<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PPI Groningen &#187; Budaya</title>
	<atom:link href="http://www.ppigroningen.nl/wp/tag/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ppigroningen.nl/wp</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 09:34:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Indonesian Dinner part 2</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/22/indonesian-dinner-part-2/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/22/indonesian-dinner-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 10:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Humas / PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ESN]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sukses menyelenggarakan Indonesian Dinner 29 November 2009 silam, kali ini PPIG bekerjasama dengan ESN mengadakan Indonesian Dinner part 2 kemarin siang di de Smidse. Sebelum hari-H tiket sudah terjual habis di markas ESN sebanyak 48 tiket dan bahkan beberapa masih mencoba untuk membeli tiket on the spot
Para tamu mulai berdatangan mulai pukul 17.00 dan langsung diterima oleh Aditya Hernowo (yang kebetulan hari itu dia juga berulang-tahun), dan setiap tamu dihadiahi dompet batik secara cuma-cuma oleh Adhi Wibawa. Dompet batik ini diterima sangat antusias oleh para tamu internasional yang membayar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0388.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-705" title="Para Penari" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0388-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><span title="S" class="cap"><span>S</span></span>etelah sukses menyelenggarakan Indonesian Dinner 29 November 2009 silam, kali ini PPIG bekerjasama dengan ESN mengadakan Indonesian Dinner part 2 kemarin siang di de Smidse. Sebelum hari-H tiket sudah terjual habis di markas ESN sebanyak 48 tiket dan bahkan beberapa masih mencoba untuk membeli tiket on the spot<br />
Para tamu mulai berdatangan mulai pukul 17.00 dan langsung diterima oleh Aditya Hernowo (yang kebetulan hari itu dia juga berulang-tahun), dan setiap tamu dihadiahi dompet batik secara cuma-cuma oleh Adhi Wibawa. Dompet batik ini diterima sangat antusias oleh para tamu internasional yang membayar € 5 untuk acara perpaduan kuliner, budaya dan seni Indonesia ini.<br />
Acara dibuka oleh host kocak Adhi Wibawa yang membuat suasana Indonesian Dinner menjadi lebih hangat dan penuh gelak tawa. Host dari Surabaya ini kemudian mempersilahkan duo penari Cendrawasih, Yuanita Christayanie dan Ratih Kusuma Dewi untuk menampilkan liukan-liukan anggun dan eksotis tari Bali ini. Para tamu tak segan-segan langsung mengeluarkan kamera, camcorder dan ponsel untuk merekam penampilan langsung yang disemarakkan dengan kostum tari pink-kuning serta mahkota ini. Tak sia-sia latihan duo penari itu yang telah dipersiapkan selama dua minggu sebelum hari-H.<br />
Bapak Raymond selaku perwakilan dari KBRI turut mempromosikan program beasiswa bagi mahasiswa/i Internasional yang tertarik untuk kuliah di Indonesia, dan turut mengajak bule-bule ini untuk menghadiri acara Pasar Malam Indonesia yang akan diadakan awal April di Malieveld, Den Haag. Sementara beliau berpresentasi singkat, bule-bule ini juga ditemani oleh bala-bala di tiap-tiap meja.<br />
Merangkak ke acara setelahnya, tim Karo &#8216;Tartar Bintang&#8217; yang dikomandani oleh Mangara Silalahi turut mendapat sambutan meriah dari<br />
para tamu. Tim yang terdiri dari 4 orang ini mempersembahkan 2 lagu awal yang mencengangkan para penonton serta penampilan &#8216;Tari Pembersih Jiwa&#8217;. Tim ini kemudian menemani para tamu yang sambil menikmati hidangan utama pukul 18.30.<br />
<a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0411.jpg"><img class="alignleft size-medium  wp-image-704" title="Para Tamu mengambil makanan" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0411-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tim masak yang dipimpin oleh trio &#8216;Cendol Effect&#8217; yaitu Inez Taniwangsa, Feri Kustanto serta Budi Annisa Sidi, menjamu para bule dengan sajian Ajam Goreng Boemboe Koening (10 kg!) , Kering Tempe (6 papan!) dan Nasi Oedoek (6.5 kg!) yang membuat lidah mereka menari-nari. Siapa yang mengira satu mangkok besar sambal ternyata habis disikat oleh para bule? Mereka juga tak luput untuk memuji masakan Indonesia dan bahkan beberapa dari mereka menanyakan resep sajian yang dipersiapkan mulai dari hari Sabtu ini. Selain trio &#8220;Cendol Effect&#8217; ini, tim konsumsi juga diperkuat oleh Klara Kwantoro, Hesti Suarti dan Eisha Maghfiruha yang turut membantu mengolah resep 4 jam sebelum acara dimulai.<br />
Sajian ditutup dengan Es Cendol yang sempat membuat tangan trio &#8216;Cendol Effect&#8217; gemetaran setelah 2 jam gagal mencoba membuat cendol pada malam Minggu. Dengan bantuan sigap Fanny Lintong, sajian manis bersantan &#8220;ijo-ijo&#8221; ini akhirnya sukses menggoda lidah-lidah para tamu. Semua sajian sore itu juga ditata secara rapi berkat bantuan serving dish oleh Om Binsar dari Toko Semarang.<br />
Tak berhenti di kuliner Indonesia, lagi-lagi para tamu diajak berpartisipasi untuk menari Poco-poco di depan ruangan.Tak ayal beberapa dari mereka antusias untuk belajar kilat tari asal Sulawesi ini. Beberapa dari mereka bahkan kemudian mempraktekkan kembali gerakan &#8220;line dance&#8221; ini seusai acara yang ditutup pukul 19.45.<br />
<a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0447.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-706" title="Panitia Indonesian Dinner" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0447-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Pada acara ini, seluruh tim Indonesian Dinner ini juga tak segan-segan untuk mengenakan kebaya dan baju batik tradisional sebagai upaya promosi kebudayaan Indonesia. Pada bagian penutup acara, panitia membagikan dua door-prizes berupa selendang batik. Acara pun selesai dengan meriah dan panitia langsung sigap membereskan tempat acara.<br />
PPI Groningen mengucapkan terima kasih kepada seluruh kawan yang turut menyukseskan acara Indonesian Dinner part 2 ini serta mohon maaf apabila ada kesalahan serta keterbatasan tiket yang dijual.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/03/22/indonesian-dinner-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunitas Mahasiswa Indonesia Peringati Pengesahan Batik oleh UNESCO</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2009/10/10/komunitas-mahasiswa-indonesia-peringati-pengesahan-batik-oleh-unesco/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2009/10/10/komunitas-mahasiswa-indonesia-peringati-pengesahan-batik-oleh-unesco/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 11:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[Nyaris sebanyak 80 mahasiswa Indonesia di Groningen, Belanda,  memperingati pengesahan Batik oleh Badan PBB untuk Pendidikan,  Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai warisan budaya (cultural  heritage) Indonesia, pada 2 Oktober. Para mahasiswa yang terdiri dari  berbagai strata dan jurusan di University of Groningen dan Hanze  University Groningen itu memulai acara di depan gedung rektorat  University of Groningen atau lazim disebut Academiegebouw pada pukul  17.00 waktu setempat (22.00 WIB).
Saat itu, mereka yang berdatangan  dengan memakai Batik buatan berbagai daerah di Nusantara, sejenak  mengheningkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Batik-Day.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-632" title="Batik Day" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Batik-Day-300x291.jpg" alt="" width="300" height="291" /></a><span title="N" class="cap"><span>N</span></span>yaris sebanyak 80 mahasiswa Indonesia di Groningen, Belanda,  memperingati pengesahan Batik oleh Badan PBB untuk Pendidikan,  Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai warisan budaya (cultural  heritage) Indonesia, pada 2 Oktober. Para mahasiswa yang terdiri dari  berbagai strata dan jurusan di University of Groningen dan Hanze  University Groningen itu memulai acara di depan gedung rektorat  University of Groningen atau lazim disebut Academiegebouw pada pukul  17.00 waktu setempat (22.00 WIB).</p>
<p>Saat itu, mereka yang berdatangan  dengan memakai Batik buatan berbagai daerah di Nusantara, sejenak  mengheningkan cipta bagi korban gempa bumi di Sumatra Barat. Sesaat  kemudian, mereka berjalan ke Grote Markt di pusat kota Groningen yang  berjarak 600 meter. Walau suhu udara saat itu mencapai sembilan derajat  Celsius, para mahasiswa tetap bersemangat seraya membawa bendera merah  putih dan peta Indonesia bermotif Batik.</p>
<p>Aksi para mahasiswa yang  tergabung ke dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPI G)  kontan mengundang perhatian warga setempat. Sejumlah warga pun sejenak  menghentikan langkah mereka untuk memperhatikan acara tersebut. Bahkan,  beberapa di antara mereka tidak segan untuk bergabung dengan pawai  sederhana itu, saat mengetahui para mahasiswa sedang memperingati  pengesahan Batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO.</p>
<p>Kepada Media Indonesia, salah seorang warga bernama Baart  Zwarts mengaku terkesan. &#8220;Saya tertarik oleh kepedulian mahasiswa  Indonesia akan kebudayaan mereka. Saya pikir itu mencerminkan sikap  nasionalisme mereka. Sebab, siapa lagi yang perduli dengan warisan  kebudayaan Indonesia jika bukan warga Indonesia itu sendiri,&#8221; papar  Baart.</p>
<p>UNESCO secara resmi mengesahkan Batik sebagai milik Indonesia  dalam pertemuan mereka di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 2 Oktober.  Sebelumnya, badan tersebut menyetujui Batik sebagai warisan budaya  Indonesia pada 29 September. Tindakan itu disambut gembira oleh rakyat  Indonesia di berbagai belahan dunia dengan memakai Batik.</p>
<p>Sumber : Media Indonesia</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/Picture-1.png"><img class="alignleft size-full wp-image-1014" title="Jerome Wirawan" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/Picture-1.png" alt="" width="68" height="74" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Jerome Wirawan</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2009/10/10/komunitas-mahasiswa-indonesia-peringati-pengesahan-batik-oleh-unesco/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Groningen, Kota yang Tak Pernah Tidur ?</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/18/groningen-kota-yang-tak-pernah-tidur/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/18/groningen-kota-yang-tak-pernah-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 09:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[

Hanya sedikit kota besar di Belanda  yang disebut-sebut memiliki denyut kehidupan tanpa henti, selama 24 jam  sehari, 7 hari dalam seminggu. Groningen dan tentu saja Amsterdam adalah  dua di antaranya.
Namun, tidak satupun kota tersebut yang bisa dibandingkan dengan  Jakarta dalam hal tak pernah tidur. Jakarta mampu mempertahankan  vitalitas kehidupan di malam hari pada tingkat yang hampir setara dengan  siang hari.
Lalu di mana sebenarnya perbedaannya? Julukan kota yang tak pernah  tidur disandang Groningen karena maraknya kehidupan bar di malam hari.  Ketika toko-toko, departement ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p class="first-child "><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/314327463_96d4caf77b_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-950" title="Centrum Ring" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/314327463_96d4caf77b_m.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a><span title="H" class="cap"><span>H</span></span>anya sedikit kota besar di Belanda  yang disebut-sebut memiliki denyut kehidupan tanpa henti, selama 24 jam  sehari, 7 hari dalam seminggu. Groningen dan tentu saja Amsterdam adalah  dua di antaranya.</p>
<p>Namun, tidak satupun kota tersebut yang bisa dibandingkan dengan  Jakarta dalam hal tak pernah tidur. Jakarta mampu mempertahankan  vitalitas kehidupan di malam hari pada tingkat yang hampir setara dengan  siang hari.</p>
<p>Lalu di mana sebenarnya perbedaannya? Julukan kota yang tak pernah  tidur disandang Groningen karena maraknya kehidupan bar di malam hari.  Ketika toko-toko, departement store, dan kantor-kantor tutup pada pukul  18.00, sejumlah restoran dan supermarket tetap buka hingga pukul 22.00.</p>
<p>Setelah semua tutup, pub-pub, bar maupun klub- klub malam mulai  menggeliat. Mereka selanjutnya beroperasi hingga sekitar pukul 2 pagi  dan sebagian tutup tidak lama sebelum fajar menyingsing. Beberapa jam  kemudian, mulai pukul 08.00, toko-toko mulai buka. Begitu seterusnya.</p>
<p>Siklus tersebut terjadi setiap hari…kecuali di hari Minggu dan hari  libur nasional ataupun kota. Di hari-hari tersebut, semua toko,  supermarket dan restoran tutup. Hanya pub dan bar yang tetap buka  seperti biasa di malam hari. Jadi, layakkah Groningen menyandang julukan  kota yang tak pernah tidur? Tidak!</p>
<p>Kalau memang benar Groningen tidak pernah tidur, rencana mendadak  untuk menggelar piknik rujakan di hari minggu, tentu tidak akan batal.  Atau, gue tidak akan pernah merasa lapar di malam hari dan hari minggu,  hanya gara-gara lupa membeli roti sebelum supermarket tutup.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img title="Malam Hari di Groningen" src="http://farm1.static.flickr.com/119/296501499_48f31eb7e5_m.jpg" alt="" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">Malam Hari di Groningen</p></div>
<p>Bayangkan, bila gue ada di rumah dan saat itu sudah pukul 00.00,  Sabtu dini hari. Perut terasa lapar dan salah seorang anggota keluarga  mengusulkan untuk ‘pesta’ kerang rebus. Detik itu juga, gue bisa pergi  ke pasar Kramat Jati, membeli 3 kilo kerang hijau, lengkuas dan saos  sambal. Jadilah kami berpesta kerang sampai muntah…hehehehe.</p>
<p>Atau di hari Minggu malam, dalam perjalanan pulang dari kantor (iya,  hari Minggu biasanya gue kerja). Tiba-tiba teringat tadi sebelum pulang,  ketika gue masih di kantor, ibu menelepon dan meminta dibelikan kardus  untuk tempat nasi kotak. Mampirlah gue ke pasar Pondok Gede dan membeli  kardus itu.</p>
<p>Semua itu contoh kejadian di malam hari. Kalau di siang hari, lebih  tidak ada masalah lagi. Semua toko di Jakarta buka seperti biasa,  termasuk di hari Minggu. Lebaran pun tetap buka!</p>
<p>Jakartalah yang benar-benar layak dijuluki kota yang tak pernah  tidur.</p>
<p><em>Tulisan di atas merupakan  cermin penyesalan penulis karena pada Sabtu lalu lupa membeli roti dan  Minggu semua toko tutup, yang disambung hingga Senin karena merupakan  hari libur nasional…sial..sial..sial!</em></p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-1-e1271804709556.png"><img class="alignleft size-full wp-image-805" title="Windy Indriantari" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-1-e1271804709556.png" alt="" width="57" height="56" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Windy Indriantari</strong></p>
<p>( Dikutip dari blog pribadi, 12 Mei 2008  melalui <a href="http://stunedtestimonial.wordpress.com/2008/06/18/kota-yang-tak-pernah-tidur/" target="_blank">WP Testimonial Stuneder</a>)</p>
<address>Foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/85451010@N00/314327463/" target="_blank">BdR76</a> dan <a href="http://www.flickr.com/photos/37hz/296501499/sizes/s/" target="_blank">37hz</a> dengan lisensi Creative Commons<br />
</address>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/18/groningen-kota-yang-tak-pernah-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m falling in love</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/05/im-falling-in-love/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/05/im-falling-in-love/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 09:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=955</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, saya selalu bilang bahwa saya gak akan bisa tinggal di kota  lain di dunia ini yg lebih kecil dari Jakarta. Pekerjaan saya di kantor  yang dulu, mewajibkan saya untuk keliling ke berbagai kota di Indonesia,  mulai dari Tegal sampai Manado, dari Pekanbaru sampai Lombok, dan saya  selalu homesick. Tiga-empat hari tinggal di kota2 itu sudah bikin saya  gak betah, pengen pulang ke semrawut dan hiruk pikuknya Jakarta, yg  selalu (dan semakin) macet. Kecintaan saya yang begitu besar pada  Jakarta juga yang jadi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child " style="text-align: justify;"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2008/06/2308254878_491bc8906e_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-958" title="Groningen entrance" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2008/06/2308254878_491bc8906e_m.jpg" alt="" width="240" height="192" /></a><span title="D" class="cap"><span>D</span></span>ulu, saya selalu bilang bahwa saya gak akan bisa tinggal di kota  lain di dunia ini yg lebih kecil dari Jakarta. Pekerjaan saya di kantor  yang dulu, mewajibkan saya untuk keliling ke berbagai kota di Indonesia,  mulai dari Tegal sampai Manado, dari Pekanbaru sampai Lombok, dan saya  selalu homesick. Tiga-empat hari tinggal di kota2 itu sudah bikin saya  gak betah, pengen pulang ke semrawut dan hiruk pikuknya Jakarta, yg  selalu (dan semakin) macet. Kecintaan saya yang begitu besar pada  Jakarta juga yang jadi satu alasan saya gak mau kuliah S1 di kota lain.  Walaupun teman2 SMA saya dulu berlomba2 daftar PTN di kota B (selain  alasan akademis juga alasan pengen bebas dari ortu kata mereka, hehe… ),  saya tetap maunya di Jakarta aja!</p>
<p style="text-align: justify;">Time goes by… And then…saya diterima di program master di kota ini,  Groningen, Negeri Belanda. Dan Alhamdulillah, beasiswa Stuned juga  didapat… Baru kemudian saya cari di peta Belanda, di mana gerangan letak  Groningen? Hmm…jauh ya dari kumpulan kota-kota “besar” yang sudah saya  sering dengar namanya sebelumnya (dulu kan taunya cuma Amsterdam, Den  Haag, Rotterdam, dan Utrecht). Terus, baru tanya2 ke teman2 yang sudah  pernah kuliah di Groningen. Semua bilang, kotanya kecil, tapi cantik  kok. Aduh, kota kecil ya? Gimana dong… (yang anehnya sebelum daftar ke  Univ-nya saya gak pernah selidiki dulu kota Groningen itu seperti apa,  di mana… hehehe). Ada mall gak ya? (ga ada, kata mereka. For most  people, maybe it’s not a big deal, but for me? Maybe it’s equal with  imagining your food without rice ;p). Trus katanya, semua orang naik  sepeda. Yang terbayang langsung pedesaan lengkap dengan sapi-sapi  berkeliaran, ke kampus bersepeda menyusuri jalan setapak kecil, beli  susu dan keju langsung dari petani, dan jarak rumah ke rumah yang lain  berjauhan. Huhh…how can I live my life there??</p>
<p style="text-align: justify;">27 Agustus 2007,sampailah saya di kota Groningen stlh menempuh  perjalanan 18 jam by plane dan 2.5 jam by train dari Schiphol. Kesan  pertama, OK, it’s not as bad as I thought, it’s not as ‘village’ as I  imagined… I even liked the train station <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> . Hari pertama itu, setelah taro barang di  student house, kita diajak jalan2 ke centrum (city centre) oleh tim  penjemput, yang notabene mostly adalah anak2 Stuned 2006. Kesan  berikutnya, hey kota ini boleh juga ya… I liked the canal, I liked the  idea that everyone’s riding their bike… Kemudian, wah…bukan desa dengan  peternakan sapi kok, banyak toko2 di centrumnya! <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" /> Penduduknya juga ramai, banyak anak-anak  muda (Groningen memang salah satu kota pelajar di Belanda, komunitas  international studentnya cukup banyak. Lagi2 baru tau belakangan,  hehe..). Dan, makin banyak “ternyata ternyata” lainnya, yang syukurnya  adalah “ternyata” yang positif buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div class="mceTemp" style="text-align: justify;">
<dl class="wp-caption alignleft" style="width: 185px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img src="http://farm1.static.flickr.com/3/4922616_19ab14fa9c_m.jpg" alt="" width="175" height="228" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Salju di Groningen</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, hari-hari awal saya lalui dengan baik di kota kecil  Groningen ini. Yang semakin lama, semakin saya cintai. Kekhawatiran saya  tidak bisa tinggal di kota kecil tidak terbukti. Saya menikmati setiap  hari2 saya di sini. Hari-hari kuliah, hari-hari jalan2, hari-hari  menyerbu ’sale’ di centrum, hari-hari makan bersama dengan teman2  setanah air. Saya suka bersepeda di sisi kanal kecil dekat student house  saya, saya suka dengan bebas polusinya, bebas macetnya, keramaian  centrumnya yang “cukuplah” <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> . Saya suka melihat warna daun-daun pohon di  musim gugur, saya sangat excited menyambut salju pertama di musim  dingin, saya suka melihat bunga2 putih kecil bermekaran di  Noorderplantsoen di awal musim semi. Dan saya gembira dengan cerahnya  matahari di bulan Juni. Saya bukan hanya <em>bisa </em>hidup di kota  yang (jauh) lebih kecil dari Jakarta, tapi saya menikmati kehidupan saya  di sini. Saya jatuh cinta dengan kota kecil ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke, intinya, saya cuma mau bilang, don’t be afraid of something that  you’ve never been through before. Don’t let your worries become the  burden of your opportunity, of experiencing something different in your  life… Life is a process, life is a journey, enjoy your ride! <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> )</p>
<p style="text-align: justify;">Kontributor</p>
<p style="text-align: justify;">Sissy</p>
<p style="text-align: justify;">( Dikutip dari blog pribadi, 5 Juni 2008  melalui <a href="http://stunedtestimonial.wordpress.com/2008/06/18/kota-yang-tak-pernah-tidur/" target="_blank">WP Testimonial Stuneder</a>)</p>
<address style="text-align: justify;">Foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/runlevel0/2308254878/sizes/o/">Enric Martinez</a> &amp; <a href="http://www.flickr.com/photos/85451010@N00/4922616/sizes/s/" target="_blank">BdR76</a> dengan lisensi Creative Commons<br />
</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/05/im-falling-in-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesian Dinner and Cultural Evening</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2007/03/22/indonesian-dinner-and-cultural-evening/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2007/03/22/indonesian-dinner-and-cultural-evening/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2007 20:35:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PPIG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ESN]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/2007/03/22/indonesian-dinner-and-cultural-evening/</guid>
		<description><![CDATA[Pengurus PPI Groningen 2006/2007 bersama Wings-ESN telah mengadakan acara Indonesian Dinner and Cultural Evening untuk international students di Groningen pada tanggal 18 Maret 2007 pukul 17.00 - 20.00 CET di GSp Building. Rupanya para international students ini sangat antusias dengan acara ini (semoga bukan karena aneka musibah yang menghiasi media tentang Indonesia akhir2 ini).

Sejak seminggu yang lalu 40 tiket-nya sudah sold out (kapasitas normal GSP building memang cuma 40 orang). Bahkan akhirnya dibuka 10 tiket tambahan untuk pendaftar on-the-spot. Walaupun cuaca kurang bersahabat dengan angin kencang dan hagelen (hujan es),  tamu international students yang datang ternyata  membludak sampe 54 orang. Di dalam acara ini ada presentasi tentang Indonesia, performance tari Piring dari Sumatera Barat, live singing dan menari Poco-Poco bersama para international students.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="P" class="cap"><span>P</span></span>engurus PPI Groningen 2006/2007 bersama Wings-ESN telah mengadakan acara Indonesian Dinner and Cultural Evening untuk international students di Groningen pada tanggal 18 Maret 2007 pukul 17.00 &#8211; 20.00 CET di GSp Building. Rupanya para international students ini sangat antusias dengan acara ini (semoga bukan karena aneka musibah yang menghiasi media tentang Indonesia akhir2 ini).</p>
<p>Sejak seminggu yang lalu 40 tiket-nya sudah sold out (kapasitas normal GSP building memang cuma 40 orang). Bahkan akhirnya dibuka 10 tiket tambahan untuk pendaftar on-the-spot. Walaupun cuaca kurang bersahabat dengan angin kencang dan hagelen (hujan es),  tamu international students yang datang ternyata  membludak sampe 54 orang. Di dalam acara ini ada presentasi tentang Indonesia, performance tari Piring dari Sumatera Barat, live singing dan menari Poco-Poco bersama para international students.</p>
<p>Terima kasih kepada segenap panitia Indonesian Dinner and Cultural Evening dan pihak-pihak yang telah membantu atas terselenggaranya acara tersebut dengan sukses.</p>
<p>Acara ini tidak hanya sukses membawa misi mempromosikan keanekaragaman budaya Indonesia, tetapi juga mempererat persahabatan Pengurus PPI Groningen 2006/2007 dan pelajar Indonesia di Groningen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2007/03/22/indonesian-dinner-and-cultural-evening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

