaris menjaga sisi jalan dan seperti bertekad membuat orang-orang terpukau dengan keberadaan mereka. Kalau tidak salah, rasanya tempat ini memang menjadi ‘hotspot’ untuk para pencinta fotografi. Bukan hanya mereka yang hobi mengambil foto, tapi juga untuk fotomodel-fotomodel amatir dan dadakan yang ‘narsis’. Jajaran pohon-pohon yang banyak jumlahnya itu juga mengundang salah satu pemuda yang ikut dalam rombongan untuk menyalurkan hasratnya buang air kecil. Semoga pemuda tersebut tidak lupa mengucap ‘permisi’, agar ia tidak diganggu roh penunggu, yang bisa jadi kaukasian (baca: bule).</p>
<p>Pukul 10.30, matahari mulai tancap gas mengeluarkan daya dan upayanya menghangatkan bumi. Ia seakan belum rela apabila musim panas harus diganti oleh musim gugur. Saat itulah rombongan ini tiba di depan salah satu penanda batas kota Groningen. Penanda batas tersebut merupakan sebuah karya seni seorang bernama William Forsythe di tahun 1949 berupa deretan pohon-pohon yang tumbuh melengkung menghadap ke arah yang sama. Unik, dan sungguh menarik. Rasanya mudah untuk yakin  bila menganggap bahwa sebagian besar dari rombongan itu tidak tahu mengenai keberadaan penanda batas kota Groningen sebelumnya. ‘Kromme bomen’ ini adalah salah satu dari sembilan penanda batas yang masing-masing mewakili huruf-huruf dalam kata ‘CRUONINGA’, nama kota kuno jaman Romawi yang menjadi asal muasal nama Groningen.</p>
<p>Rombongan itu mulai berjalan menjauh meninggalkan hiruk pikuk kota Groningen. Gantinya, pemandangan lahan pertanian mulai nampak dan rumah-rumah penduduk mulai jarang terlihat. Mereka menyusuri jalan khusus sepeda membentuk rangkaian sepeda paling panjang di jalur tersebut hari itu. Rasanya mudah membuat penduduk atau pengendara mobil untuk menoleh pada kelompok itu.</p>
<p>Saat jarum panjang berusaha mencapai angka 6 dan jarum pendek dengan santai bergerak menuju angka 11, mereka tiba di kota kecil bernama Ten Boer. Disana mereka melihat dua buah kincir angin berdiri berurutan dari yang kecil hingga yang lebih besar. Dari papan yang terpasang di dekatnya, mereka tahu bahwa yang besar bernama ‘Widde Meuln’ dan yang kecil dipanggil ‘de Bovenrijge’ oleh penduduk sekitar. Berkat jasa Pak Archi, sahabat istimewa PPI Groningen yang turut dalam rombongan itu, mereka semua dapat mendengarkan penjelasan si juru kunci kincir angin. Jangan berpikiran mistis, juru kunci disini benar-benar patuh secara denotatif mewakili orang yang memegang kunci kincir angin. Ia menjelaskan mengenai cara kerja kincir angin, dan fakta-fakta lain yang membuat rombongan tercengang dan sedikit memaklumi kenapa Belanda bisa menjajah Indonesia. Mereka sadar bahwa kincir angin bukan hanya soal cinderamata dari Belanda, tapi benda yang menunjukkan bagaimana orang-orang Belanda berjuang dan berinovasi menghadapi kejammnya alam mereka. Tahukah kalian bahwa kincir angin bisa dengan mudah dipindah-pindahkan, dan dengan gampang di putar arahnya sesuai arah angin? Yang jelas, rombongan itu kini sudah mengetahui caranya.</p>
<p>Penjelasan mengenai kincir angin ini memang diluar rencana. Waktupun sudah menunjukkan betapa terlambatnya mereka dari jadwal. Berbekal semangat dan mungkin juga harapan bahwa bila mereka bisa cepat sampai Delfzijl mereka dapat segera makan siang, rombongan bergerak melaju dengan kecepatan yang sudah ditambah. Belum nampak tanda-tanda letih pada wajah mereka, bahkan ada optimisme yang mulai terpancar bahwa mereka bisa menyelesaikan perjalanan ini. Bahkan ketika mereka mendapat informasi bahwa sesungguhnya mereka akan menempuh jarak lebih jauh yang mereka ketahui saat itu. Tapi sungguh itu bukan penipuan, sebab pemimpin rombongan hanya tidak ingin menginformasikan jarak yang lebih jauh yang bisa membuat minat pemuda-pemudi itu luruh.</p>
<p>Mengejar ketertinggalan waktu, kelompok pesepeda itu langsung menuju kota lain. Mereka kaget karena di tengah perjalanan mereka harus melewati sebagian jalan yang belum selesai dibangun. Pengalaman off-road ini mengharuskan rombongan menuntun sepeda melewati pasir dan lubang-lubang besar. Bukannya kesal, rombongan aneh ini malah tertawa-tawa. Kejutan tersebut telah mewarnai perjalanan mereka menuju Appingedam.</p>
<p>Rombongan tiba di Appingedam pukul dua siang kurang sedikit. Tuntutan perut untuk minta diisi tidak tertahankan lagi. Mereka pun menikmati syahdunya kota Appingedam dengan menyantap makan siang. Ada yang makan bekal yang telah disiapkan, ada yang membeli kibbeling, ada yang menyantap roti, dan bahkan ada yang makan menu wortel mentah. Apapun makanannya asal membuat perut mereka kenyang. Mereka berkeliling sedikit di Appingedam. Melihat gereja tua yang bangunannya miring, rumah-rumah bergaya middle-ages, dan hanging kitchen yang memang terkenal di Appingedam. Ada sebuah patung lucu berbentuk pria gempal dengan hidung mancung yang menjadi objek foto bagi beberapa diantara anggota rombongan. Tanpa disangka seorang penduduk lokal mengenalkan mereka pada orang yang menjadi model patung tersebut. Penilaian mereka saat itu, 99% mirip!</p>
<p>Appingedam terletak sangat dekat dengan Delfzijl, oleh karenanya dalam waktu singkat mereka tiba di kota tujuan mereka. Tujuan pertama mereka adalah sebuah mesjid Turki, tempat sebagian dari mereka menunaikan ibadah dan sebagian lagi santai-santai meluruskan kaki dan mengistirahatkan pantat. Iya pantat, karena tanpa disadari tidak hanya kaki yang bekerja keras. Pantatpun harus bekerja ekstra keras.</p>
<p>Di mesjid mereka diajak berkeliling mesjid, diceritakan sejarahnya, dan simbol-simbol yang ada disana. Mereka juga dihidangkan pizza dan combro ala Turki. Patra pemuda Turki yang saat itu menjaga mesjid sangat ramah kepada mereka dan tentu membuat mereka kerasan untuk tinggal lebih lama di mesjid, namun mereka harus menyaksikan hal istimewa lain di Delfzijl. Rombongan pun meninggalkan mesjid dan bersepeda sejenak menuju pantai Delfzijl.</p>
<p>Pantainya sangat tenang dan juga indah. Hasrat untuk difoto kembali membuncah. Masing-masing dari mereka sibuk mengabadikan pengalaman mereka. Melihat ke arah laut yang saat itu seperti tanpa batas, tanpa horizon. Disana terlihat mereka beberapa kali membuat foto bersama dengan berbagai gaya bak fotomodel profesional.</p>
<p>Di Delfzijl itu pula rombongan melihat sebuah kincir angin besar bernama Adam. Tentunya nama ini bukan diambil dari nama suami penyanyi dangdut Indonesia. Mereka kembali berfoto bersama sebelum harus pulang karena matahari yang tadi begitu menyengat sudah memutuskan untuk pergi tidur. Rombongan itu pun bersiap-siap kembali ke Groningen. Mereka memantapkan perbekalan, dan mengumpulkan sisa tenaga dan semangat untuk mengayuh pulang. Jaraknya tidak dekat, padahal tenaganya sudah hampir habis. Tapi mengetahui bahwa mereka akan bersama-sama tidak menyurutkan langkah mereka, apalagi membuat mereka memutuskan pulang naik kereta. Tidak! Tidak pernah terbersit dari satupun anggota rombongan tersebut untuk pulang menggunakan kereta.</p>
<p>Melewati jalan yang sama ketika pergi hanya saja kondisi berbeda 180 derajat. Gelap perlahan menyelimuti jalan mereka. Dingin pun tak mau kalah menambah tantangan bagi rombongan ini. Lebih parah, mereka pun harus menghadapi kabut, yang membuat jarak pandang semakin pendek. Perlahan-lahan mereka tetap mengayuh hingga akhirnya mereka semua tiba kembali di Groningen.</p>
<p>Satu yang tidak mereka sadari bahwa hari itu bertepatan dengan hari nasional Indonesia. Hari Kesaktian Pancasila. Meskipun tidak menyadarinya, mereka telah menunjukkan kesaktian yang sama. Kesaktian yang membuat mereka yang awalnya ragu untuk ikut perjalanan ini tetap nekat untuk ikut. Rombongan membuktikan bahwa mereka mampu melakukan apa yang sebelumnya tidak dapat mereka bayangkan, bahwa mereka mampu melakukan sesuatu melebihi apa yang mereka takutkan (di akhir perjalanan tercatat mereka menempuh 76 km). Apapun yang terjadi hari itu, segala tawa yang terjadi, segala cerita yang hadir, dan peluh yang membasahi tubuh membaur menjadi pengalaman yang tidak biasa. Pengalaman yang mungkin tidak bisa dirasakan semua orang.</p>
<p>Hal yang positif lainnya pun mereka alami. Pertemanan diantara mereka kini semakin tumbuh . Indikasi modernnya adalah banyaknya notifikasi di facebook yang memberitahu bahwa si A kini berteman dengan si B. Dan, walaupun diantara mereka ada yang berjanji tidak akan naik sepeda sementara waktu karena ada bagian personal yang sakit, kepercayaan diri bersepeda mereka kini sudah patut diacungi jempol. All in all, kepercayaan diri untuk melakukan sesuatu yang luar biasa (melampaui sesuatu yang diperkirakan) juga meningkat, semoga itu termasuk dalam menyelesaikan studi atau tantangan kehidupan lainnya.</p>
<p>Sejarah mencatat keenambelas pemuda itu adalah: Martin, Archi, Edo, Rian, Ajie, Arief, Roy, Setyanto, Glenn, Mima, Anita, Habib, Tasha, Rangga, Sonia, dan Jonathan. Semoga lebih banyak lagi pemuda dan pemudi dalam petualangan berikutnya.</p>
<p><a href="https://www.facebook.com/notes/martin-william/tour-van-delfzijl-mampukah-mereka/10150316251982799"><img class="size-full wp-image-1066 alignleft" title="Martin William" src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/281668_10150321264468615_782713614_9318013_505287_n.jpg" alt="" width="67" height="87" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Martin William</strong></p>
<p>Foto: <a href="https://www.facebook.com/martin.william1" target="_blank">Martin William</a><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2011/10/06/tour-van-delfzijl-mampukah-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halal bi Halal Event in Groningen: ‘Back to Indonesia’</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2011/10/06/halal-bi-halal-event-in-groningen-%e2%80%98back-to-indonesia%e2%80%99/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2011/10/06/halal-bi-halal-event-in-groningen-%e2%80%98back-to-indonesia%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 00:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1346</guid>
		<description><![CDATA[
Friday, 23 September 2011, the warm indonesian atmosphere was covering the city of groningen, Netherlands. All of the Indonesian people there came and gather together to attend the so called ‘Halal bihalal’ event. Halal bi halal is social gatherings and is part of Eid ul Fitr (suikerfeest) celebration. Do you know why it’s called Halal bi Halal? Well, the word ‘halal’ is Arabic which literally means ‘acceptable’. Halal bi halal itself means ‘to accept/to forgive each other’ or we called it ’saling menghalalkan’. Interestingly, even though the word is Arabic, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://irfanchemist.files.wordpress.com/2011/09/00.jpg" alt="Halal bi Halal PPIG 2011" width="500" height="199" /></p>
<p>Friday, 23 September 2011, the warm indonesian atmosphere was covering the city of groningen, Netherlands. All of the Indonesian people there came and gather together to attend the so called ‘Halal bihalal’ event. Halal bi halal is social gatherings and is part of Eid ul Fitr (suikerfeest) celebration. Do you know why it’s called Halal bi Halal? Well, the word ‘halal’ is Arabic which literally means ‘acceptable’. Halal bi halal itself means ‘to accept/to forgive each other’ or we called it ’saling menghalalkan’. Interestingly, even though the word is Arabic, the term of ‘halal bi halal’ is only used by Indonesian people.</p>
<p>The Halal bihalal event in groningen was organized by de Groningen Moslem Society (degromiest) and Indonesian student association in Groningen (PPIG). This event was held at the main hall of floreshuis building, in the northern of groningen. As the main theme of this event was ‘Back to Indonesia’, the hall and corridor are decorated in indonesian style. More than 200 people attended this event, they are indonesian moslem communities, indonesian students, and some special guests from Indonesian embassy, also dutch and turkish colleagues.</p>
<p>It started roughly at 6 pm with an opening act, the saman dance performance from Indonesian students. Right after that the MC officially opened the event, followed by an opening speech from the chairman comitee of Halal bihalal and from the chairman of Indonesian student association.</p>
<p>The main event started at 7 pm with the lecture/tausiyah from Ustadz Agus Purwanto. In his speech he said that it is important to show our gratitude to God for his blessing in our life. He also remind us to always get along well with others and keep our ukhuwah (brotherhood).  At 8 pm, all people had dinner together with various Indonesian food: sate, rendang,  opor ayam, lontong, etc. During dinner, people were entertained by dancing and singing performances. The night became more lively with the wonderful operet performance from indonesian students. The event was ended by ‘Silaturahmi or maaf-maafan session’ where all people shake hands and ask each other for forgiveness.</p>
<p>That was a great night for all of us, we really enjoyed it. Thanks to all who contributed to this Halal bihalal event.</p>
<p>—</p>
<p>Groningen, 30 September 2011<br />
(sumber: <a href="http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/10/01/halal-bi-halal-event-in-groningen-back-to-indonesia/">kompasiana</a>)</p>
<p><a href="https://www.facebook.com/irfan.prabu"><img class="size-full wp-image-1066 alignleft" title="Irfan Prabudiansyah" src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash2/163427_1738684463530_1131195310_1933078_4442934_n.jpg" alt="" width="67" height="87" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Irfan Prabudiansyah</strong></p>
<p>Foto oleh: <a href="http://www.facebook.com/surahyo" target="_blank">Surahyo Sumarsono</a><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2011/10/06/halal-bi-halal-event-in-groningen-%e2%80%98back-to-indonesia%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mount Merapi Eruption in 2010</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/12/08/mount-merapi-eruption-in-2010/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/12/08/mount-merapi-eruption-in-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 22:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loveforindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1322</guid>
		<description><![CDATA[The 2010 eruptions of Mount Merapi began in late October 2010 when Mount Merapi in Yogyakarta and Central Java (Indonesia) began an increasingly violent series of eruptions that continued into November. Seismic activity around the volcano increased from mid-September onwards, culminating in repeated outbursts lava and ashes. Large eruption columns formed, causing numerous pyroclastic flows down the heavily populated slopes of the volcano. Merapi&#8217;s eruption was said by authorities to be the largest since the 1870s.
Over 350,000 people were evacuated from the affected area. However, many remained behind or returned ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The <strong>2010 eruptions of Mount Merapi</strong> began in late October 2010 when Mount Merapi in Yogyakarta and Central Java (Indonesia) began an increasingly violent series of eruptions that continued into November. Seismic activity around the volcano increased from mid-September onwards, culminating in repeated outbursts lava and ashes. Large eruption columns formed, causing numerous pyroclastic flows down the heavily populated slopes of the volcano. Merapi&#8217;s eruption was said by authorities to be the largest since the 1870s.</p>
<p>Over 350,000 people were evacuated from the affected area. However, many remained behind or returned to their homes while the eruptions were continuing. 353 people were killed during the eruptions, many as a result of pyroclastic flows. The ash plumes from the volcano also caused major disruption to aviation across Java.</p>
<p>The mountain continued to erupt until 30 November 2010. On 3 December 2010 the official alert status was reduced to level 3, from level 4, as the eruptive activity had subsided.</p>
<p><strong>Chronology of eruptive events</strong></p>
<p><strong>Monday, 25 October</strong></p>
<p>Merapi erupted three times on Monday afternoon spewing lava down its southern and south-eastern slopes. Three major eruptions were recorded at 14:04, 14:24 and 15:15 local time.</p>
<h4>Tuesday, 26 October</h4>
<p>The eruptions on Tuesday started at 17:02. By 18:54 pyroclastic activity had begun to subside following 12 eruption-associated events being recorded by CVGHM (the Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation) monitors. The first fatalities occurred on this day.</p>
<h4>Friday, 29 October</h4>
<p>On Friday eruptive activity included lava ejection with hot ash clouds reported to be flowing 3 kilometres (1.9 mi) down the slopes of the mountain and lasting four to nine minutes. Ash falls reached as far as the Central Java town of Magelang.</p>
<h4>Saturday, 30 October</h4>
<p>By early on the morning of Saturday 30 October the volcano was erupting again. The eruptions were louder and stronger than those of 26 October. Ash from the eruptions on 30 October fell more than 30 kilometres away and now included ash falls upon the city of Yogyakarta. A pyroclastic river flowed from Merapi again on 30 October 2010 at 00:35. A pyroclastic flow headed toward Gendol River, Kuning River, Krasak River, and Boyong River. This was then followed by an explosion from Merapi resulting in a two kilometer vertical high fire ball rising from the top of the mountain . This eruption caused raining sand to fall on areas to a radius of up to 10 kilometres from the volcano.</p>
<h4>Monday, 1 November</h4>
<p>From the previous eruption, Crisis Center MOH reported 42 people died, 103 people have been admitted to several health facilities with respiratory difficulties and burn injuries. reported the number of displaced persons numbered up to 70,143.</p>
<h4>Tuesday, 2 November</h4>
<p>On 2 November several airlines including Garuda, AirAsia and Silkair with international flights to both Yogyakarta and Solo were either suspended or re-routed due to the eruptive activity.</p>
<h4>Wednesday, 3 November</h4>
<p>On 3 November heat clouds travelled up to 10 kilometres away from the eruption, forcing the government to evacuate people from within the refugee camps set up earlier to accommodate those already dislocated by the volcano. This was the first time that the eruption has continued for more than an hour, so it was decided to move the shelters to 15 kilometres away from the summit.</p>
<h4>Thursday, 4 November</h4>
<p>Heavy rain during the night of 3–4 November triggered lahars with mixtures of water and rock debris cascading down the Kuning, Gendol, Woro, Boyong, Krasak and Opak rivers on the slopes of the volcano. A bridge was destroyed and riverbanks damaged. The eruption at 05:55 was reported as being five times stronger that the initial eruption on 26 October 2010.</p>
<h4>Friday, 5 November</h4>
<p>Merapi erupted strongly early Friday morning. Volcanic ash fell at Cangkringan district and its surroundings 10 kilometres from the crater. Due to continuous large eruptions, the BNPB (Indonesian Disaster Management Office) extended the safety zone to a radius of 20 kilometres and Yogyakarta&#8217;s airport was closed again for 3 hours in the morning. Residents who were within 15 kilometres of the summit were asked to leave and seek a safer place. Volcanologists reported the eruptions on Friday 5 November to be the biggest since the 1870s and officials announced by loudspeaker that the mountain&#8217;s danger zone had been expanded to 20 kilometres from the crater.</p>
<h4>Sunday, 7 November</h4>
<p>At least 135 people had died on its slopes over the previous two weeks, and authorities were still struggling on Sunday to help those injured from Friday’s massive eruption. Police stationed on the slopes complained that they were having considerable difficulties stopping people entering the exclusion zone and putting their lives at risk on the mountains slopes.</p>
<h4>Tuesday, 9 November</h4>
<p>The eruption that began on Friday continued for another day with less intensity as more bodies were retrieved from villages destroyed by pyroclastic flows.</p>
<p>On 9 November BNPB announced that they considered the eruptive activities of 2010 to have exceeded the activities of the mountains eruption in 1872. Based on historical records, the eruption of Merapi in 1872 was recorded for 120 hours, while the eruption of 2010 had already presented five days of relentless activity since Thursday 4 November and up until the 8 November had erupted for more than 120 hours or more without pause.</p>
<p>On 9 November a 5.6 magnitude earthquake was felt in Yogyakarta. The quake&#8217;s epicenter was at sea and had no tsunami potential. This type of tectonic earthquake was not sourced from the volcanic activity of Mount Merapi.</p>
<h4>Late November</h4>
<p>In late November Mount Merapi still remained on alert due to threats in the form of hot clouds and lava. The mountain was still erupting on 30 November 2010 and the official alert status remained at level 4.</p>
<h4>December</h4>
<p>On Friday 3 December 2010 the head of the National Disaster Management Agency (BNPB), accompanied by the head of the Centre for Volcanology and Geological Hazard Mitigation made a joint press release that as of 3 December, 2010, at 09.00 am, the authorities lowered the status of Mount Merapi to the level of <em>Caution Alert</em> (Level III).</p>
<h2>Casualties</h2>
<p>On 26 October at least 18 people, including a two-month-old baby, were found dead due to burns and respiratory failure caused by hot ashes from the eruption. Thousands were evacuated within a radius of 10 kilometres around the slopes of the volcano. Wednesday 27 October the death toll had risen to at least 25. The death toll included an elder, Mbah Maridjan (grandfather Marijan), known as the volcano&#8217;s spiritual gatekeeper, who was found dead at his home approximately 4 kilometres from the peak.</p>
<p>The Indonesian National Disaster Mitigation Agency stated at 10:00 on morning of 1 November that 38 people had been killed and 69,533 evacuated since Merapi began erupting on 26 October. The number of people killed by the ongoing eruptions had risen to 275 by 18 November. The National Disaster Management Agency announced the death toll had climbed after more than a dozen victims succumbed to their injuries, the majority of those being from severe burns. Most of the 275 people were reported as being killed by searing gas clouds and from respiratory complications, burns and other illnesses related to the eruptions. Some victims died in road and other accidents during the panicked exodus from the mountain.<sup> </sup>By 22nd November, the death toll had risen to 304 and by 24 November the toll had risen to 324. Syamsul Maarif, head of the National Disaster Mitigation Agency (BNPB) explained that the death toll had risen after a number of victims succumbed to severe burns and more bodies were found on the volcano’s slopes. By 3 December the toll had risen to 353.</p>
<h2>Civil impacts</h2>
<p>Refugee camps that were previously located within a radius of were re-located to secure locations placing an added burden upon logistics and the delivery of basic needs to the people displaced by the evacuations. Acute respiratory infection, hypertension, and headache were affecting Mount Merapi eruption survivors.</p>
<p>On Tuesday, 9 November, Indonesian Red Cross chairman Jusuf Kalla encouraged the development of a disaster preparedness curriculum to assist in dealing with natural disasters &#8220;Harus ada kurikulum kebencanaan&#8221; through an ongoing training and education.</p>
<p>320,000 people were reported to have been evacuated to emergency shelters by 9 November following the widening of the evacuation zone the previous week. Many children remained separated from their parents due to the chaos surrounding the mass exodus of refugees fleeing from the mountain slopes and the refugees were living in cramped temporary shelters after being ordered to evacuate from a 20-kilometre &#8220;danger zone&#8221; around Mount Merapi.</p>
<p>After the end of the emergency response period, the National Disaster Management Agency BNPB planned to begin implementing the reconstruction and rehabilitation programs for Mt Merapi victims. By mid November the eruptions had damaged 867 hectares of forest land on the volcano`s slopes in Sleman District, Yogyakarta, with material losses estimated at Rp33 billion. The damaged areas included the Merapi National Park, community forests and the farms and plantations of the local people. Magelang’s district administration decided to extend the emergency period, scheduled to end on 24 November, for a further period of 2 weeks until 9 December as Merapi’s alert status still remained at the highest level in late November 2010.</p>
<p>Yogyakarta’s Disaster Management Agency reported in late November that there were about 500 reported cases of eruption survivors in Sleman district suffering from minor to severe psychological problems, and about 300 cases in Magelang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/12/08/mount-merapi-eruption-in-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dodental door vulkaan Merapi boven 300</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/11/21/dodental-door-vulkaan-merapi-boven-300/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/11/21/dodental-door-vulkaan-merapi-boven-300/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Nov 2010 19:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loveforindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1278</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Het dodental door de uitbarstingen van de Indonesische vulkaan Merapi is gestegen tot 304. Bedolven onder het as zijn enkele lichamen gevonden. Anderen bezweken in ziekenhuizen aan hun aandoeningen.
Dat heeft de Indonesische rampenbestrijding zondag laten weten.
Ongeveer 400.000 mensen moesten door de vulkaanuitbarsting hun huizen verlaten. De helft van hen is sindsdien teruggekeerd. De internationale luchthaven van Yogyakarta moest vanwege de as bijna twee weken gesloten blijven.
De erupties van de bijna 3000 meter hoge Merapi, een van de actiefste vulkanen ter wereld, begonnen op 26 oktober. Het waren de ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Het dodental door de uitbarstingen van de Indonesische vulkaan Merapi is gestegen tot 304. Bedolven onder het as zijn enkele lichamen gevonden. Anderen bezweken in ziekenhuizen aan hun aandoeningen.</p>
<p>Dat heeft de Indonesische rampenbestrijding zondag laten weten.</p>
<p>Ongeveer 400.000 mensen moesten door de vulkaanuitbarsting hun huizen verlaten. De helft van hen is sindsdien teruggekeerd. De internationale luchthaven van Yogyakarta moest vanwege de as bijna twee weken gesloten blijven.</p>
<p>De erupties van de bijna 3000 meter hoge Merapi, een van de actiefste vulkanen ter wereld, begonnen op 26 oktober. Het waren de zwaarste uitbarstingen in een eeuw tijd in Indonesië.</p>
<p>Bron: www.nu.nl</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/11/21/dodental-door-vulkaan-merapi-boven-300/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hygiene Facility for the Victims of Merapi Eruption</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/11/15/hygiene-facility-at-merapi/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/11/15/hygiene-facility-at-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 16:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loveforindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1267</guid>
		<description><![CDATA[Just to help even though this contribution might not mean a lot. After a few times visiting the refugee spot in Jogja, I felt that there are primary needs of the refugee that has not been fulfilled and has not been served well. Maybe other fellows already published this on Facebook, I just want to repeat in order to make sure that the needs at the refugee spot can be helped through our hands.
First thing that always bother my mind is the facility of MCK –Mandi, Cuci, Kakus-(to shower, to ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1271" class="wp-caption alignnone" style="width: 589px"><a rel="attachment wp-att-1271" href="http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/11/15/hygiene-facility-at-merapi/toilet_merapi/"><img class="size-full wp-image-1271" title="Few emergency toilet facilities in the stadium Maguwoharjo for the huge number of refugees. Any information to solve this problem?" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/11/toilet_merapi.jpg" alt="Few emergency toilet facilities in the stadium Maguwoharjo for the huge number of refugees. Any information to solve this problem?" width="579" height="389" /></a><p class="wp-caption-text">Few emergency toilet facilities in the stadium Maguwoharjo for the huge number of refugees. Any information to solve this problem?</p></div>
<p>Just to help even though this contribution might not mean a lot. After a few times visiting the refugee spot in Jogja, I felt that there are primary needs of the refugee that has not been fulfilled and has not been served well. Maybe other fellows already published this on Facebook, I just want to repeat in order to make sure that the needs at the refugee spot can be helped through our hands.</p>
<p>First thing that always bother my mind is the facility of MCK –Mandi, Cuci, Kakus-(to shower, to wash and toilet) for the refugee. As long as I know, this facilities were minimum so that hundreds/thousands of refugee should queue in a long time. In several places (school, village hall, stadion, etc) already facilitated with MCK, but the number were not balance with the user. Even though the MCK mobile facility were also provided, the number were not significant.</p>
<p>One thing that will become a problem if we would like to help to provide the MCK mobile facility is that the fund and also time consumption in making/preparing such facility. I am truly have not got any idea how to get the facility, maybe fellows who work in the big corporate (company) already had the facility or fund to prepare for that facility. I saw may fellows or my students that have been working in financial, oil, automotive, telecommunication area, please advise to prepare such facility. If the facility is available, please inform me. Or if there are companies that are able to modify container/bus to be an MCK Mobile facility, also please inform.</p>
<p>Second thing is the aid that was related to children. Most of the aid was in the form of foods, clothes but for adult. Not many aid for children needs, such as, milk, food, clothes, even game. One time I observed how happy those children in the refugee spot but they still can play together (at that moment, they play soccer). Even the parents also observed them happily because their children were happy even though they had a disaster.</p>
<p>That is why, I do hope if there are fellows that can help to donate any baby/chil needs such as, milk, food, clothes, games, magazine, or even spare the time to entertain them, like reading a funny story, sing, dance, paint, and any other activities. For adult, maybe with only minimum food they can survive, but for children, they are in their development stage, for sure they need a sufficient nutrition. Besides they also have to bear with psychological trauma, which might influence their development in the future.</p>
<p>Just a simple discourse, but needs serious help from fellows. Please give inputs/suggestions, so that these things could be real. For sure, physical involvement is needed from fellows who have time. If you are interested, please comment to this notes or give a private message directed to my inbox. Any kind of help that we distributed hopefully will give benefits to the refugee. Thank you so much for your time reading and spreading this information.</p>
<p>Regards,<br />
Surahyo (translated by Inez)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/11/15/hygiene-facility-at-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi 17 Agustus 2010</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 10:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[KBRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1140</guid>
		<description><![CDATA[G         una menyambut HUT         ke-65 kemerdekaan         Indonesia,  sekitar 80 mahasiswa Indonesia di Kota Groningen dan para diplomat dari  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kerajaan Belanda menghadiri  diskusi mengenai nasionalisme dan kemerdekaan, Selasa (17/8) waktu  setempat.
Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda Junus Effendi Habibie  dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya nasionalisme dan peran kaum  terpelajar untuk membangun Indonesia.
&#8220;Hendaknya para mahasiswa  di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/44385_438305827744_531282744_5009504_1278109_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-1143 aligncenter" title="Diskusi 17082010 - Diskusi Panel" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/44385_438305827744_531282744_5009504_1278109_n-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a>G         una menyambut HUT         ke-65 kemerdekaan         Indonesia,  sekitar 80 mahasiswa Indonesia di Kota Groningen dan para diplomat dari  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kerajaan Belanda menghadiri  diskusi mengenai nasionalisme dan kemerdekaan, Selasa (17/8) waktu  setempat.</p>
<p>Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda Junus Effendi Habibie  dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya nasionalisme dan peran kaum  terpelajar untuk membangun Indonesia.</p>
<p>&#8220;Hendaknya para mahasiswa  di luar negeri kembali ke Indonesia dan memberikan sumbangsih bagi  negara. Jangan mengkritik Indonesia bila belum pernah ikut membangun,&#8221;  tegasnya kepada peserta yang mengenakan batik dari berbagai penjuru  Nusantara.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/41112_438305912744_531282744_5009515_7312127_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1145" title="Diskusi 17082010 - Dubes Pak Fanny" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/41112_438305912744_531282744_5009515_7312127_n-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a>Lebih lanjut, mantan Dubes RI untuk Inggris dan  Republik Irlandia itu menekankan kepeloporan. &#8220;Sulit jika hanya  mengharapkan peran pemerintah. Para mahasiswa harus menjadi pelopor dan  terjun ke tengah-tengah masyarakat.&#8221;</p>
<p>Diskusi juga membahas  tentang kemerdekaan Indonesia dari berbagai aspek, seperti ekonomi,  kesehatan, governance atau tata kelola, dan sosial.</p>
<p>Dari diskusi  itu tampak Indonesia sangat rapuh  mengingat kemiskinan yang meluas, pembangunan yang tidak merata,  pendidikan yang mahal, perdagangan yang hanya menitikberatkan kepada  sumber daya alam, birokrasi yang korup, dan biaya pengobatan yang mahal.</p>
<p>Menanggapi itu, JE Habibie mengatakan untuk tidak menjadi generasi pesimistis.</p>
<p>&#8220;Jangan pesimistis. Bila kita bergandeng tangan, semua bisa dilakukan.&#8221;</p>
<p>Acara diskusi juga menampilkan ekonom Unversitas Indonesia Didiek  Rachbini melalui telekonferensi. Diskusi ini turut mendapat acungan  jempol dari berbagai pihak, seperti Dubes JE Habibie dan pejabat  Universitas  Groningen.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/45105_438306542744_531282744_5009555_6030692_n-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1142" title="Diskusi 17082010 - Foto bersama" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/45105_438306542744_531282744_5009555_6030692_n-1-300x130.jpg" alt="" width="300" height="130" /></a>&#8220;Saya kagum dengan kebersamaan mahasiswa Indonesia di  sini. Terlepas dari diskusi, mahasiswa yang beragama Islam bisa buka  puasa dibantu mahasiswa beragama Kristen dan Hindu. Hebat!&#8221; cetus Tim  Zwaagstra, kepala hubungan internasional wilayah Asia Universitas  Groningen.</p>
<p>Diskusi tersebut merupakan rangkaian kegiatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Groningen untuk menyambut HUT ke-65 RI.</p>
<p>Pada akhir Juli lalu mereka mengadakan permainan rakyat yang diisi  berbagai lomba layaknya di Tanah Air, semisal lomba makan kerupuk.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/Picture-1.png"><img class="alignleft size-full wp-image-1014" title="Jerome Wirawan" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/Picture-1.png" alt="" width="76" height="83" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Jerome Wirawan</strong></p>
<p>Sumber: <a href="http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/08/19/ArticleHtmls/19_08_2010_018_014.shtml?Mode=0">Media Indonesia</a></p>

<a href='http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/44348_438305237744_531282744_5009472_379112_n/' title='Diskusi 17082010 - Optimis'><img width="150" height="150" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/44348_438305237744_531282744_5009472_379112_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Diskusi 17082010 - Optimis" /></a>
<a href='http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/40492_438306212744_531282744_5009530_2580375_n/' title='Diskusi 17082010 - Dengan MC'><img width="150" height="150" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40492_438306212744_531282744_5009530_2580375_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Diskusi 17082010 - Dengan MC" /></a>
<a href='http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/45105_438306542744_531282744_5009555_6030692_n-1/' title='Diskusi 17082010 - Foto bersama'><img width="150" height="150" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/45105_438306542744_531282744_5009555_6030692_n-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Diskusi 17082010 - Foto bersama" /></a>
<a href='http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/41112_438305912744_531282744_5009515_7312127_n/' title='Diskusi 17082010 - Dubes Pak Fanny'><img width="150" height="150" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/41112_438305912744_531282744_5009515_7312127_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Diskusi 17082010 - Dubes Pak Fanny" /></a>
<a href='http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/40492_438306232744_531282744_5009534_2279325_n/' title='Diskusi 17082010 - Diskusi bertanya'><img width="150" height="150" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40492_438306232744_531282744_5009534_2279325_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Diskusi 17082010 - Diskusi bertanya" /></a>
<a href='http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/45105_438306552744_531282744_5009557_410032_n/' title='Diskusi 17082010 - Makan'><img width="150" height="150" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/45105_438306552744_531282744_5009557_410032_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Diskusi 17082010 - Makan" /></a>
<a href='http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/44385_438305827744_531282744_5009504_1278109_n/' title='Diskusi 17082010 - Diskusi Panel'><img width="150" height="150" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/44385_438305827744_531282744_5009504_1278109_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Diskusi 17082010 - Diskusi Panel" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/18/diskusi-17-agustus-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suara dari Groningen untuk Cita-cita Kemerdekaan Indonesia</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/15/suara-dari-groningen-untuk-cita-cita-kemerdekaan-indonesia/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/15/suara-dari-groningen-untuk-cita-cita-kemerdekaan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 11:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PPIG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[KBRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1086</guid>
		<description><![CDATA[
Sebentar lagi kan 17 Agustus nih. Kalo ada yang lupa, 17 Agustus 1945 itu hari di mana bangsa kita menyatakan, memproklamasikan kepada dunia bahwa kita ini bangsa yang merdeka, bangsa yang tidak lagi dan tidak ingin lagi dijajah oleh siapapun. Konsekuensi dari pernyataan tersebut pada masa itu adalah, bangsa Indonesia, dengan segala upaya, harus membuat Jepang, Belanda, dan roommate-nya, Inggris, angkat kaki dari Indonesia. Tidak ada alasan untuk menunggu-nunggu suatu saat nanti Belanda akan melepaskan Indonesia, kita sudah menyatakan kita merdeka, kita harus meraih kemerdekaan itu dan membuktikan kepada dunia! ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/2818682048_a498466a75.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1087" title="Bendera" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/2818682048_a498466a75-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Sebentar lagi kan 17 Agustus nih. Kalo ada yang lupa, 17 Agustus 1945 itu hari di mana bangsa kita menyatakan, memproklamasikan kepada dunia bahwa kita ini bangsa yang merdeka, bangsa yang tidak lagi dan tidak ingin lagi dijajah oleh siapapun. Konsekuensi dari pernyataan tersebut pada masa itu adalah, bangsa Indonesia, dengan segala upaya, harus membuat Jepang, Belanda, dan roommate-nya, Inggris, angkat kaki dari Indonesia. Tidak ada alasan untuk menunggu-nunggu suatu saat nanti Belanda akan melepaskan Indonesia, kita sudah menyatakan kita merdeka, kita harus meraih kemerdekaan itu dan membuktikan kepada dunia! Empat tahun Indonesia menghadapi serangan &#8216;full power&#8217; dan &#8216;full arsenal&#8217; dari Belanda dan Inggris. Apa yang kita punya saat itu? Senjata-senjata kita relatif insignifikan dibandingkan kekuatan musuh. Tapi dengan semangat dan dedikasi kolektif, di bawah pimpinan para panglima yang tangguh, seperti Pak Soedirman dan Bung Tomo, akhirnya kita sanggup juga membuat musuh angkat kaki dari Indonesia. Sekedar untuk mengetahui bagaimana bergolaknya semangat juang saat ini, teman-teman bisa meng-klik </span><a href="http://www.youtube.com/watch?v=Ua0uhXGsEqc"><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">tautan ini</span></a><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;"> yang berisi pidato Bung Tomo.</span></p>
<div>
<p><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Nah, saat ini, 65 tahun sudah berlalu dari masa perjuangan itu. Banyak juga saudara-saudara kita yang masih bergulat dengan sulitnya hidup akibat kemiskinan, kebodohan, dan keterpencilan. Begitu banyak suara ketidakpuasan terhadap kondisi saat ini, terutama atas keadaan ekonomi dan pemerintahan. Selain itu makin banyak aksi unjuk rasa turun ke jalan yang kadang diiringi kekerasan. Mereka yang turun ke jalan sebagian beralasan karena di &#8216;rumah&#8217; (baca: perwakilan rakyat) sudah tidak ada yang bisa diharap. Lalu, apa makna dari kemerdekaan yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pendahulu kita?</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Di sisi lain, banyak juga dari kita yang sudah bisa menikmati hidup yang bebas dengan nyaman, bisa sekolah bahkan sampai di Belanda sini. Kami optimistis bahwa teman-teman sekalian punya keinginan yang besar bagi Indonesia untuk maju. Kami yakin teman-teman sekalian pasti punya nasionalisme yang tidak bisa diremehkan. Kami yakin bahwa saat bendera merah putih berkibar saat Groenscup 2010 dan sebelumnya, saat Indonesia Raya dinyanyikan, ada suatu rasa kebanggaan yang berdesir dalam dada sebagai bangsa Indonesia. </span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Kali ini, PPI Groningen dan KBRI Den Haag, menawarkan kesempatan kepada kita semua untuk lebih &#8216;menyatakan&#8217; rasa cinta kepada Indonesia, dengan cara bertukar pikiran untuk mencapai suatu sumbangan pikiran yang cerdas bagi negara kita. Kita memang tidak berada di level eksekutif pemerintahan untuk bisa langsung menentukan kebijakan ini dan itu, tapi setidaknya kita punya hak untuk menyampaikan pemikiran kita. </span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Karena itu, mari hadirilah beramai-ramai diskusi ilmiah dengan judul </span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Suara dari Groningen Untuk Cita-cita Kemerdekaan Indonesia: Menilik Kembali Nasionalisme dan Pembangunan untuk Kesejahteraan.</span></p>
</div>
<div>
<p><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Diskusi ini akan diselenggarakan pada: </span></span></span></p>
<p><span><em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Hari</span></span></span><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;"> </span></span></span><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">: Selasa, 17 Agustus 2010</span></span></span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Waktu</span></span></span><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;"> </span></span></span><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">: 16.30 &#8211; 22.00 CET</span></span></span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Tempat : Diumumkan kemudian</span></span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Narasumber</span></span></span><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;"> </span></span></span><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">: </span></span></span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">1. Prof. Dr. Didik J. Rachbini : </span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Dinamika strategi dan pilihan pendekatan pembangunan </span></span></span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">2. Bpk. J.E. Habibie : </span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Nasionalisme dulu, kini dan masa mendatang</span></span></span></p>
<p></em></span><span><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;"><em> </em></span></span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Dan jangan lupa, acara akan dilanjutkan melepas dahaga dan lapar bersama (baca: buka puasa) yang pasti akan makin menyenangkan bila makin banyak yang datang. Selain itu, demi menonjolkan identitas kebangsaan, kami menghimbau rekan sekalian untuk mengenakan batik (bila ada). Silakan mengisi daftar hadir yang bisa diklik di <a href="http://groups.yahoo.com/group/ppigroningen/database?method=reportRows&amp;tbl=11">tautan ini</a>.</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Jadi, luangkanlah waktu Anda untuk hadir, dan mari bersama bertukar pikir demi Indonesia yang lebih baik. Merdeka!</span><br />
<span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;">Foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/thepopism/2818682048/sizes/m/" target="_blank">thepopism</a><br />
</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-family: 'trebuchet ms',sans-serif;"><br />
</span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/15/suara-dari-groningen-untuk-cita-cita-kemerdekaan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISC 4: Melintasi Perkebunan Apel di Applebergen</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/08/isc-4-melintasi-perkebunan-apel-di-applebergen/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/08/isc-4-melintasi-perkebunan-apel-di-applebergen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 16:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1099</guid>
		<description><![CDATA[
45 menit menjelang start ISC-4 dan mendung masih menggelayut di langit Lewenborg. Bismillah, setelah beberapa saat Nina mengecek perlengkapan kameranya, kami meluncur ke tempat start di kantor VVV Grotemarkt. Alhamdulillah, sesampai disana cuaca semakin cerah, membuat kami harus mengemas kembali jaket yang kami pakai. Satu persatu personel ISC mulai muncul; Pak Adji dan kemudian Aster. Dan setelah jarum Martini tower menunjukkan 15.45, berempat kami mulai mengayuh sepeda ke arah selatan Groningen. Kami balik rute yg direncakan semula, bukannya lewat Hornsemeer dulu akan tetapi menyisir pinggir timur dari rute ; menuju ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39803_1483173893128_1647293262_1179385_7623816_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1118" title="ISC 4 Anggur" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39803_1483173893128_1647293262_1179385_7623816_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">45 menit menjelang start ISC-4 dan mendung masih menggelayut di langit Lewenborg. Bismillah, setelah beberapa saat Nina mengecek perlengkapan kameranya, kami meluncur ke tempat start di kantor VVV Grotemarkt. Alhamdulillah, sesampai disana cuaca semakin cerah, membuat kami harus mengemas kembali jaket yang kami pakai. Satu persatu personel ISC mulai muncul; Pak Adji dan kemudian Aster. Dan setelah jarum Martini tower menunjukkan 15.45, berempat kami mulai mengayuh sepeda ke arah selatan Groningen. Kami balik rute yg direncakan semula, bukannya lewat Hornsemeer dulu akan tetapi menyisir pinggir timur dari rute ; menuju Appelbergen hingga Zuidlaren baru nanti kembalinya Hornsemeer.</p>
<div style="text-align: justify;">
<p>Ruas Helperzoom dan Kerklaan sepertinya memang jalur bagi para kommuter dari Haren. Jalanan teduh dan tidak ramai kendaraan bermotor merupakan jalur yg sempurna tuk dilewati tiap hari kerja. Dan belum 1 km menyusuri Helperzoom, kita sudah disuguhi dengan bau yg berbeda. Bau tanah basah dan segarnya pepohonan. Pesona sepetak kebun anggur bertuliskan biologisch/organik persis di samping kanan jalan tak kuasa kami tolak. Memaksa kami tuk berhenti dan sejenak mengabadikan buah buah kecil hijau yg hampir masak. Hal yg luar biasa bagi kami khususnya yg selama ini hanya tahu mengkonsumsi anggur tanpa pernah liat langsung di pohonnya.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40046_1483181133309_1647293262_1179409_2654657_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1115" title="ISC 4 Narrow biketrack" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40046_1483181133309_1647293262_1179409_2654657_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Selanjutnya, memasuki Haren kami dibawa menyusuri fietspad yang memang sengaja dibuat melewati wilayah hijau kota Haren. Tidak banyak mobil yang kami temui, tp justru para tua dan muda yang sedang jogging dan bersepeda. Setelah melintasi rel tidak jauh dari stasiun Haren dan setelah dengan was was mencoba berfoto di tengah rel, kami sempat ragu untuk terus karena jalan aspal sekarang berubah menjadi jalan tanah. Akan tetapi kemudian beberapa rombongan pesepeda melintas dari arah depan kami. Saya jd ingat, memang ada satu ruas jalan yang tidak muncul di google maps kalo kita klik map, tapi klo kita ganti ke versi satelite dan di zoom in akan terlihat samar samar jalan lurus diantara pepohonan di hutan. Ternyata kami sudah memasuki kawasan Applebergen, &#8216;gunungnya&#8217; provincie Groningen.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Pohon pohon di Applebergen lumayan bervariasi dan terlihat lumayan tua, dilihat dari volumenya dan tumbuhan merambat yang tumbuh sepanjang batangnya:jadi ingat Barotan ketika di Sulawesi. Sejuk nian melewati pepohonan ini. Terasa sekali kesan offroadnya dengan jalan tanah dan tapak2 kuda di atasnya. Dan tepat di depan bungalow applebergen, kami melihat papan penunjuk sebuah monumen. kami menyoba mencarinya tapi tidak ketemu. akan tetapi kami justru menemukan di tengah hutan di sebuah jalan setapak, papan penunjuk dengan satu panah menunjuk ke utara bertuliskan Pieterburen, satunya menunjuk ke selatan bertuliskan Pietersberg. Owh..inilah Pieterpad yang terkenal itu. Pak Adji menjelaskan ini adalah jalur trekking/berjalan kaki sepanjang 485 km dari Pieterburen di utara hingga puncak Saint peter di Maastricht.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39499_1483187973480_1647293262_1179429_1544662_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1116" title="ISC 4 Countryside" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39499_1483187973480_1647293262_1179429_1544662_n-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Keluar dari Applebergen, sudah terdapat jalan aspal kasar untuk fietspad tetapi tetap jalan tanah untuk mobil. Di kanan  kiri beberapa kami menemukan tempat kemping yg lg ramai dikunjungi. Memasuki desa petani Noordlaren, terlihat rumah dengan tanah yg luas untuk menggembalakan kuda, kambing, sapi dan beberapa petak kebun jagung serta sayuran. Terkesan mode self sustanance msh menghiasi kehidupan masyarakat disini. Mode hidup berusaha sebisa mungkin mandiri khususnya tuk kebutuhan pokok sehari hari. Aster menyempatkan membeli madu di sebuah kios kejujuran bertuliskan &#8220;Honing te koop&#8221; di pinggir jalan. Dengan memasukkan ke celengan sebesar 2 euro per botolnya kita bs memilih beragam madu dari bunga yg berbeda. Di desa ini pula terletak salah satu situs megalitikum eropa. Memasuki tengah desa, akan terlihat papan penunjuk mengarah ke barat bertuliskan Hunebed, kuburan megalitikum. Hanya sekitar 100 meter keluar dari desa, di tengah padang gandum dan pepohonan besar kita bs menemukan batu batu besar ditata sedemikian rupa seperti bifak ato tenda darurat. Beberapa batu berfungsi sebagai fondasi dan sebuah batu besar diletakkan di atasnya seakan berfungsi sebagai atap. Sungguh luar biasa membayangkan bagaimana orang dulu bisa sampai punya ide seperti ini. sempat terfikir apakah memang ini penanda sebuah kuburan ato mungkin gaya orang dl main boy boyan. Yg jelas, tipe batunya tdk dpt ditemukan di wilayah Belanda manapun, pastinya dari daerah dengan gunung berapi.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Sejenak melepas lelah, melihat peta lagi, berfoto di ladang gandum dan di kuburan dng tripod modifikasi kadang berupa sepeda, kadang tempat sampah, kadang batu kuburan&#8230;<img src="http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/01.gif" alt="" />. Rasa sejuk dan hangatnya senja terasa sebegai hadiah yang tak terkira. kami berdiskusi apa mau memotong trus mengikuti jalan tanah ini ato kembali ke rute semula tuk menuju Zuidlaren. kami setuju untuk trus sampai selatan di Zuidlaren. Keluar dari kompleks kuburan, ternyata ban saya sedikit gembos. Wah kayaknya terlalu banyak beban nih&#8230;jd terbayang film horor mungkin da yg ikut bonceng ya. lha klo ini kuburannya segede itu, demitnya pastinya gedhe banget. Mm ternyata krn memang bannya sudah mulai gundul dan kurang siap tuk medan offroad yg tadi dilewati.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40492_1483201253812_1647293262_1179452_5089085_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1117" title="ISC 4 Paterswoldsemeer" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40492_1483201253812_1647293262_1179452_5089085_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Keluar dari Noordlaren dan memasuki Midlaren, gementee Tynarloo, kita berbelok kiri ke danau Zuidlardermeer. Lebih luas daripada Hoornsmeer dan Paterswoldemeer. Pavilun paviliun yg sangat bagus, yacht mewah terparkir disana. lumayan ramai dengan para pengunjung yg sedang berlatih windsurfing, cannoeing ato berkumpul di paviliun sambil mengikuti summercamp. Perjalanan berlanjut menyusuri Esweg menuju Zuidlaren. Di spanjang jalan bertebaran ranch dengan kuda terbaiknya diselingi sesekali padang gandum, dan bunga matahari. Sebuah spot indah yg layak tuk diabadikan.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Setelah berkeliling Zuidlaren, sekaligus sedikit tersesat..maklum habis dari hutan langsung masuk kota bingung dengan banyaknya cabang cabang jalan. akhirnya mampu jg kita sampai di ujung barat Zuidlaren, yang mengantar ke jalan pulang. Setengah jalan sudah kita lalui, dan jam sudah menunjukkan angka 8. Kita tinggal kembali menuju lurus ke utara untuk sampai di Groningen. Jalan jalan aspal kasar dan tanah tuk mobil di sela sela pepohonan di hutan, beberapa vila dan perkemahan kembali kami lalui. Memang luar biasa infrastruktur yg sudah dibangun. Jalanan memang sengaja dibuat untuk memotivasi orang bersepeda dan men discourage orang menggunakan mobil melewatinya. ..kecuali mau mabuk darat digoncang di jalanan berlobang.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38552_1483207813976_1647293262_1179472_3790697_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1119" title="ISC 4 Flower field" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38552_1483207813976_1647293262_1179472_3790697_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Memasuki Glimmen kami memutuskan memotong rute. kami memilih mengambil jalan lurus melewati pusat Haren dan melewatkan paterswolde dan hornsemeer. Hari sudah lumayan sore, dan perut mulai tidak kompromi. bukan perjalanan jauh sebenarnya, tetapi dikarenakan banyaknya titik yg tdk mungkin kami lewati tanpa mengambil gambarnya..dengan modelnya tentu saja. Di sepanjang jalan lurus Rijksstraaweg, banyak rumah megah dengan halaman yg indah laksana istana bogor minus kijangnya. Beberapa rumah bertuliskan pusat terapi mental&#8230;beruntung kami tidak perlu sakit mental tuk menikmati indahnya Haren.Rumah rumah megah berganti dengan rumah rumah medium, bernuansa pragmatis dan halaman rapi yg sempit menandakan sebentar lg kami sampai di Groningen.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Akhirnya tim berpisah di sebuah warung dekat harmonie building, sebagian ingin segera pulang untuk menurunkan pakaian dari jemuran, sebagian singgah ke warung untuk menyapa penjualnya <img src="http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/01.gif" alt="" />. Kabar sedih sempat kami dengar, karena barusan segerombolan mahasiswa Indonesia sukses menyantroni warung ini. Beruntung, 2 porsi terakhir hidangan favorit msh tersedia kami, akan tetapi menyisakan kesedihan bagi sepasangan suami istri yg datang dng niat yg sama.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39103_1483195733674_1647293262_1179440_2351098_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1120" title="ISC 4 Big stone" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39103_1483195733674_1647293262_1179440_2351098_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Alhamdulillah, cuaca yg cerah, matahari senja yg hangat, panorama yg mengagumkan, keramahan petani pedesaan Belanda, situs sejarah yg mencengangkan, pengalaman persahabatan yg mengesankan dan tentunya medan yang menantang membuat kami berempat bersyukur krn tidak melewatkan trip ini. Semuanya merupakan buah yg dihadiahkan oleh Tuhan. Dan tentunya kami berharap bukan hanya kenikmatan inderawi yg kami dapatkan, tp kelembutan hati yg membuat kami terus bersyukur atas nikmat yg selalu diberikan. Just a perfect day to start the Ramadan&#8230;</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Happy Ramadan, dan tunggu trip berikutnya dalam edisi ISC ngabuburit ..</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/Afbeelding-3.png"><img class="size-full wp-image-1114 alignleft" title="Muhammad Sigit" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/Afbeelding-3.png" alt="" width="75" height="91" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Muhammad Sigit</strong></p>
<p>Foto: <a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=1179385&amp;id=1647293262&amp;ref=fbx_album#!/album.php?aid=59682&amp;id=1647293262&amp;page=2" target="_blank">Nina A Akrom</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/08/isc-4-melintasi-perkebunan-apel-di-applebergen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISC 2 : Menyapa Anjing Laut di Pieterburen</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/25/isc-2-menyapa-anjing-laut-di-pieterburen/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/25/isc-2-menyapa-anjing-laut-di-pieterburen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 12:06:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1077</guid>
		<description><![CDATA[

Perjalanan di awali pada pukul 09.15 dan diakhiri pukul 15.10, agak  telat awalnya dari yang dijadwalkan karena ada sedikit masalah teknis  dan juga acara briefing dan doa bersama. Seluruh pesertanya sendiri  sudah datang sebelum pukul 09.00 (I really appreciate this, thanks to  all participants). Rute yang diambil adalah Groningen (BB) &#8211; Adorp &#8211;  Sauwerd &#8211; Winsum &#8211; Eenrum &#8211; Pieterburen &#8211; Baflo &#8211; Winsum &#8211; Sauwerd &#8211;  Adorp &#8211; Groningen (BB). Total jarak tempuh adalah 49 km dan laju  rata-rata 12,25 km/jam. Dengan asumsi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38683_1411466119757_1025612056_30937886_6080927_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1091" title="Pieterburen" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38683_1411466119757_1025612056_30937886_6080927_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan di awali pada pukul 09.15 dan diakhiri pukul 15.10, agak  telat awalnya dari yang dijadwalkan karena ada sedikit masalah teknis  dan juga acara briefing dan doa bersama. Seluruh pesertanya sendiri  sudah datang sebelum pukul 09.00 (I really appreciate this, thanks to  all participants). Rute yang diambil adalah Groningen (BB) &#8211; Adorp &#8211;  Sauwerd &#8211; Winsum &#8211; Eenrum &#8211; Pieterburen &#8211; Baflo &#8211; Winsum &#8211; Sauwerd &#8211;  Adorp &#8211; Groningen (BB). Total jarak tempuh adalah 49 km dan laju  rata-rata 12,25 km/jam. Dengan asumsi berat badan 70 kg, energi terpakai  adalah 1120 kkal, yang ekivalen dengan 120 gram lemak (Hernowo, 2010).</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Meskipun diperkirakan tidak ada acara kesasar, sempat dua kali kita  bingung dengan jalan. Untung di masing-masing kesempatan ada warga  lokal yang membantu. Waktu di Winsum, kita diabai-abai seorang oma yang  sedang menemani jalan-jalan anjingnya, kalau jalan yang kita pilih salah  karena itu jalan ke kompleks pabrik. Sewaktu menjelang Eenrum, ada  sepasang oma-opa yang tanpa diminta, datang membantu saya yang membaca  peta. Walau masing-masing tidak bisa berkomunikasi secara verbal, dengan  kode-kode dan afeksi, akhirnya ditemukan jalan yang benar. Dua insiden  ini dan juga kesempatan saling ber-hoi-hoi dengan sebuah kapal keluarga  Belanda di sepanjang sebuah kanal, sungguh pengalaman-pengalaman yang  dapat memperkaya batiniah.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38683_1411465999754_1025612056_30937883_7125602_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1092" title="Kanaal" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38683_1411465999754_1025612056_30937883_7125602_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Pemandangan menarik dijumpai di desa Eenrum. Ternyata benar apa  yang ditulis di website, pusat desa Eenrum cukup unik. Sekilas mirip  desa-desa di Jerman. Dan pastinya pas kita lewat, sepi sekali  jalan-jalannya seperti kota hantu sampai Lia merinding&#8230;hehe. Tapi kita  kemudian sadar, mungkin semua orang sedang kebaktian di gereja. Oya,  kita lewat Museum Mustard di Eenrum yang dilengkapi dengan sebuah  restoran/cafe yang menarik. Sempat sepakat untuk mampir pulangnya, tapi  jadinya batal karena pulangnya diputuskan muter lewat Baflo yang lebih  jauh. Konon biar lebih besar pahalanya (????, 2010; quote siapa yah ini,  saya lupa)</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Kunjungan ke SRRC-nya sendiri juga merupakan pengalaman yang  berharga. Selain dihibur oleh wajah-wajah imut serta tingkah laku  menggemaskan Vera, Piet, Hans, dan kawan-kawan, kami juga mendapat  pengetahuan dan kesadaran melalui foto-foto dan sebuah film pendek  tentang bahaya kegiatan manusia terhadap ekosistem, khususnya kehidupan  anjing laut di laut utara Belanda. Hati saya sempat miris melihat  monumen (seni) yang berupa tumpukan jaring-jaring yang menyangkut ke  (bayi) anjing laut  yang tidak bisa mereka lepaskan (kebayang kan tangan  anjing laut seperti apa) sampai mereka beranjak dewasa. Tumpukan itu  tingginya lebih dari 3 meter dan mencakup luasan lebih dari 5 meter  persegi. Di sekitar monumean terdapat foto-foto kondisi anjing-anjing  laut yang ditemukan beserta jaringnya. Sedih sekali melihatnya. Tapi  setidaknya hal ini dapat menambah kesadaran kepada kita untuk  berhati-hati dan tidak bersikap ignorance/selfish terhadap lingkungan  sekitar kita.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38148_1411539161583_1025612056_30938018_3138552_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1094" title="Sapi" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38148_1411539161583_1025612056_30938018_3138552_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di Pieterburen rombongan ISC 2 sempat ketemu dengan rombongan Pak  Adhi yang sepedanya rodanya empat, dan kita sempat piknik bersama makan  bekal masing-masing, termasuk sebungkus jipang (orang Jatim pasti tahu  ini makanan apa) made in China, di atas tanggul sambil menonton polah  tingkah menggemaskan balita (orang) Belanda di pinggir kolam.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan pulang sedikit penuh perjuangan, karena selain rutenya  jauh dan kondisi mulai capek, ada beberapa sepeda yang kurang fit atau  setelannya kurang pas. Karena dari itu, (pesan sponsor): untuk kegiatan  berikutnya, please dicek dan tune baik-baik sepedanya. Biasanya Pak Adji  dengan sukarela mau membantu. Dan beliau ini profesional sekali loh  dalam hal urusan sepeda (riset juga sudah barang tentu&#8230;.).</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38341_1411466919777_1025612056_30937898_966779_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1093" title="Pieterburen Anjing Laut" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38341_1411466919777_1025612056_30937898_966779_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dengan hampir tanpa nonstop dari jam 13.15, kecuali sesi  foto pose wajib di atas jembatan di daerah Winsum, kami sampai kembali  di belakang BB pukul 15.10. Walau tampak sebagian capek dan sudah ada  yang gak sabar saling pijat, kita sempat mengobrol-ngobrol sebentar  mengomentari perjalanan  yang sangat berkesan barusan. Bahkan beberapa  sudah gak sabar dan menantang untuk minggu depan langsung tancap ke  Schiermonnikoog yang 50% lebih jauh dari rute kemarin. Bagaimana? Siap  ke Schiermonnikoog, allemaal???</p>
<p style="text-align: justify;">ISC (Indonesian Summer Cycling Groningen) adalah kegiatan rekreasi bersepeda di propinsi Groningen. Artikel ini adalah seri kedua.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/Afbeelding-9.png"><img class="size-full wp-image-1066 alignleft" title="Titah Yudhistira" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/Afbeelding-9.png" alt="" width="67" height="87" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Titah Yudhistira</strong></p>
<p>Foto: <a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=14158159&amp;id=595245272#!/album.php?aid=2052716&amp;id=1025612056" target="_blank">Iswandi Basri</a><strong><br />
</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/25/isc-2-menyapa-anjing-laut-di-pieterburen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

