<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PPI Groningen &#187; Cerita</title>
	<atom:link href="http://www.ppigroningen.nl/wp/tag/cerita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ppigroningen.nl/wp</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 09:34:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Terdampar di Portugal</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[Perjalananku ke, di dan dari Portugal, 13 &#8211; 20 April 2010 akan jadi  salah satu perjalanan yg tak terlupakan dalam hidupku. Bagaimana tidak,  menurut sahabatku aku bisa menganggap diriku sebagai  bagian dari  sejarah hahaha&#8230; berlebihan &#38; aku tau dia sedang bercanda.. tapi  setelah kupikir-pikir, mungkin juga. Paling tidak perjalanan itu menjadi  bagian dari sejarah hidupku sendiri.. yang bisa kuceritakan pada  VanyAlma &#38; cucu-cucuku nanti..
Perjalanan ini menjadi berharga, bukan hanya karena tempat-tempat indah  yang kukunjungi, sahabat lama &#38; keluarganya yang kutemui,  orang-orang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1028" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/26138_388397219083_812484083_3829649_7100392_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-1028" title="Terdampar di Portugal" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/26138_388397219083_812484083_3829649_7100392_n-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="first-child wp-caption-text"><span title="T" class="cap"><span>T</span></span>empatku tidur di Porto Campanha Airport</p></div>
<p>Perjalananku ke, di dan dari Portugal, 13 &#8211; 20 April 2010 akan jadi  salah satu perjalanan yg tak terlupakan dalam hidupku. Bagaimana tidak,  menurut sahabatku aku bisa menganggap diriku sebagai  bagian dari  sejarah hahaha&#8230; berlebihan &amp; aku tau dia sedang bercanda.. tapi  setelah kupikir-pikir, mungkin juga. Paling tidak perjalanan itu menjadi  bagian dari sejarah hidupku sendiri.. yang bisa kuceritakan pada  VanyAlma &amp; cucu-cucuku nanti..</p>
<p>Perjalanan ini menjadi berharga, bukan hanya karena tempat-tempat indah  yang kukunjungi, sahabat lama &amp; keluarganya yang kutemui,  orang-orang baik &amp; ramah (bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan untuk  membantuku), teman-teman baru (dari berbagai bangsa &amp; negara) yang  kusapa, tetapi terlebih karena seluruh perjalanan ini membuatku keluar  dari tempurungku, mengatasi ketakutanku dan membuatku mengerti apa yang  mampu kulakukan.. I know what I&#8217;m capable of, because of this particular  trip.</p>
<p>Selasa, 13 April, tujuan utamaku adalah Lisbon. Selain Roma, Lisbon  adalah salah satu kota yang kutekadkan untuk kukunjungi sebelum pulang  ke Indonesia. Bukan semata-mata untuk melihat keindahan kotanya, tapi  terlebih untuk mengunjungi seorang sahabat dan keluarganya disana. Aku  memutuskan pergi sendiri karena ternyata Portugal bukan tempat favorit  bagi teman-temanku yang sama-sama suka jalan. Demi tiket murah, aku  harus berangkat jam 2 subuh menuju Bremen untuk naik pesawat Ryanair  selama 3 jam, turun di Faro dan melanjutkan perjalanan dengan bis selama  kurang lebih 2 jam untuk sampai ke Lisbon. Demikian pula saat pulang,  aku harus berkereta selama 2,5 jam ke Porto untuk kemudian naik pesawat  ke Eindhoven selama 3 jam dan melanjutkan dengan kereta ke Groningen  selama 2,5 jam. Rencananya, perjalananku kali ini akan berakhir Jumat,  16 April 2010.</p>
<p>Cemas menyelinap dalam hati membayangkan betapa sekian etape perjalanan  harus aku hadapi sendiri. Tapi aku berusaha menenangkan diri karena aku  pernah ke Bremen dan begitu sampai Lisbon aku akan tinggal bersama  sahabatku. Pengalaman naik pesawat Ryanair &amp; naik metro dalam  beberapa perjalananku sebelumnya bisa kujadikan referensi.</p>
<p>Sejak berangkat sampai ke Faro, tidak ada kesulitan berarti yang  kuhadapi. Bahkan di Faro aku bertemu seorang teman baru. Seorang pelajar  dari Lithuania yang sedang menuju Lisbon untuk menemui kekasihnya. Kami  sempat berjalan-jalan, berfoto-foto bersama melihat-lihat kota Faro  sebelum melanjutkan perjalanan ke Lisbon. Suhu Faro saat itu sangat  hangat, sangat berbeda dari Groningen yang dingin. Turis2 berbusana  summer berjalan2 di sekitar dermaga. Senang, gembira, tersenyum.</p>
<p>Sampai di Lisbon, aku dijemput sahabatku, istirahat sebentar dan  langsung diajak jalan-jalan seputar kota Lisbon. Banyak hal yang bisa  dinikmati di Lisbon. Bangunan-bangunan tua dengan detil-detil yang  mencengangkan, kastil di atas bukit, menara kota, patung-patung, pusat  perbelanjaan, street performance &amp; masih banyak lagi. Keesokan  harinya, sahabatku &amp; keluarganya mengantarku ke Fatima, sebuah kota  dimana terletak tempat ziarah bagi umat Katolik. Di sana Bunda Maria  pernah menampakkan dirinya pada 3 orang anak kecil dan di tempat itu  didirikan basilica besar, beberapa kapel dan tempat jalan salib yang  indah. Dalam perjalanan kembali ke Lisbon, kami mampir di sebuah tempat  yang sangat berangin, sebuah tebing dengan tugu dan salib diatasnya lalu  laut lepas. Kata sahabatku, tempat itu adalah ujung barat benua Eropa.  Euphoria melandaku seketika.. tak pernah kubayangkan aku berada di ujung  Eropa hahahaha&#8230; Kami juga mengunjungi Tower of Belem, Jeronimo&#8217;s  Monastery,dan Monument to the Discoveries.  Hari ketiga di Lisbon, aku  diantar ke Sintra. Sebuah dataran tinggi diluar kota Lisbon, dimana  terletak Pena Palace, sebuah istana bergaya Romanticism yang dicanangkan  menjadi warisan dunia (world heritage).</p>
<p>Puas berjalan-jalan, lelah dan senang. Apalagi sambil meladeni  kecerewetan gadis kecil lucu &amp; pintar, anak sahabatku, yang selalu  mengingatkanku pada VanyAlma di Bandung, perjalananku hampir sempurna.  Kecemasan melandai, ketika sedang mengepak kembali barang-barangku dalam  ransel, kami melihat berita di CNN tentang gunung berapi yang meletus  di Islandia &amp; membuat banyak penerbangan di batalkan. Kami langsung  mengecek situs Ryanair dan Porto Airport. Sampai sore itu, jadwal  penerbanganku belum masuk dalam daftar yang dibatalkan. Sepanjang malam  aku berharap semoga aku tetap bisa berangkat keesokan paginya.</p>
<p>Harapanku tidak menjadi kenyataan. Manusia boleh berencana, katanya,  tapi Tuhan yang menentukan. Begitulah yang terjadi padaku. Bangun  pagi-pagi dan bersiap-siap berangkat ke Porto. Disambut dengan berita  buruk bahwa penerbanganku dibatalkan. Aku berusaha mengganti jadwal  penerbangan melalui situs Ryanair tapi tidak berhasil. Karena sudah  check-in online, aku harus datang ke bandara  &amp; mengganti jadwal  disana. Akhirnya aku berkereta ke Porto Airport. Sampai di sana antrian  mulai panjang. Aku mengantri dengan banyak orang Jerman &amp; Belanda  yang seharusnya terbang ke airport-airport di Jerman &amp; Belanda hari  itu. Waktu itu hari Jumat pagi. Aku diberi pilihan, uangku dikembalikan,  mengganti jadwal penerbangan dengan tujuan Eindhoven yang berangkat  hari Senin pagi, atau tujuan Dusseldorf yang berangkat Minggu sore. Aku  pilih penerbangan ke Dusseldorf Minggu sore karena ingin segera sampai  Groningen. Walaupun setelah memilih itu aku baru terpikir bahwa kalau  sampai di Dusseldorf malam hari, belum tentu aku bisa langsung  melanjutkan perjalanan ke Groningen. Karena itu, aku menghubungi salah  satu temanku di Jerman, minta pertolongan untuk mencarikan penginapan di  Dusseldorf atau jadwal kereta menuju Belanda.</p>
<p>Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di bandara, menolak tawaran  sahabatku di Lisbon untuk kembali kesana. Dengan membayar 6 euro untuk  menyegel ransel &amp; 2.13 euro untuk jasa penitipan, ransel kutitipkan  di tempat penyimpanan barang. Setelah segala urusan beres, hatiku mulai  tenang. Aku makan siang di bandara dan merencanakan untuk jalan-jalan di  seputar kota Porto sebelum hari gelap. Berbekal peta yang kuambil dari  tourist information, aku naik metro menuju Porto. Kota Porto ternyata  tidak kalah indahnya dengan Lisbon. Bangunan-bangunan tua, tugu-tugu,  taman, dan satu yang berkesan adalah sungai lebar bernama Ribiera dengan  jembatan panjang yang menghubungkan tengah kota Porto dengan daerah  bernama Gaia. Cafe-cafe di sepanjang sungai memasang meja dan  payung-payung di depan toko mereka. Romantis <img src='http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  sayangnya.. waktu itu  hujan. Aku berteduh sambil minum kopi di salah satu cafe. Pelayannya  mengajakku ngobrol. Ternyata dia orang Eindhoven yang bekerja di sana  selama summer. Sebelum hari gelap aku kembali ke bandara. Mencari tempat  yang nyaman untuk tidur. Aku tidur di sebuah bangku panjang terbuat  dari besi yang membuat sepanjang malam itu aku kedinginan dan sering  terbangun. Bandara Porto cukup luas, aman, buka 24 jam dan banyak orang  yang juga menginap di sana sambil menunggu penerbangan.</p>
<p>Keesokan pagi, aku bangun dengan semangat. Aku sudah berencana, aku akan  membaca artikel yang kubawa sambil menunggu pesawatku terbang sore  harinya. Tetapi, selesai sarapan aku melihat di papan pengumuman banyak  penerbangan ke Jerman dibatalkan. Cemas menyelinap lagi. Aku cek situs  ryanair dan ternyata benar, penerbanganku sore itu dibatalkan lagi.  Huaaaa&#8230; seketika ingin menangis &amp; panik.. Aku hubungi sahabatku di  Lisbon, minta tolong untuk mencarikan bis atau kereta yang bisa segera  membawaku ke Groningen. Aku benar-benar ingin cepat sampai Groningen  karena ada kuliah yang harus kuikuti hari Selasa dan ada target untuk  tesisku yang harus kuselesaikan. Aku mengantri lagi di loket Ryanair  untuk mengganti jadwal pesawat. Kali ini banyak orang Perancis &amp;  Jerman yang mengantri. Sementara mengantri, sahabatku memberi kabar  bahwa ada kereta dari Lisbon ke Amsterdam yang berangkat hari Senin pagi  dengan harga 144 euro. Aku menunda keputusanku untuk membeli tiket  tersebut karena masih ingin mencari kepastian dari Ryanair. Ternyata,  jadwal penerbangan ke Belanda atau Jerman baru ada lagi pada hari Selasa  siang. Aku memutuskan untuk minta penggantian uang, lalu meminta  temanku membelikan tiket bis Lisbon &#8211; Amsterdam dan kembali ke Lisbon,  ke rumah sahabatku.</p>
<p>Dalam perjalanan menuju Lisbon, sahabatku memberi kabar ternyata tiket  bis Lisbon &#8211; Amsterdam sudah habis terjual. Keputusanku yang terlambat  beberapa menit saja, membuatku kembali gagal segera sampai di Groningen.  Untungnya sahabatku menemukan perusahaan bis yang masih menjual tiket  dari Lisbon ke Paris seharga 89 euro. Seketika aku meminta sahabatku  untuk membeli tiket itu, tanpa banyak bertanya &amp; tanpa banyak  pertimbangan lagi daripada menanggung resiko kehabisan tiket lagi.  Setelah itu, baru terpikirkan bahwa aku masih harus mencari tiket kereta  dari Paris menuju Groningen dan baru terpikirkan juga bahwa aku tetap  tidak bisa menghadiri kuliahku hari Selasa karena butuh 38 jam  perjalanan untuk sampai di Groningen dari Lisbon melalui jalan darat.</p>
<p>Hari Sabtu malam, aku kembali ke rumah sahabatku. Malam itu, aku memesan  tiket kereta dari Paris ke Groningen melalui situs Nshighspeed dan  membayar 123 euro. Keesokan harinya, seolah-olah ingin menghiburku  (hehehe.. gw GR bgt ya boo..) aku kembali diajak jalan-jalan. Kali ini,  mengunjungi Cristo Rei. Sebuah tempat dimana berdiri patung besar Yesus  sedang merentangkan tangannya seperti yang ada juga di Dilli &amp; Rio  de Janeiro. Dalam jalan-jalan ini temanku tambah banyak, karena  sahabatku juga mengajak kenalan-kenalannya,  sebanyak 9 orang.  Perjalanan yang seru, diakhiri dengan makan-makan enak dan  ngobrol-ngobrol santai, sejenak membuatku lupa pada kekecewaan,  kepanikan dan rasa rindu yang melanda terhadap kamar dan  sahabat-sahabatku di Groningen.</p>
<p>Perjalanan ke Cristo Rei membuatku terpana, karena ketika berada di  dalam kapel Cristo Rei aku mengambil sebuah kertas yang disediakan untuk  pengunjung dan diantara sekian banyak kertas kecil yang tersedia,  terambil olehku, kertas bertuliskan : &#8220;Do not be anxious about anything.  In everything resort to prayer and supplication together with  thanksgiving and bring your request before God (Fil 4:7)&#8221;</p>
<p>Akhirnya datang juga hari yang dinantikan. Senin siang pk 13.30, bisku  berangkat. Aku diantar istri sahabatku &amp; anaknya. Terharu karena  kebaikan dan kemurahatian mereka menjadi shelter selama aku terdampar,  kami berpelukan. Aku berkenalan dengan dua orang perempuan Inggris. Sama  seperti aku, pesawat mereka menuju UK dibatalkan. Nasib mereka lebih  buruk dari aku karena sesampainya di Paris mereka masih harus mencari  transportasi untuk sampai ke Cambridge. Mereka berencana naik bis lagi  dan ferry. Duduk di sebelahku seorang perempuan Perancis. Dia dan  suaminya akan menunju Lyon sesampainya di Paris. Tampaknya semua orang  di bis itu mengalami pengalaman yang sama denganku. Pesawat mereka  dibatalkan. Kebanyakan mereka orang-orang berbahasa Portugis &amp;  Perancis, beberapa berbahasa Inggris. Hanya aku yang orang Asia. Aku  merasa sedang berada di Menara Babel, dimana semua orang berbeda bahasa  &amp; semua terasa asing bagiku.</p>
<p>Kecemasan kembali datang ketika baru saja 2 jam perjalanan, ban bis yang  kutumpangi kempes !! Aku berpikir.. &#8220;kenapa sial banget sih  gueeeeeee???&#8221; Cemas karena aku takut terlambat sampai di Paris dan  ketinggalan kereta yang menuju Groningen. Akhirnya aku pasrah, berusaha  berdoa &#8211; dalam situasi seperti ini, herannya aku malah sulit berdoa &#8211;  dan berdiam diri atau mengalihkan pikiran dengan mengajak ngobrol dua  perempuan Inggris teman seperjalananku.</p>
<p>Sampai di Paris, hari Selasa pk 17.00 di terminal Galieni. Aku harus  menuju Gare du Nord untuk naik kereta Thalys menuju Brussel pk 18.00.  Untungnya, seorang sahabatku di Groningen sudah memberi petunjuk jalur  metro dari Galieni menuju Gare du Nord. Saat itu adalah saat yang paling  menegangkan karena aku harus membeli tiket metro, mencari jalur metro  yang tepat di tengah hiruk pikuk metro Paris, turun di stasiun yang  tepat untuk berganti jalur metro dan harus bergegas karena waktu yang  sempit.</p>
<p>Kelegaan mulai menghampiriku ketika aku menginjakan kaki di Gare du Nord  30 menit sebelum kereta berangkat. Begitu duduk di kereta Thalys, aku  menghembuskan napas lega. Aku mengirim kabar pada orang-orang terdekatku  yang selama ini menemaniku dan memberi semangat melalui sms, bahwa aku  sudah hampir dekat Groningen hahahaha.. padahal masih 10 jam lagi  sebelum aku sampai di kamarku yang nyaman.</p>
<p>Sampai di Brussel pk. 19.23. Jadwal kereta berikutnya menuju Amsterdam  pk. 20.18. Sempat minum kopi &amp; makan croissant, kereta yang  ditunggu-tunggu ternyata terlambat 20 menit. Pada titik itu, aku sudah  tidak mau mengeluh, tidak mau bertanya mengapa aku sial lagi. Cukup.  Harapanku hanya segera sampai Groningen malam itu, bagaimanapun caranya.  Di dalam kereta menuju Amsterdam aku minta tolong sahabatku di  Groningen untuk mengecek situs ns.nl tentang kereta terakhir dari  Schipol atau Rotterdam menuju Groningen. Berdasarkan informasinya, aku  memutuskan untuk turun di Rotterdam untuk melanjutkan ke Amersfort dan  dari Amersfort ke Groningen. Selama perjalanan, aku berharap supaya  untuk etape terakhir ini perjalananku lancar. Kalau ada satu saja kereta  yang terlambat maka aku akan terdampar lagi di salah satu kota itu.  Bersyukur, karena akhirnya aku bisa naik kereta terakhir dari Rotterdam  menuju Amersfort dan dari Amersfort ke Groningen. Sampai Groningen CS pk  02.00 Rabu dini hari. Lelah, gatal-gatal karena 2 hari tidak mandi,  tapi bersyukur karena akhirnya aku sampai di &#8216;rumah&#8217;.</p>
<p>Pengalaman 3 hari terdampar di Portugal, membuatku belajar untuk tidak  terlalu cemas pada hal-hal yang belum terjadi. Aku belajar untuk  menjalani apa yang harus kuhadapi saat itu dan tidak terlalu banyak  berencana. Seorang sahabat bilang, setiap hari punya kesusahannya  sendiri. Suamiku menulis di wall FB-ku, supaya aku menjalani setiap  kesulitan seperti air mengalir. Sms-sms yang datang dari orang-orang  terdekat sepanjang perjalanan menyemangatiku untuk tetap tegar  menghadapi kesulitan. Dan ketika aku membandingkan kesulitan yang  kualami selama 3 hari kemarin dengan kesulitan orang lain yang sama-sama  terdampar atau dengan orang lain yang mengalami musibah berat,  sepertinya tidak pantas aku mengeluh. Pengalaman berharga memang harus  dibayar, itu kata Ibuku waktu beliau meneleponku. Aku juga belajar  menjadi lebih cepat mengambil keputusan, lebih tanggap terhadap  lingkungan sekitarku, lebih berani bertindak dan lebih asertif memulai  percakapan dengan orang baru, hal-hal yang selama ini kupikir tidak  termasuk sifatku. Now, I know what I&#8217;m capable of. Thank God for making  me stranded in Portugal <img src='http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a rel="attachment wp-att-1327" href="http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/afbeelding-3-2/"><img class="alignleft size-full wp-image-1327" title="Asteria Devy" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-3.png" alt="" width="76" height="72" /></a>Kontributor</p>
<h2>Asteria Devy</h2>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laptop dan Cacar Air</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/19/laptop-dan-cacar-air/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/19/laptop-dan-cacar-air/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 16:22:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Gimana sih rasanya terkena cacar air di Belanda dan laptop rusak di negara yang cepat internetnya? Kali ini kami berhasil menyalin salah satu lembaran buku curhat Susanah Agus, warga Groningen dari Jambi yang mengambil program Master of Educational Sciences
23 Maret: Senin Pagi 
“Because the hardware is broken, we’ll send this laptop to Toshiba  service center. It takes 20 working days to return again here. We’ll  notify you by mail to pick your laptop up when it has arrived here,  then.”
Whuaaaa… Aku mesti bisa bertahan di housing tanpa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="G" class="cap"><span>G</span></span>imana sih rasanya terkena cacar air di Belanda dan laptop rusak di negara yang cepat internetnya? Kali ini kami berhasil menyalin salah satu lembaran buku curhat Susanah Agus, warga Groningen dari Jambi yang mengambil program Master of Educational Sciences</p>
<p><strong><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/3119262027_4fe08f0707_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-885" title="Laptop crash" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/3119262027_4fe08f0707_m.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a>23 Maret: Senin Pagi </strong></p>
<p>“Because the hardware is broken, we’ll send this laptop to Toshiba  service center. It takes 20 working days to return again here. We’ll  notify you by mail to pick your laptop up when it has arrived here,  then.”</p>
<p>Whuaaaa… Aku mesti bisa bertahan di housing tanpa laptop  selama 1 bulan  bo!   Hidup yang gak menyenangkan tapi mesti kujalani.. Dan mulai dech  rutinitasku Blue Building (BB) – Faculty of Behavioral and Social Sciences  (GMW) ato BB–Universiteit Bibliotheek (UB) demi bab 2 thesis (yang ternyata sampe  hari gini gak kelar-kelar juga  ) … Terkadang BB–Winschoterdiep kalo mo  VOIPan ato webcaman ama belahan jiwa di Jambi sana.</p>
<p><strong>8 April: Kamis sore</strong></p>
<p>Abis webcaman sama suamiku di kamar Hesti. Mo  nangis rasanya ngeliat bercak–bercak merah berair di bawah ketiak anakku, Salsa.  Suamiku kira Salsa terkena alergi kayu “rengas” (kayu khas sumatera yg  bisa bikin alergi kulit sensitif) , tapi rupanya Salsa terkena sejenis  cacar air, herpes istilahnya. Duch, rasanya sediiiiih banget gak ada di  samping Salsa saat dia sakit.</p>
<p>Badan terasa capek banget, jadi mutusin tidur sebentar di kamar Hesti  sebelum pulang. Ealaaah malah kebablasan, terbangun ampir jam 9 malam.  Terasa ada yang sakit di belakang telinga kiri. “Ada bengkak nich di  telinga, mbak. Biasanya itu tanda ada yg sakit dibadan, mbak” kata  Sharah.</p>
<p>Tetap mutusin pulang ke BB malam itu, karna ada yg mo dikerjakan besok  pagi2 di kampus. Penasaran dengan radang di belakang telinga, aku  ngontak mas Adit, dokter sekaligus mahasiswa PhD bidang neuroscience  RUG. Katanya kemungkinan ada virus yg mengganggu kesehatanku, &#8220;Radang  itu sebagai tanda ada yang sakit&#8221; ujarnya. Wuih.. sedikit cemas tapi tetep  positive thinking..barangkali akunya kecapean.</p>
<p><strong>9 Apr</strong><strong>il: Jum’at siang</strong></p>
<p>Mas Sigit dateng bawain laptop dia. Wah bisa  minjam sampe hari minggu euy, jadi gak perlu ke kampus selama 3 hari.  Berhubung mesti nyambung ke internet di housing jadi na minta bantuan  ama mas Joni, IT solution engineer di BB  . Janjian besok pagi bakal  disambangin ke kamar.</p>
<p>Jam 6 sore badanku semakin gak enak. Mutusin tuk berbaring sejenak. Jam 7  pergi ke acara Tadarrus special di Ranonkelstraat … spesial ngerayain  ultah mas Teguh, si tuan rumah. Cuma sanggup bertahan sampe jam 8  lewat, radang di belakang telinga semakin berdenyut. Akhirnya nyerahin  pelaksanaan tadarrus sama ketua DeGromiest, mas Muizz. Mutusin pulang  karena badan semakin gak enak. Jam 10 malam baru sadar kalo timbul satu  lagi radang di belakang telinga sebelah kanan. Whuaaa… apa gerangan  sakitku ini???</p>
<p><strong>10 April: Sabtu</strong></p>
<p>Sepagian itu ngobrol ngalor–ngidul ngetawain muka  maupun punggung yang “kayaknya mo berjerawat” sambil nungguin mas Joni  utak–atik laptop. Jam 12 siang, pas mo siap2 ke tempat mbak Aini di  Feithstraat, baru terlihat ada beberapa bintik2 berair di perut ama  lengan kanan atas. “Whuaaaa… cacar airkah???  Wiken kan huisart gak  praktek !!! Duch mesti gimana nich? Kalo bener cacar air alamat gak bisa  keluar bo.. gimana mo ngerjain thesis????” Panik dech rasanya tapi  tetep mutusin pergi ke Feithstraat , keburu ada janji.</p>
<p>“Ini mah kerjaan virus varicella.. positif CACAR AIR. Biasanya akan  demam nich. Tapi tenang aja, asal banyak istirahat, makan teratur ama  minum vitamin cacarnya akan sembuh sendiri kok.” Kata mbak Aini. Meski  kepala “ajep–ajep” tetep siapin ini–itu untuk acara spesial sore itu.  Alhamdulillah acara na sukses.</p>
<p>Meski ditawarin nginep di Feithstraat tapi aku mutusin nginep di Winschoterdiep  saja, soale berasa dingin banget di kamar mbak Aini, ampe menggigil bo   . Sampe di Winschoterdiep langsung deh isolasi diri di kamar Hesti. Berhubung  Ida belum pernah kena cacar, jadinya gak boleh ketemu sama aku. “Mbak  istirahat aja di sini sampe sembuh, Hesti bisa tidur di kamar Ida selama  mbak dirawat disini. Gak usah mikir apa–apa. Kami siapin makan mbak  sampe sehat.” wanti–wanti Hesti ama Sharah.</p>
<p>Via telp mas Adit nyaranin apa yg mesti kulakukan menjelang ketemu  dokter; minum parasetamol kalo demam. Yah, demam menyerang malam itu  tapi berkat parasetamol dan minum bergelas–gelas air, demam mereda esok  paginya, meskipun semalaman itu berkali–kali ke toilet</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/24614_382855289579_785839579_3956229_7671083_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-882" title="Cacar Air" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/24614_382855289579_785839579_3956229_7671083_n-300x225.jpg" alt="" width="252" height="189" /></a><strong>11 April: Minggu</strong></p>
<p>Memutuskan sms papa Salsa, kakak dan adikku di Jambi.  Mereka sebaiknya tau kalo aku sakit, tapi tetep wanti2 jangan kasih tau  Bapak dan Ibu, ortuku. Adikku bales sms: “Hahaha.. ibu dan anak yang  kompak. Salsa jugo kayaknyo herpes tuch, sodaronyo cacar. Cepet sembuh  yo, yuk”.  Baca sms itu aku jadi kepikiran, inikah contoh kontak batin ibu–anak?  Salsaku baru mo sembuh dari herpes, akunya berjuang mengatasi cacar air  disini.</p>
<p><strong>12 April: Senin pagi</strong></p>
<p>Senyum2 sendiri meliat cacar memenuhi wajah. Badan  terasa agak enakan meski kepala masih cenat–cenut. “Mesti difoto neeh..  biar ada kenangan2 cacar di Belanda” .. meski sakit tapi tetep narsis.</p>
<p>Nelpon ke huisart, bikin janji ketemu, sambil hati berharap bisa ketemu  hari ini juga. Berhubung cacar, bisa ketemu huisart hari itu juga. Tapi  jam 9:50 pagi. Whuaaa.. 20 menit lagi bo.. Buru–buru dech ganti baju  (untung udah mandi jam 8 tadi  ).</p>
<p>“Ke UMCG Cuma 10 menit sepedaan kok dari sini, mbak, ikutin aja arah  ini, mbak sampe kok, lokasi praktek pas di belakang UMCG. Maaf aku gak  bisa anter, gak pa pa kan?” wanti2 Hesti.</p>
<p>“Gak pa pa, tempat prakteknya yg ada patung kuda itu kan?” tanyaku  (hihihi.. soale cuma 1 kali ke sana, pas ngedaftar 7 bulan lalu  .)</p>
<p>Tapi aku lupa kalo patung kuda itu adanya di dalam ruangan tunggu,  jadinya pas tiba di belakang UMCG..aku na sibuk nyari patung kuda.  Setelah beberapa saat baru inget kalo patung na di dalam ruang tunggu..  Alamaakkk.. udah muter2 nyari patungnya. Pas tiba di ruang tunggu udah  jam 9:51. Whuaaa.. telat bo.. mana mesti antri neeh buat daftar. Lima  menit kemudian baru bisa daftar sambil minta maaf telat akibat sedikit  tersesat (sambil pasang muka memelas euy). Barangkali kasian liat muka  bertutul2 cacar, aku na bisa langsung ketemu huisart.</p>
<p>Tapi bener kata orang–orang. Dokter disini jarang banget mo kasih obat.  “You only need to have lots of rest and eat nutritious meals. No need  antivirus medicine. Let your body immune struggle the virus. I only  prescribe you antihistamine for itchy. No need for food supplement, just  eat enough fruit and vegetables.” Cuma utk dengerin itu aja, melayang  dech beberapa euro. Sakit emang mahal …Hihihi   …</p>
<p>Merasa udah mendingan dan kadung rindu sama kamar sendiri, aku mutusin  pulang ke BB sore hari, meski Hesti dan Sharah meminta tinggal di sana  sampe benar2 sembuh. Kebetulan pak Makmur menjenguk, jadi sekalian  pulang bareng beliau dech. “Bye-bye Winschoterdiep. Thanks for wholehearted  care I’ve got during my critical phase of chickenpox.”</p>
<p><strong>19 April: Senin pagi</strong></p>
<p>Wah.. udah bener-bener enak badanku, saatnya  kembali ke rutinitas BB-GMW ampe laptopku selesai diservis. Sambil  memandang wajahku di cermin, “Friends in need are friends indeed.”</p>
<p>“Thesis…. Aku dataaaaaaaaaaaaaaaaaaannnng. ”</p>
<p>****</p>
<p>Thanks to all of my friends for your wishes to my health.<br />
Special thanks for Hesti , Sharah, &amp; Ida (for the wholehearted care  &amp; love), Mas Adit (for medical advice), mbak Aini (for medical  spirit), pak Makmur, mas Joni  &amp; mas Sigit (for generous help).</p>
<div>
<p><a href="http://www.facebook.com/estito?v=wall&amp;ref=ts#!/profile.php?id=785839579&amp;ref=ts"><img class="alignleft size-full wp-image-884" title="Susanah Agus" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-22-e1271868771231.png" alt="" width="60" height="55" /></a>Kontributor</p>
</div>
<div>
<p><strong>Susanah Agus</strong></p>
</div>
<address></address>
<address>Foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/avlxyz/3119262027/sizes/s/">Avlxyz</a> dengan lisensi Creative Commons; dan koleksi Susanah Agus<br />
</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/19/laptop-dan-cacar-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Groningen, Kota yang Tak Pernah Tidur ?</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/18/groningen-kota-yang-tak-pernah-tidur/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/18/groningen-kota-yang-tak-pernah-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 09:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[

Hanya sedikit kota besar di Belanda  yang disebut-sebut memiliki denyut kehidupan tanpa henti, selama 24 jam  sehari, 7 hari dalam seminggu. Groningen dan tentu saja Amsterdam adalah  dua di antaranya.
Namun, tidak satupun kota tersebut yang bisa dibandingkan dengan  Jakarta dalam hal tak pernah tidur. Jakarta mampu mempertahankan  vitalitas kehidupan di malam hari pada tingkat yang hampir setara dengan  siang hari.
Lalu di mana sebenarnya perbedaannya? Julukan kota yang tak pernah  tidur disandang Groningen karena maraknya kehidupan bar di malam hari.  Ketika toko-toko, departement ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p class="first-child "><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/314327463_96d4caf77b_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-950" title="Centrum Ring" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/314327463_96d4caf77b_m.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a><span title="H" class="cap"><span>H</span></span>anya sedikit kota besar di Belanda  yang disebut-sebut memiliki denyut kehidupan tanpa henti, selama 24 jam  sehari, 7 hari dalam seminggu. Groningen dan tentu saja Amsterdam adalah  dua di antaranya.</p>
<p>Namun, tidak satupun kota tersebut yang bisa dibandingkan dengan  Jakarta dalam hal tak pernah tidur. Jakarta mampu mempertahankan  vitalitas kehidupan di malam hari pada tingkat yang hampir setara dengan  siang hari.</p>
<p>Lalu di mana sebenarnya perbedaannya? Julukan kota yang tak pernah  tidur disandang Groningen karena maraknya kehidupan bar di malam hari.  Ketika toko-toko, departement store, dan kantor-kantor tutup pada pukul  18.00, sejumlah restoran dan supermarket tetap buka hingga pukul 22.00.</p>
<p>Setelah semua tutup, pub-pub, bar maupun klub- klub malam mulai  menggeliat. Mereka selanjutnya beroperasi hingga sekitar pukul 2 pagi  dan sebagian tutup tidak lama sebelum fajar menyingsing. Beberapa jam  kemudian, mulai pukul 08.00, toko-toko mulai buka. Begitu seterusnya.</p>
<p>Siklus tersebut terjadi setiap hari…kecuali di hari Minggu dan hari  libur nasional ataupun kota. Di hari-hari tersebut, semua toko,  supermarket dan restoran tutup. Hanya pub dan bar yang tetap buka  seperti biasa di malam hari. Jadi, layakkah Groningen menyandang julukan  kota yang tak pernah tidur? Tidak!</p>
<p>Kalau memang benar Groningen tidak pernah tidur, rencana mendadak  untuk menggelar piknik rujakan di hari minggu, tentu tidak akan batal.  Atau, gue tidak akan pernah merasa lapar di malam hari dan hari minggu,  hanya gara-gara lupa membeli roti sebelum supermarket tutup.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img title="Malam Hari di Groningen" src="http://farm1.static.flickr.com/119/296501499_48f31eb7e5_m.jpg" alt="" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">Malam Hari di Groningen</p></div>
<p>Bayangkan, bila gue ada di rumah dan saat itu sudah pukul 00.00,  Sabtu dini hari. Perut terasa lapar dan salah seorang anggota keluarga  mengusulkan untuk ‘pesta’ kerang rebus. Detik itu juga, gue bisa pergi  ke pasar Kramat Jati, membeli 3 kilo kerang hijau, lengkuas dan saos  sambal. Jadilah kami berpesta kerang sampai muntah…hehehehe.</p>
<p>Atau di hari Minggu malam, dalam perjalanan pulang dari kantor (iya,  hari Minggu biasanya gue kerja). Tiba-tiba teringat tadi sebelum pulang,  ketika gue masih di kantor, ibu menelepon dan meminta dibelikan kardus  untuk tempat nasi kotak. Mampirlah gue ke pasar Pondok Gede dan membeli  kardus itu.</p>
<p>Semua itu contoh kejadian di malam hari. Kalau di siang hari, lebih  tidak ada masalah lagi. Semua toko di Jakarta buka seperti biasa,  termasuk di hari Minggu. Lebaran pun tetap buka!</p>
<p>Jakartalah yang benar-benar layak dijuluki kota yang tak pernah  tidur.</p>
<p><em>Tulisan di atas merupakan  cermin penyesalan penulis karena pada Sabtu lalu lupa membeli roti dan  Minggu semua toko tutup, yang disambung hingga Senin karena merupakan  hari libur nasional…sial..sial..sial!</em></p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-1-e1271804709556.png"><img class="alignleft size-full wp-image-805" title="Windy Indriantari" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-1-e1271804709556.png" alt="" width="57" height="56" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Windy Indriantari</strong></p>
<p>( Dikutip dari blog pribadi, 12 Mei 2008  melalui <a href="http://stunedtestimonial.wordpress.com/2008/06/18/kota-yang-tak-pernah-tidur/" target="_blank">WP Testimonial Stuneder</a>)</p>
<address>Foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/85451010@N00/314327463/" target="_blank">BdR76</a> dan <a href="http://www.flickr.com/photos/37hz/296501499/sizes/s/" target="_blank">37hz</a> dengan lisensi Creative Commons<br />
</address>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/18/groningen-kota-yang-tak-pernah-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m falling in love</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/05/im-falling-in-love/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/05/im-falling-in-love/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 09:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=955</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, saya selalu bilang bahwa saya gak akan bisa tinggal di kota  lain di dunia ini yg lebih kecil dari Jakarta. Pekerjaan saya di kantor  yang dulu, mewajibkan saya untuk keliling ke berbagai kota di Indonesia,  mulai dari Tegal sampai Manado, dari Pekanbaru sampai Lombok, dan saya  selalu homesick. Tiga-empat hari tinggal di kota2 itu sudah bikin saya  gak betah, pengen pulang ke semrawut dan hiruk pikuknya Jakarta, yg  selalu (dan semakin) macet. Kecintaan saya yang begitu besar pada  Jakarta juga yang jadi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child " style="text-align: justify;"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2008/06/2308254878_491bc8906e_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-958" title="Groningen entrance" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2008/06/2308254878_491bc8906e_m.jpg" alt="" width="240" height="192" /></a><span title="D" class="cap"><span>D</span></span>ulu, saya selalu bilang bahwa saya gak akan bisa tinggal di kota  lain di dunia ini yg lebih kecil dari Jakarta. Pekerjaan saya di kantor  yang dulu, mewajibkan saya untuk keliling ke berbagai kota di Indonesia,  mulai dari Tegal sampai Manado, dari Pekanbaru sampai Lombok, dan saya  selalu homesick. Tiga-empat hari tinggal di kota2 itu sudah bikin saya  gak betah, pengen pulang ke semrawut dan hiruk pikuknya Jakarta, yg  selalu (dan semakin) macet. Kecintaan saya yang begitu besar pada  Jakarta juga yang jadi satu alasan saya gak mau kuliah S1 di kota lain.  Walaupun teman2 SMA saya dulu berlomba2 daftar PTN di kota B (selain  alasan akademis juga alasan pengen bebas dari ortu kata mereka, hehe… ),  saya tetap maunya di Jakarta aja!</p>
<p style="text-align: justify;">Time goes by… And then…saya diterima di program master di kota ini,  Groningen, Negeri Belanda. Dan Alhamdulillah, beasiswa Stuned juga  didapat… Baru kemudian saya cari di peta Belanda, di mana gerangan letak  Groningen? Hmm…jauh ya dari kumpulan kota-kota “besar” yang sudah saya  sering dengar namanya sebelumnya (dulu kan taunya cuma Amsterdam, Den  Haag, Rotterdam, dan Utrecht). Terus, baru tanya2 ke teman2 yang sudah  pernah kuliah di Groningen. Semua bilang, kotanya kecil, tapi cantik  kok. Aduh, kota kecil ya? Gimana dong… (yang anehnya sebelum daftar ke  Univ-nya saya gak pernah selidiki dulu kota Groningen itu seperti apa,  di mana… hehehe). Ada mall gak ya? (ga ada, kata mereka. For most  people, maybe it’s not a big deal, but for me? Maybe it’s equal with  imagining your food without rice ;p). Trus katanya, semua orang naik  sepeda. Yang terbayang langsung pedesaan lengkap dengan sapi-sapi  berkeliaran, ke kampus bersepeda menyusuri jalan setapak kecil, beli  susu dan keju langsung dari petani, dan jarak rumah ke rumah yang lain  berjauhan. Huhh…how can I live my life there??</p>
<p style="text-align: justify;">27 Agustus 2007,sampailah saya di kota Groningen stlh menempuh  perjalanan 18 jam by plane dan 2.5 jam by train dari Schiphol. Kesan  pertama, OK, it’s not as bad as I thought, it’s not as ‘village’ as I  imagined… I even liked the train station <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> . Hari pertama itu, setelah taro barang di  student house, kita diajak jalan2 ke centrum (city centre) oleh tim  penjemput, yang notabene mostly adalah anak2 Stuned 2006. Kesan  berikutnya, hey kota ini boleh juga ya… I liked the canal, I liked the  idea that everyone’s riding their bike… Kemudian, wah…bukan desa dengan  peternakan sapi kok, banyak toko2 di centrumnya! <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" /> Penduduknya juga ramai, banyak anak-anak  muda (Groningen memang salah satu kota pelajar di Belanda, komunitas  international studentnya cukup banyak. Lagi2 baru tau belakangan,  hehe..). Dan, makin banyak “ternyata ternyata” lainnya, yang syukurnya  adalah “ternyata” yang positif buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div class="mceTemp" style="text-align: justify;">
<dl class="wp-caption alignleft" style="width: 185px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img src="http://farm1.static.flickr.com/3/4922616_19ab14fa9c_m.jpg" alt="" width="175" height="228" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Salju di Groningen</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, hari-hari awal saya lalui dengan baik di kota kecil  Groningen ini. Yang semakin lama, semakin saya cintai. Kekhawatiran saya  tidak bisa tinggal di kota kecil tidak terbukti. Saya menikmati setiap  hari2 saya di sini. Hari-hari kuliah, hari-hari jalan2, hari-hari  menyerbu ’sale’ di centrum, hari-hari makan bersama dengan teman2  setanah air. Saya suka bersepeda di sisi kanal kecil dekat student house  saya, saya suka dengan bebas polusinya, bebas macetnya, keramaian  centrumnya yang “cukuplah” <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> . Saya suka melihat warna daun-daun pohon di  musim gugur, saya sangat excited menyambut salju pertama di musim  dingin, saya suka melihat bunga2 putih kecil bermekaran di  Noorderplantsoen di awal musim semi. Dan saya gembira dengan cerahnya  matahari di bulan Juni. Saya bukan hanya <em>bisa </em>hidup di kota  yang (jauh) lebih kecil dari Jakarta, tapi saya menikmati kehidupan saya  di sini. Saya jatuh cinta dengan kota kecil ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke, intinya, saya cuma mau bilang, don’t be afraid of something that  you’ve never been through before. Don’t let your worries become the  burden of your opportunity, of experiencing something different in your  life… Life is a process, life is a journey, enjoy your ride! <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> )</p>
<p style="text-align: justify;">Kontributor</p>
<p style="text-align: justify;">Sissy</p>
<p style="text-align: justify;">( Dikutip dari blog pribadi, 5 Juni 2008  melalui <a href="http://stunedtestimonial.wordpress.com/2008/06/18/kota-yang-tak-pernah-tidur/" target="_blank">WP Testimonial Stuneder</a>)</p>
<address style="text-align: justify;">Foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/runlevel0/2308254878/sizes/o/">Enric Martinez</a> &amp; <a href="http://www.flickr.com/photos/85451010@N00/4922616/sizes/s/" target="_blank">BdR76</a> dengan lisensi Creative Commons<br />
</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2008/06/05/im-falling-in-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

