<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PPI Groningen &#187; Jalan-jalan</title>
	<atom:link href="http://www.ppigroningen.nl/wp/tag/jalan-jalan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ppigroningen.nl/wp</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 09:34:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>ISC 4: Melintasi Perkebunan Apel di Applebergen</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/08/isc-4-melintasi-perkebunan-apel-di-applebergen/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/08/isc-4-melintasi-perkebunan-apel-di-applebergen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 16:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1099</guid>
		<description><![CDATA[
45 menit menjelang start ISC-4 dan mendung masih menggelayut di langit Lewenborg. Bismillah, setelah beberapa saat Nina mengecek perlengkapan kameranya, kami meluncur ke tempat start di kantor VVV Grotemarkt. Alhamdulillah, sesampai disana cuaca semakin cerah, membuat kami harus mengemas kembali jaket yang kami pakai. Satu persatu personel ISC mulai muncul; Pak Adji dan kemudian Aster. Dan setelah jarum Martini tower menunjukkan 15.45, berempat kami mulai mengayuh sepeda ke arah selatan Groningen. Kami balik rute yg direncakan semula, bukannya lewat Hornsemeer dulu akan tetapi menyisir pinggir timur dari rute ; menuju ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39803_1483173893128_1647293262_1179385_7623816_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1118" title="ISC 4 Anggur" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39803_1483173893128_1647293262_1179385_7623816_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p class="first-child " style="text-align: justify;">45 menit menjelang start ISC-4 dan mendung masih menggelayut di langit Lewenborg. Bismillah, setelah beberapa saat Nina mengecek perlengkapan kameranya, kami meluncur ke tempat start di kantor VVV Grotemarkt. Alhamdulillah, sesampai disana cuaca semakin cerah, membuat kami harus mengemas kembali jaket yang kami pakai. Satu persatu personel ISC mulai muncul; Pak Adji dan kemudian Aster. Dan setelah jarum Martini tower menunjukkan 15.45, berempat kami mulai mengayuh sepeda ke arah selatan Groningen. Kami balik rute yg direncakan semula, bukannya lewat Hornsemeer dulu akan tetapi menyisir pinggir timur dari rute ; menuju Appelbergen hingga Zuidlaren baru nanti kembalinya Hornsemeer.</p>
<div style="text-align: justify;">
<p><span title="R" class="cap"><span>R</span></span>uas Helperzoom dan Kerklaan sepertinya memang jalur bagi para kommuter dari Haren. Jalanan teduh dan tidak ramai kendaraan bermotor merupakan jalur yg sempurna tuk dilewati tiap hari kerja. Dan belum 1 km menyusuri Helperzoom, kita sudah disuguhi dengan bau yg berbeda. Bau tanah basah dan segarnya pepohonan. Pesona sepetak kebun anggur bertuliskan biologisch/organik persis di samping kanan jalan tak kuasa kami tolak. Memaksa kami tuk berhenti dan sejenak mengabadikan buah buah kecil hijau yg hampir masak. Hal yg luar biasa bagi kami khususnya yg selama ini hanya tahu mengkonsumsi anggur tanpa pernah liat langsung di pohonnya.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40046_1483181133309_1647293262_1179409_2654657_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1115" title="ISC 4 Narrow biketrack" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40046_1483181133309_1647293262_1179409_2654657_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Selanjutnya, memasuki Haren kami dibawa menyusuri fietspad yang memang sengaja dibuat melewati wilayah hijau kota Haren. Tidak banyak mobil yang kami temui, tp justru para tua dan muda yang sedang jogging dan bersepeda. Setelah melintasi rel tidak jauh dari stasiun Haren dan setelah dengan was was mencoba berfoto di tengah rel, kami sempat ragu untuk terus karena jalan aspal sekarang berubah menjadi jalan tanah. Akan tetapi kemudian beberapa rombongan pesepeda melintas dari arah depan kami. Saya jd ingat, memang ada satu ruas jalan yang tidak muncul di google maps kalo kita klik map, tapi klo kita ganti ke versi satelite dan di zoom in akan terlihat samar samar jalan lurus diantara pepohonan di hutan. Ternyata kami sudah memasuki kawasan Applebergen, &#8216;gunungnya&#8217; provincie Groningen.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Pohon pohon di Applebergen lumayan bervariasi dan terlihat lumayan tua, dilihat dari volumenya dan tumbuhan merambat yang tumbuh sepanjang batangnya:jadi ingat Barotan ketika di Sulawesi. Sejuk nian melewati pepohonan ini. Terasa sekali kesan offroadnya dengan jalan tanah dan tapak2 kuda di atasnya. Dan tepat di depan bungalow applebergen, kami melihat papan penunjuk sebuah monumen. kami menyoba mencarinya tapi tidak ketemu. akan tetapi kami justru menemukan di tengah hutan di sebuah jalan setapak, papan penunjuk dengan satu panah menunjuk ke utara bertuliskan Pieterburen, satunya menunjuk ke selatan bertuliskan Pietersberg. Owh..inilah Pieterpad yang terkenal itu. Pak Adji menjelaskan ini adalah jalur trekking/berjalan kaki sepanjang 485 km dari Pieterburen di utara hingga puncak Saint peter di Maastricht.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39499_1483187973480_1647293262_1179429_1544662_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1116" title="ISC 4 Countryside" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39499_1483187973480_1647293262_1179429_1544662_n-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Keluar dari Applebergen, sudah terdapat jalan aspal kasar untuk fietspad tetapi tetap jalan tanah untuk mobil. Di kanan  kiri beberapa kami menemukan tempat kemping yg lg ramai dikunjungi. Memasuki desa petani Noordlaren, terlihat rumah dengan tanah yg luas untuk menggembalakan kuda, kambing, sapi dan beberapa petak kebun jagung serta sayuran. Terkesan mode self sustanance msh menghiasi kehidupan masyarakat disini. Mode hidup berusaha sebisa mungkin mandiri khususnya tuk kebutuhan pokok sehari hari. Aster menyempatkan membeli madu di sebuah kios kejujuran bertuliskan &#8220;Honing te koop&#8221; di pinggir jalan. Dengan memasukkan ke celengan sebesar 2 euro per botolnya kita bs memilih beragam madu dari bunga yg berbeda. Di desa ini pula terletak salah satu situs megalitikum eropa. Memasuki tengah desa, akan terlihat papan penunjuk mengarah ke barat bertuliskan Hunebed, kuburan megalitikum. Hanya sekitar 100 meter keluar dari desa, di tengah padang gandum dan pepohonan besar kita bs menemukan batu batu besar ditata sedemikian rupa seperti bifak ato tenda darurat. Beberapa batu berfungsi sebagai fondasi dan sebuah batu besar diletakkan di atasnya seakan berfungsi sebagai atap. Sungguh luar biasa membayangkan bagaimana orang dulu bisa sampai punya ide seperti ini. sempat terfikir apakah memang ini penanda sebuah kuburan ato mungkin gaya orang dl main boy boyan. Yg jelas, tipe batunya tdk dpt ditemukan di wilayah Belanda manapun, pastinya dari daerah dengan gunung berapi.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Sejenak melepas lelah, melihat peta lagi, berfoto di ladang gandum dan di kuburan dng tripod modifikasi kadang berupa sepeda, kadang tempat sampah, kadang batu kuburan&#8230;<img src="http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/01.gif" alt="" />. Rasa sejuk dan hangatnya senja terasa sebegai hadiah yang tak terkira. kami berdiskusi apa mau memotong trus mengikuti jalan tanah ini ato kembali ke rute semula tuk menuju Zuidlaren. kami setuju untuk trus sampai selatan di Zuidlaren. Keluar dari kompleks kuburan, ternyata ban saya sedikit gembos. Wah kayaknya terlalu banyak beban nih&#8230;jd terbayang film horor mungkin da yg ikut bonceng ya. lha klo ini kuburannya segede itu, demitnya pastinya gedhe banget. Mm ternyata krn memang bannya sudah mulai gundul dan kurang siap tuk medan offroad yg tadi dilewati.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40492_1483201253812_1647293262_1179452_5089085_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1117" title="ISC 4 Paterswoldsemeer" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/40492_1483201253812_1647293262_1179452_5089085_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Keluar dari Noordlaren dan memasuki Midlaren, gementee Tynarloo, kita berbelok kiri ke danau Zuidlardermeer. Lebih luas daripada Hoornsmeer dan Paterswoldemeer. Pavilun paviliun yg sangat bagus, yacht mewah terparkir disana. lumayan ramai dengan para pengunjung yg sedang berlatih windsurfing, cannoeing ato berkumpul di paviliun sambil mengikuti summercamp. Perjalanan berlanjut menyusuri Esweg menuju Zuidlaren. Di spanjang jalan bertebaran ranch dengan kuda terbaiknya diselingi sesekali padang gandum, dan bunga matahari. Sebuah spot indah yg layak tuk diabadikan.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Setelah berkeliling Zuidlaren, sekaligus sedikit tersesat..maklum habis dari hutan langsung masuk kota bingung dengan banyaknya cabang cabang jalan. akhirnya mampu jg kita sampai di ujung barat Zuidlaren, yang mengantar ke jalan pulang. Setengah jalan sudah kita lalui, dan jam sudah menunjukkan angka 8. Kita tinggal kembali menuju lurus ke utara untuk sampai di Groningen. Jalan jalan aspal kasar dan tanah tuk mobil di sela sela pepohonan di hutan, beberapa vila dan perkemahan kembali kami lalui. Memang luar biasa infrastruktur yg sudah dibangun. Jalanan memang sengaja dibuat untuk memotivasi orang bersepeda dan men discourage orang menggunakan mobil melewatinya. ..kecuali mau mabuk darat digoncang di jalanan berlobang.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38552_1483207813976_1647293262_1179472_3790697_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1119" title="ISC 4 Flower field" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38552_1483207813976_1647293262_1179472_3790697_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Memasuki Glimmen kami memutuskan memotong rute. kami memilih mengambil jalan lurus melewati pusat Haren dan melewatkan paterswolde dan hornsemeer. Hari sudah lumayan sore, dan perut mulai tidak kompromi. bukan perjalanan jauh sebenarnya, tetapi dikarenakan banyaknya titik yg tdk mungkin kami lewati tanpa mengambil gambarnya..dengan modelnya tentu saja. Di sepanjang jalan lurus Rijksstraaweg, banyak rumah megah dengan halaman yg indah laksana istana bogor minus kijangnya. Beberapa rumah bertuliskan pusat terapi mental&#8230;beruntung kami tidak perlu sakit mental tuk menikmati indahnya Haren.Rumah rumah megah berganti dengan rumah rumah medium, bernuansa pragmatis dan halaman rapi yg sempit menandakan sebentar lg kami sampai di Groningen.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Akhirnya tim berpisah di sebuah warung dekat harmonie building, sebagian ingin segera pulang untuk menurunkan pakaian dari jemuran, sebagian singgah ke warung untuk menyapa penjualnya <img src="http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/01.gif" alt="" />. Kabar sedih sempat kami dengar, karena barusan segerombolan mahasiswa Indonesia sukses menyantroni warung ini. Beruntung, 2 porsi terakhir hidangan favorit msh tersedia kami, akan tetapi menyisakan kesedihan bagi sepasangan suami istri yg datang dng niat yg sama.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39103_1483195733674_1647293262_1179440_2351098_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1120" title="ISC 4 Big stone" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/39103_1483195733674_1647293262_1179440_2351098_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Alhamdulillah, cuaca yg cerah, matahari senja yg hangat, panorama yg mengagumkan, keramahan petani pedesaan Belanda, situs sejarah yg mencengangkan, pengalaman persahabatan yg mengesankan dan tentunya medan yang menantang membuat kami berempat bersyukur krn tidak melewatkan trip ini. Semuanya merupakan buah yg dihadiahkan oleh Tuhan. Dan tentunya kami berharap bukan hanya kenikmatan inderawi yg kami dapatkan, tp kelembutan hati yg membuat kami terus bersyukur atas nikmat yg selalu diberikan. Just a perfect day to start the Ramadan&#8230;</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Happy Ramadan, dan tunggu trip berikutnya dalam edisi ISC ngabuburit ..</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/Afbeelding-3.png"><img class="size-full wp-image-1114 alignleft" title="Muhammad Sigit" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/Afbeelding-3.png" alt="" width="75" height="91" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Muhammad Sigit</strong></p>
<p>Foto: <a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=1179385&amp;id=1647293262&amp;ref=fbx_album#!/album.php?aid=59682&amp;id=1647293262&amp;page=2" target="_blank">Nina A Akrom</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/08/08/isc-4-melintasi-perkebunan-apel-di-applebergen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISC 2 : Menyapa Anjing Laut di Pieterburen</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/25/isc-2-menyapa-anjing-laut-di-pieterburen/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/25/isc-2-menyapa-anjing-laut-di-pieterburen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 12:06:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1077</guid>
		<description><![CDATA[

Perjalanan di awali pada pukul 09.15 dan diakhiri pukul 15.10, agak  telat awalnya dari yang dijadwalkan karena ada sedikit masalah teknis  dan juga acara briefing dan doa bersama. Seluruh pesertanya sendiri  sudah datang sebelum pukul 09.00 (I really appreciate this, thanks to  all participants). Rute yang diambil adalah Groningen (BB) &#8211; Adorp &#8211;  Sauwerd &#8211; Winsum &#8211; Eenrum &#8211; Pieterburen &#8211; Baflo &#8211; Winsum &#8211; Sauwerd &#8211;  Adorp &#8211; Groningen (BB). Total jarak tempuh adalah 49 km dan laju  rata-rata 12,25 km/jam. Dengan asumsi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p class="first-child "><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38683_1411466119757_1025612056_30937886_6080927_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1091" title="Pieterburen" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38683_1411466119757_1025612056_30937886_6080927_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="P" class="cap"><span>P</span></span>erjalanan di awali pada pukul 09.15 dan diakhiri pukul 15.10, agak  telat awalnya dari yang dijadwalkan karena ada sedikit masalah teknis  dan juga acara briefing dan doa bersama. Seluruh pesertanya sendiri  sudah datang sebelum pukul 09.00 (I really appreciate this, thanks to  all participants). Rute yang diambil adalah Groningen (BB) &#8211; Adorp &#8211;  Sauwerd &#8211; Winsum &#8211; Eenrum &#8211; Pieterburen &#8211; Baflo &#8211; Winsum &#8211; Sauwerd &#8211;  Adorp &#8211; Groningen (BB). Total jarak tempuh adalah 49 km dan laju  rata-rata 12,25 km/jam. Dengan asumsi berat badan 70 kg, energi terpakai  adalah 1120 kkal, yang ekivalen dengan 120 gram lemak (Hernowo, 2010).</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Meskipun diperkirakan tidak ada acara kesasar, sempat dua kali kita  bingung dengan jalan. Untung di masing-masing kesempatan ada warga  lokal yang membantu. Waktu di Winsum, kita diabai-abai seorang oma yang  sedang menemani jalan-jalan anjingnya, kalau jalan yang kita pilih salah  karena itu jalan ke kompleks pabrik. Sewaktu menjelang Eenrum, ada  sepasang oma-opa yang tanpa diminta, datang membantu saya yang membaca  peta. Walau masing-masing tidak bisa berkomunikasi secara verbal, dengan  kode-kode dan afeksi, akhirnya ditemukan jalan yang benar. Dua insiden  ini dan juga kesempatan saling ber-hoi-hoi dengan sebuah kapal keluarga  Belanda di sepanjang sebuah kanal, sungguh pengalaman-pengalaman yang  dapat memperkaya batiniah.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38683_1411465999754_1025612056_30937883_7125602_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1092" title="Kanaal" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38683_1411465999754_1025612056_30937883_7125602_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Pemandangan menarik dijumpai di desa Eenrum. Ternyata benar apa  yang ditulis di website, pusat desa Eenrum cukup unik. Sekilas mirip  desa-desa di Jerman. Dan pastinya pas kita lewat, sepi sekali  jalan-jalannya seperti kota hantu sampai Lia merinding&#8230;hehe. Tapi kita  kemudian sadar, mungkin semua orang sedang kebaktian di gereja. Oya,  kita lewat Museum Mustard di Eenrum yang dilengkapi dengan sebuah  restoran/cafe yang menarik. Sempat sepakat untuk mampir pulangnya, tapi  jadinya batal karena pulangnya diputuskan muter lewat Baflo yang lebih  jauh. Konon biar lebih besar pahalanya (????, 2010; quote siapa yah ini,  saya lupa)</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Kunjungan ke SRRC-nya sendiri juga merupakan pengalaman yang  berharga. Selain dihibur oleh wajah-wajah imut serta tingkah laku  menggemaskan Vera, Piet, Hans, dan kawan-kawan, kami juga mendapat  pengetahuan dan kesadaran melalui foto-foto dan sebuah film pendek  tentang bahaya kegiatan manusia terhadap ekosistem, khususnya kehidupan  anjing laut di laut utara Belanda. Hati saya sempat miris melihat  monumen (seni) yang berupa tumpukan jaring-jaring yang menyangkut ke  (bayi) anjing laut  yang tidak bisa mereka lepaskan (kebayang kan tangan  anjing laut seperti apa) sampai mereka beranjak dewasa. Tumpukan itu  tingginya lebih dari 3 meter dan mencakup luasan lebih dari 5 meter  persegi. Di sekitar monumean terdapat foto-foto kondisi anjing-anjing  laut yang ditemukan beserta jaringnya. Sedih sekali melihatnya. Tapi  setidaknya hal ini dapat menambah kesadaran kepada kita untuk  berhati-hati dan tidak bersikap ignorance/selfish terhadap lingkungan  sekitar kita.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38148_1411539161583_1025612056_30938018_3138552_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1094" title="Sapi" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38148_1411539161583_1025612056_30938018_3138552_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di Pieterburen rombongan ISC 2 sempat ketemu dengan rombongan Pak  Adhi yang sepedanya rodanya empat, dan kita sempat piknik bersama makan  bekal masing-masing, termasuk sebungkus jipang (orang Jatim pasti tahu  ini makanan apa) made in China, di atas tanggul sambil menonton polah  tingkah menggemaskan balita (orang) Belanda di pinggir kolam.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan pulang sedikit penuh perjuangan, karena selain rutenya  jauh dan kondisi mulai capek, ada beberapa sepeda yang kurang fit atau  setelannya kurang pas. Karena dari itu, (pesan sponsor): untuk kegiatan  berikutnya, please dicek dan tune baik-baik sepedanya. Biasanya Pak Adji  dengan sukarela mau membantu. Dan beliau ini profesional sekali loh  dalam hal urusan sepeda (riset juga sudah barang tentu&#8230;.).</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38341_1411466919777_1025612056_30937898_966779_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1093" title="Pieterburen Anjing Laut" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/08/38341_1411466919777_1025612056_30937898_966779_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dengan hampir tanpa nonstop dari jam 13.15, kecuali sesi  foto pose wajib di atas jembatan di daerah Winsum, kami sampai kembali  di belakang BB pukul 15.10. Walau tampak sebagian capek dan sudah ada  yang gak sabar saling pijat, kita sempat mengobrol-ngobrol sebentar  mengomentari perjalanan  yang sangat berkesan barusan. Bahkan beberapa  sudah gak sabar dan menantang untuk minggu depan langsung tancap ke  Schiermonnikoog yang 50% lebih jauh dari rute kemarin. Bagaimana? Siap  ke Schiermonnikoog, allemaal???</p>
<p style="text-align: justify;">ISC (Indonesian Summer Cycling Groningen) adalah kegiatan rekreasi bersepeda di propinsi Groningen. Artikel ini adalah seri kedua.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/Afbeelding-9.png"><img class="size-full wp-image-1066 alignleft" title="Titah Yudhistira" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/Afbeelding-9.png" alt="" width="67" height="87" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Titah Yudhistira</strong></p>
<p>Foto: <a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=14158159&amp;id=595245272#!/album.php?aid=2052716&amp;id=1025612056" target="_blank">Iswandi Basri</a><strong><br />
</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/25/isc-2-menyapa-anjing-laut-di-pieterburen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISC 1 : Menyusuri Groningen dan Haren</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/19/indonesian-summer-cycling-groningen-i/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/19/indonesian-summer-cycling-groningen-i/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 12:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[

Hari Minggu 18 Juli 2010 kemarin, telah dilaksanakan kegiatan perdana Indonesiana Summer Cycling Groningen yang digagas oleh Pak Adji. Animo warga Indonesia di Groningen cukup besar juga ternyata. Dari yang diperkirakan akan diikuti sekitar 10 orang, ternyata berkembang menjadi 19 orang (termasuk dua tamu dari Indonesia). Konsekuensinya, iring-iringan kita cukup panjang.


Rute yang dilewati adalah Groningen centrum, stadspark, sisi barat Hornseemer, Eelde, Vosbergen, Wittemolen, Haren, centrum: dengan total perjalanan +/- 25 km dan total waktu +/- 4 jam (mulai pukul 09.15, selesai pukul 13.00). Selama perjalanan kita melakukan beberapa kali pemberhentian yaitu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p class="first-child " style="text-align: center;"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/35183_1386735147011_1191008275_30974132_4542187_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-1056 aligncenter" title="Indonesiana Summer Cycling" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/35183_1386735147011_1191008275_30974132_4542187_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span title="H" class="cap"><span>H</span></span>ari Minggu 18 Juli 2010 kemarin, telah dilaksanakan kegiatan perdana Indonesiana Summer Cycling Groningen yang digagas oleh Pak Adji. Animo warga Indonesia di Groningen cukup besar juga ternyata. Dari yang diperkirakan akan diikuti sekitar 10 orang, ternyata berkembang menjadi 19 orang (termasuk dua tamu dari Indonesia). Konsekuensinya, iring-iringan kita cukup panjang.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/34784_1386731346916_1191008275_30974098_4812248_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1058" title="Mengayuh" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/34784_1386731346916_1191008275_30974098_4812248_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Rute yang dilewati adalah Groningen centrum, stadspark, sisi barat Hornseemer, Eelde, Vosbergen, Wittemolen, Haren, centrum: dengan total perjalanan +/- 25 km dan total waktu +/- 4 jam (mulai pukul 09.15, selesai pukul 13.00). Selama perjalanan kita melakukan beberapa kali pemberhentian yaitu di Hornsemeer, Huis Lemferdinge (Eelde), Wittemolen, dan Italini Ice Cream (Haren).</p>
</div>
<div>
<p>Tidak dijumpai halangan yang berarti selama perjalanan (sekali salah jalan, tapi ada berkahnya juga ketemu sapi mirip bison; rantai sepeda Iging patah, untungnya sudah masuk Groningen). Dan dari tawa ceria para peserta sepanjang perjalanan, saya menilai semuanya, termasuk tamu kita dari Indonesia, bisa menikmati perjalanan yang cukup panjang ini.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/34507_1386734106985_1191008275_30974129_7198701_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1057" title="Bersepeda" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/34507_1386734106985_1191008275_30974129_7198701_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Pemandangan di tempat-tempat yang kami lewati juga sangat indah dan tidak membosankan. Orang-orang yang berpapasan juga sangat ramah-ramah (bahkan ada beberapa yang sempat mengajak bercakap-cakap). Bagi saya pribadi, kegiatan perdana ISC kemarin menjadi suatu pengalaman yang sangat menyenangkan. Saya pribadi mengucapkan terima kasih ke Pak Adji yang telah menggagas kegiatan ini.</p>
</div>
<div>
<p>Rencananya ISC akan menyelenggarakan kembali kegiatannya minggu depan. Untuk kepastian waktu dan rutenya akan diumumkan di milis. Rekan-rekan yang kemarin belum sempat mengikuti ISC-01/2010 kami undang untuk mengikuti kegiatan berikutnya ini.</p>
<p><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/Afbeelding-9.png"><img class="alignleft size-full wp-image-1066" title="Titah Yudhistira" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/07/Afbeelding-9.png" alt="" width="76" height="98" /></a>Kontributor</p>
<p><strong>Titah Yudhistira</strong></p>
<p>Foto: <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=2051262&amp;id=1191008275&amp;page=2" target="_blank">M. Insanu</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/07/19/indonesian-summer-cycling-groningen-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terdampar di Portugal</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[Perjalananku ke, di dan dari Portugal, 13 &#8211; 20 April 2010 akan jadi  salah satu perjalanan yg tak terlupakan dalam hidupku. Bagaimana tidak,  menurut sahabatku aku bisa menganggap diriku sebagai  bagian dari  sejarah hahaha&#8230; berlebihan &#38; aku tau dia sedang bercanda.. tapi  setelah kupikir-pikir, mungkin juga. Paling tidak perjalanan itu menjadi  bagian dari sejarah hidupku sendiri.. yang bisa kuceritakan pada  VanyAlma &#38; cucu-cucuku nanti..
Perjalanan ini menjadi berharga, bukan hanya karena tempat-tempat indah  yang kukunjungi, sahabat lama &#38; keluarganya yang kutemui,  orang-orang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1028" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/26138_388397219083_812484083_3829649_7100392_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-1028" title="Terdampar di Portugal" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/06/26138_388397219083_812484083_3829649_7100392_n-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="first-child wp-caption-text"><span title="T" class="cap"><span>T</span></span>empatku tidur di Porto Campanha Airport</p></div>
<p>Perjalananku ke, di dan dari Portugal, 13 &#8211; 20 April 2010 akan jadi  salah satu perjalanan yg tak terlupakan dalam hidupku. Bagaimana tidak,  menurut sahabatku aku bisa menganggap diriku sebagai  bagian dari  sejarah hahaha&#8230; berlebihan &amp; aku tau dia sedang bercanda.. tapi  setelah kupikir-pikir, mungkin juga. Paling tidak perjalanan itu menjadi  bagian dari sejarah hidupku sendiri.. yang bisa kuceritakan pada  VanyAlma &amp; cucu-cucuku nanti..</p>
<p>Perjalanan ini menjadi berharga, bukan hanya karena tempat-tempat indah  yang kukunjungi, sahabat lama &amp; keluarganya yang kutemui,  orang-orang baik &amp; ramah (bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan untuk  membantuku), teman-teman baru (dari berbagai bangsa &amp; negara) yang  kusapa, tetapi terlebih karena seluruh perjalanan ini membuatku keluar  dari tempurungku, mengatasi ketakutanku dan membuatku mengerti apa yang  mampu kulakukan.. I know what I&#8217;m capable of, because of this particular  trip.</p>
<p>Selasa, 13 April, tujuan utamaku adalah Lisbon. Selain Roma, Lisbon  adalah salah satu kota yang kutekadkan untuk kukunjungi sebelum pulang  ke Indonesia. Bukan semata-mata untuk melihat keindahan kotanya, tapi  terlebih untuk mengunjungi seorang sahabat dan keluarganya disana. Aku  memutuskan pergi sendiri karena ternyata Portugal bukan tempat favorit  bagi teman-temanku yang sama-sama suka jalan. Demi tiket murah, aku  harus berangkat jam 2 subuh menuju Bremen untuk naik pesawat Ryanair  selama 3 jam, turun di Faro dan melanjutkan perjalanan dengan bis selama  kurang lebih 2 jam untuk sampai ke Lisbon. Demikian pula saat pulang,  aku harus berkereta selama 2,5 jam ke Porto untuk kemudian naik pesawat  ke Eindhoven selama 3 jam dan melanjutkan dengan kereta ke Groningen  selama 2,5 jam. Rencananya, perjalananku kali ini akan berakhir Jumat,  16 April 2010.</p>
<p>Cemas menyelinap dalam hati membayangkan betapa sekian etape perjalanan  harus aku hadapi sendiri. Tapi aku berusaha menenangkan diri karena aku  pernah ke Bremen dan begitu sampai Lisbon aku akan tinggal bersama  sahabatku. Pengalaman naik pesawat Ryanair &amp; naik metro dalam  beberapa perjalananku sebelumnya bisa kujadikan referensi.</p>
<p>Sejak berangkat sampai ke Faro, tidak ada kesulitan berarti yang  kuhadapi. Bahkan di Faro aku bertemu seorang teman baru. Seorang pelajar  dari Lithuania yang sedang menuju Lisbon untuk menemui kekasihnya. Kami  sempat berjalan-jalan, berfoto-foto bersama melihat-lihat kota Faro  sebelum melanjutkan perjalanan ke Lisbon. Suhu Faro saat itu sangat  hangat, sangat berbeda dari Groningen yang dingin. Turis2 berbusana  summer berjalan2 di sekitar dermaga. Senang, gembira, tersenyum.</p>
<p>Sampai di Lisbon, aku dijemput sahabatku, istirahat sebentar dan  langsung diajak jalan-jalan seputar kota Lisbon. Banyak hal yang bisa  dinikmati di Lisbon. Bangunan-bangunan tua dengan detil-detil yang  mencengangkan, kastil di atas bukit, menara kota, patung-patung, pusat  perbelanjaan, street performance &amp; masih banyak lagi. Keesokan  harinya, sahabatku &amp; keluarganya mengantarku ke Fatima, sebuah kota  dimana terletak tempat ziarah bagi umat Katolik. Di sana Bunda Maria  pernah menampakkan dirinya pada 3 orang anak kecil dan di tempat itu  didirikan basilica besar, beberapa kapel dan tempat jalan salib yang  indah. Dalam perjalanan kembali ke Lisbon, kami mampir di sebuah tempat  yang sangat berangin, sebuah tebing dengan tugu dan salib diatasnya lalu  laut lepas. Kata sahabatku, tempat itu adalah ujung barat benua Eropa.  Euphoria melandaku seketika.. tak pernah kubayangkan aku berada di ujung  Eropa hahahaha&#8230; Kami juga mengunjungi Tower of Belem, Jeronimo&#8217;s  Monastery,dan Monument to the Discoveries.  Hari ketiga di Lisbon, aku  diantar ke Sintra. Sebuah dataran tinggi diluar kota Lisbon, dimana  terletak Pena Palace, sebuah istana bergaya Romanticism yang dicanangkan  menjadi warisan dunia (world heritage).</p>
<p>Puas berjalan-jalan, lelah dan senang. Apalagi sambil meladeni  kecerewetan gadis kecil lucu &amp; pintar, anak sahabatku, yang selalu  mengingatkanku pada VanyAlma di Bandung, perjalananku hampir sempurna.  Kecemasan melandai, ketika sedang mengepak kembali barang-barangku dalam  ransel, kami melihat berita di CNN tentang gunung berapi yang meletus  di Islandia &amp; membuat banyak penerbangan di batalkan. Kami langsung  mengecek situs Ryanair dan Porto Airport. Sampai sore itu, jadwal  penerbanganku belum masuk dalam daftar yang dibatalkan. Sepanjang malam  aku berharap semoga aku tetap bisa berangkat keesokan paginya.</p>
<p>Harapanku tidak menjadi kenyataan. Manusia boleh berencana, katanya,  tapi Tuhan yang menentukan. Begitulah yang terjadi padaku. Bangun  pagi-pagi dan bersiap-siap berangkat ke Porto. Disambut dengan berita  buruk bahwa penerbanganku dibatalkan. Aku berusaha mengganti jadwal  penerbangan melalui situs Ryanair tapi tidak berhasil. Karena sudah  check-in online, aku harus datang ke bandara  &amp; mengganti jadwal  disana. Akhirnya aku berkereta ke Porto Airport. Sampai di sana antrian  mulai panjang. Aku mengantri dengan banyak orang Jerman &amp; Belanda  yang seharusnya terbang ke airport-airport di Jerman &amp; Belanda hari  itu. Waktu itu hari Jumat pagi. Aku diberi pilihan, uangku dikembalikan,  mengganti jadwal penerbangan dengan tujuan Eindhoven yang berangkat  hari Senin pagi, atau tujuan Dusseldorf yang berangkat Minggu sore. Aku  pilih penerbangan ke Dusseldorf Minggu sore karena ingin segera sampai  Groningen. Walaupun setelah memilih itu aku baru terpikir bahwa kalau  sampai di Dusseldorf malam hari, belum tentu aku bisa langsung  melanjutkan perjalanan ke Groningen. Karena itu, aku menghubungi salah  satu temanku di Jerman, minta pertolongan untuk mencarikan penginapan di  Dusseldorf atau jadwal kereta menuju Belanda.</p>
<p>Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di bandara, menolak tawaran  sahabatku di Lisbon untuk kembali kesana. Dengan membayar 6 euro untuk  menyegel ransel &amp; 2.13 euro untuk jasa penitipan, ransel kutitipkan  di tempat penyimpanan barang. Setelah segala urusan beres, hatiku mulai  tenang. Aku makan siang di bandara dan merencanakan untuk jalan-jalan di  seputar kota Porto sebelum hari gelap. Berbekal peta yang kuambil dari  tourist information, aku naik metro menuju Porto. Kota Porto ternyata  tidak kalah indahnya dengan Lisbon. Bangunan-bangunan tua, tugu-tugu,  taman, dan satu yang berkesan adalah sungai lebar bernama Ribiera dengan  jembatan panjang yang menghubungkan tengah kota Porto dengan daerah  bernama Gaia. Cafe-cafe di sepanjang sungai memasang meja dan  payung-payung di depan toko mereka. Romantis <img src='http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  sayangnya.. waktu itu  hujan. Aku berteduh sambil minum kopi di salah satu cafe. Pelayannya  mengajakku ngobrol. Ternyata dia orang Eindhoven yang bekerja di sana  selama summer. Sebelum hari gelap aku kembali ke bandara. Mencari tempat  yang nyaman untuk tidur. Aku tidur di sebuah bangku panjang terbuat  dari besi yang membuat sepanjang malam itu aku kedinginan dan sering  terbangun. Bandara Porto cukup luas, aman, buka 24 jam dan banyak orang  yang juga menginap di sana sambil menunggu penerbangan.</p>
<p>Keesokan pagi, aku bangun dengan semangat. Aku sudah berencana, aku akan  membaca artikel yang kubawa sambil menunggu pesawatku terbang sore  harinya. Tetapi, selesai sarapan aku melihat di papan pengumuman banyak  penerbangan ke Jerman dibatalkan. Cemas menyelinap lagi. Aku cek situs  ryanair dan ternyata benar, penerbanganku sore itu dibatalkan lagi.  Huaaaa&#8230; seketika ingin menangis &amp; panik.. Aku hubungi sahabatku di  Lisbon, minta tolong untuk mencarikan bis atau kereta yang bisa segera  membawaku ke Groningen. Aku benar-benar ingin cepat sampai Groningen  karena ada kuliah yang harus kuikuti hari Selasa dan ada target untuk  tesisku yang harus kuselesaikan. Aku mengantri lagi di loket Ryanair  untuk mengganti jadwal pesawat. Kali ini banyak orang Perancis &amp;  Jerman yang mengantri. Sementara mengantri, sahabatku memberi kabar  bahwa ada kereta dari Lisbon ke Amsterdam yang berangkat hari Senin pagi  dengan harga 144 euro. Aku menunda keputusanku untuk membeli tiket  tersebut karena masih ingin mencari kepastian dari Ryanair. Ternyata,  jadwal penerbangan ke Belanda atau Jerman baru ada lagi pada hari Selasa  siang. Aku memutuskan untuk minta penggantian uang, lalu meminta  temanku membelikan tiket bis Lisbon &#8211; Amsterdam dan kembali ke Lisbon,  ke rumah sahabatku.</p>
<p>Dalam perjalanan menuju Lisbon, sahabatku memberi kabar ternyata tiket  bis Lisbon &#8211; Amsterdam sudah habis terjual. Keputusanku yang terlambat  beberapa menit saja, membuatku kembali gagal segera sampai di Groningen.  Untungnya sahabatku menemukan perusahaan bis yang masih menjual tiket  dari Lisbon ke Paris seharga 89 euro. Seketika aku meminta sahabatku  untuk membeli tiket itu, tanpa banyak bertanya &amp; tanpa banyak  pertimbangan lagi daripada menanggung resiko kehabisan tiket lagi.  Setelah itu, baru terpikirkan bahwa aku masih harus mencari tiket kereta  dari Paris menuju Groningen dan baru terpikirkan juga bahwa aku tetap  tidak bisa menghadiri kuliahku hari Selasa karena butuh 38 jam  perjalanan untuk sampai di Groningen dari Lisbon melalui jalan darat.</p>
<p>Hari Sabtu malam, aku kembali ke rumah sahabatku. Malam itu, aku memesan  tiket kereta dari Paris ke Groningen melalui situs Nshighspeed dan  membayar 123 euro. Keesokan harinya, seolah-olah ingin menghiburku  (hehehe.. gw GR bgt ya boo..) aku kembali diajak jalan-jalan. Kali ini,  mengunjungi Cristo Rei. Sebuah tempat dimana berdiri patung besar Yesus  sedang merentangkan tangannya seperti yang ada juga di Dilli &amp; Rio  de Janeiro. Dalam jalan-jalan ini temanku tambah banyak, karena  sahabatku juga mengajak kenalan-kenalannya,  sebanyak 9 orang.  Perjalanan yang seru, diakhiri dengan makan-makan enak dan  ngobrol-ngobrol santai, sejenak membuatku lupa pada kekecewaan,  kepanikan dan rasa rindu yang melanda terhadap kamar dan  sahabat-sahabatku di Groningen.</p>
<p>Perjalanan ke Cristo Rei membuatku terpana, karena ketika berada di  dalam kapel Cristo Rei aku mengambil sebuah kertas yang disediakan untuk  pengunjung dan diantara sekian banyak kertas kecil yang tersedia,  terambil olehku, kertas bertuliskan : &#8220;Do not be anxious about anything.  In everything resort to prayer and supplication together with  thanksgiving and bring your request before God (Fil 4:7)&#8221;</p>
<p>Akhirnya datang juga hari yang dinantikan. Senin siang pk 13.30, bisku  berangkat. Aku diantar istri sahabatku &amp; anaknya. Terharu karena  kebaikan dan kemurahatian mereka menjadi shelter selama aku terdampar,  kami berpelukan. Aku berkenalan dengan dua orang perempuan Inggris. Sama  seperti aku, pesawat mereka menuju UK dibatalkan. Nasib mereka lebih  buruk dari aku karena sesampainya di Paris mereka masih harus mencari  transportasi untuk sampai ke Cambridge. Mereka berencana naik bis lagi  dan ferry. Duduk di sebelahku seorang perempuan Perancis. Dia dan  suaminya akan menunju Lyon sesampainya di Paris. Tampaknya semua orang  di bis itu mengalami pengalaman yang sama denganku. Pesawat mereka  dibatalkan. Kebanyakan mereka orang-orang berbahasa Portugis &amp;  Perancis, beberapa berbahasa Inggris. Hanya aku yang orang Asia. Aku  merasa sedang berada di Menara Babel, dimana semua orang berbeda bahasa  &amp; semua terasa asing bagiku.</p>
<p>Kecemasan kembali datang ketika baru saja 2 jam perjalanan, ban bis yang  kutumpangi kempes !! Aku berpikir.. &#8220;kenapa sial banget sih  gueeeeeee???&#8221; Cemas karena aku takut terlambat sampai di Paris dan  ketinggalan kereta yang menuju Groningen. Akhirnya aku pasrah, berusaha  berdoa &#8211; dalam situasi seperti ini, herannya aku malah sulit berdoa &#8211;  dan berdiam diri atau mengalihkan pikiran dengan mengajak ngobrol dua  perempuan Inggris teman seperjalananku.</p>
<p>Sampai di Paris, hari Selasa pk 17.00 di terminal Galieni. Aku harus  menuju Gare du Nord untuk naik kereta Thalys menuju Brussel pk 18.00.  Untungnya, seorang sahabatku di Groningen sudah memberi petunjuk jalur  metro dari Galieni menuju Gare du Nord. Saat itu adalah saat yang paling  menegangkan karena aku harus membeli tiket metro, mencari jalur metro  yang tepat di tengah hiruk pikuk metro Paris, turun di stasiun yang  tepat untuk berganti jalur metro dan harus bergegas karena waktu yang  sempit.</p>
<p>Kelegaan mulai menghampiriku ketika aku menginjakan kaki di Gare du Nord  30 menit sebelum kereta berangkat. Begitu duduk di kereta Thalys, aku  menghembuskan napas lega. Aku mengirim kabar pada orang-orang terdekatku  yang selama ini menemaniku dan memberi semangat melalui sms, bahwa aku  sudah hampir dekat Groningen hahahaha.. padahal masih 10 jam lagi  sebelum aku sampai di kamarku yang nyaman.</p>
<p>Sampai di Brussel pk. 19.23. Jadwal kereta berikutnya menuju Amsterdam  pk. 20.18. Sempat minum kopi &amp; makan croissant, kereta yang  ditunggu-tunggu ternyata terlambat 20 menit. Pada titik itu, aku sudah  tidak mau mengeluh, tidak mau bertanya mengapa aku sial lagi. Cukup.  Harapanku hanya segera sampai Groningen malam itu, bagaimanapun caranya.  Di dalam kereta menuju Amsterdam aku minta tolong sahabatku di  Groningen untuk mengecek situs ns.nl tentang kereta terakhir dari  Schipol atau Rotterdam menuju Groningen. Berdasarkan informasinya, aku  memutuskan untuk turun di Rotterdam untuk melanjutkan ke Amersfort dan  dari Amersfort ke Groningen. Selama perjalanan, aku berharap supaya  untuk etape terakhir ini perjalananku lancar. Kalau ada satu saja kereta  yang terlambat maka aku akan terdampar lagi di salah satu kota itu.  Bersyukur, karena akhirnya aku bisa naik kereta terakhir dari Rotterdam  menuju Amersfort dan dari Amersfort ke Groningen. Sampai Groningen CS pk  02.00 Rabu dini hari. Lelah, gatal-gatal karena 2 hari tidak mandi,  tapi bersyukur karena akhirnya aku sampai di &#8216;rumah&#8217;.</p>
<p>Pengalaman 3 hari terdampar di Portugal, membuatku belajar untuk tidak  terlalu cemas pada hal-hal yang belum terjadi. Aku belajar untuk  menjalani apa yang harus kuhadapi saat itu dan tidak terlalu banyak  berencana. Seorang sahabat bilang, setiap hari punya kesusahannya  sendiri. Suamiku menulis di wall FB-ku, supaya aku menjalani setiap  kesulitan seperti air mengalir. Sms-sms yang datang dari orang-orang  terdekat sepanjang perjalanan menyemangatiku untuk tetap tegar  menghadapi kesulitan. Dan ketika aku membandingkan kesulitan yang  kualami selama 3 hari kemarin dengan kesulitan orang lain yang sama-sama  terdampar atau dengan orang lain yang mengalami musibah berat,  sepertinya tidak pantas aku mengeluh. Pengalaman berharga memang harus  dibayar, itu kata Ibuku waktu beliau meneleponku. Aku juga belajar  menjadi lebih cepat mengambil keputusan, lebih tanggap terhadap  lingkungan sekitarku, lebih berani bertindak dan lebih asertif memulai  percakapan dengan orang baru, hal-hal yang selama ini kupikir tidak  termasuk sifatku. Now, I know what I&#8217;m capable of. Thank God for making  me stranded in Portugal <img src='http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a rel="attachment wp-att-1327" href="http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/afbeelding-3-2/"><img class="alignleft size-full wp-image-1327" title="Asteria Devy" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-3.png" alt="" width="76" height="72" /></a>Kontributor</p>
<h2>Asteria Devy</h2>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/22/terdampar-di-portugal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mackenzie&#8217;s Rating of European Cities</title>
		<link>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/21/mackenzies-rating-of-european-cities/</link>
		<comments>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/21/mackenzies-rating-of-european-cities/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 09:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggota</dc:creator>
				<category><![CDATA[Panduan]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ppigroningen.nl/wp/?p=851</guid>
		<description><![CDATA[A while ago, I turned 26. To be honest, I was so not looking forward  being 26 because a lot of things in traveling get more expensive when  you are 26, starting from train tickets to flight tickets, hostels to  entrance fees, and so on. They do not consider you as “youth” anymore. I  feel it’s not really fair coz prices go up for me yet I don’t get an  increase in my salary :p
Anyway, I have been in Europe for 4.5 years. I am ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><a href="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-11.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-855" title="Jalan-jalan" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/Afbeelding-11-300x270.png" alt="" width="182" height="163" /></a><span title="A" class="cap"><span>A</span></span> while ago, I turned 26. To be honest, I was so not looking forward  being 26 because a lot of things in traveling get more expensive when  you are 26, starting from train tickets to flight tickets, hostels to  entrance fees, and so on. They do not consider you as “youth” anymore. I  feel it’s not really fair coz prices go up for me yet I don’t get an  increase in my salary :p</p>
<p>Anyway, I have been in Europe for 4.5 years. I am going to list almost  all the European cities and towns that I have been before I turned 26  and I will give them a rating from * (worst) to ***** (best) when  compared to the cities/towns in the same category. I divided them to  five different categories based on population:</p>
<p>XL [&gt;700,000]</p>
<p>Vienna, Austria *****<br />
Paris, France *****<br />
Rome, Italy *****<br />
Prague, Czech ****<br />
Budapest, Hungary ****<br />
Barcelona, Spain ****<br />
Stockholm, Sweden ****<br />
Brussels, Belgium ***<br />
Berlin, Germany ***<br />
Munich, Germany ***<br />
Marseille, France **<br />
Cologne, Germany **<br />
Riga, Latvia **<br />
Amsterdam, Netherlands **<br />
Milan, Italy *<br />
Naples, Italy * (Absolute crap! do not go there, I repeat, do not go  there!!)</p>
<p>L [350,000 – 700,000]</p>
<p>Copenhagen, Denmark *****<br />
Lisbon, Portugal *****<br />
Palma, Spain *****<br />
Tallinn, Estonia ****<br />
Helsinki, Finland ****<br />
Dresden, Germany ****<br />
Zurich, Switzerland ****<br />
Lyon, France ***<br />
Florence, Italy ***<br />
Bremen, Germany ***<br />
Stuttgart, Germany ***<br />
The Hague, Netherlands ***<br />
Gdansk, Poland ***<br />
Antwerp, Belgium **<br />
Toulouse, France **<br />
Frankfurt, Germany **<br />
Nuremberg, Germany **<br />
Bologna, Italy **<br />
Vilnius, Lithuania **<br />
Rotterdam, Netherlands **<br />
Oslo, Norway **<br />
Dortmund, Germany *<br />
Bratislava, Slovakia *<br />
Gothenburg, Sweden *</p>
<p>M [100,000 – 350,000]</p>
<p>Nice, France *****<br />
Heidelberg, Germany *****<br />
Venice, Italy *****<br />
Bern, Switzerland *****<br />
Bruges, Belgium ****<br />
Ghent, Belgium ****<br />
Mulhouse, France ****<br />
Strasbourg, France ****<br />
Potsdam, Germany ****<br />
Parma, Italy ****<br />
Geneva, Switzerland ****<br />
Amiens, France ***<br />
Caen, France ***<br />
Dijon, France ***<br />
Lille, France ***<br />
Nimes, France ***<br />
Ulm, Germany ***<br />
Ferrara, Italy ***<br />
Rimini, Italy ***<br />
Verona, Italy ***<br />
Leiden, Netherlands ***<br />
Bergen, Norway ***<br />
Porto, Portugal ***<br />
Ljubljana, Slovenia ***<br />
Uppsala, Sweden ***<br />
Basel, Switzerland ***<br />
Lausanne, Switzerland ***<br />
Graz, Austria **<br />
Salzburg, Austria **<br />
Besancon, France **<br />
Karlsruhe, Germany **<br />
Mannheim, Germany **<br />
Wurzburg, Germany **<br />
Ravenna, Italy **<br />
Salerno, Italy **<br />
Groningen, Netherlands **<br />
Utrecht, Netherlands **<br />
Gdynia, Poland **<br />
Orebro, Sweden **<br />
Liege, Belgium *<br />
Tampere, Finland *<br />
Ludwigshafen, Germany *<br />
Oldenburg, Germany *<br />
Saarbrucken, Germany *<br />
Enschede, Netherlands *<br />
Tilburg, Netherlands *</p>
<p>S [10,000 – 100,000]</p>
<p>Avignon, France *****<br />
Carcasonne, France *****<br />
Colmar, France *****<br />
Capri, Italy *****<br />
Sintra, Portugal *****<br />
Lucerne, Switzerland *****<br />
Kutna Hora, Czech ****<br />
Hillerod, Denmark ****<br />
Rothenburg, Germany ****<br />
Luxembourg City, Luxembourg ****<br />
Sopot, Poland ****<br />
Cascais, Portugal ****<br />
Segovia, Spain ****<br />
Soller, Spain ****<br />
Toledo, Spain ****<br />
Neuhausen am Rheinfall, Switzerland ****<br />
Andorra la Vella, Andorra ***<br />
Bayeux, France ***<br />
Lourdes, France ***<br />
Baden-Baden, Germany ***<br />
Bamberg, Germany ***<br />
Constance, Germany ***<br />
Pisa, Italy ***<br />
Siena, Italy ***<br />
Delft, Netherlands ***<br />
Aveiro, Portugal ***<br />
Coimbra, Portugal ***<br />
Neuchatel, Switzerland ***<br />
Vevey, Switzerland ***<br />
Carlsbad, Czech **<br />
Beaune, France **<br />
Como, Italy **<br />
Lucca, Italy **<br />
Maastricht, Netherlands **<br />
Malbork, Poland **<br />
Montreux, Switzerland **<br />
Arles, Italy *<br />
Leeuwarden, Netherlands *<br />
La Chaux-de-Fonds, Switzerland *</p>
<p>XS [&lt;10,000]<br />
Hohenschwangau, Germany *****<br />
Monte Carlo, Monaco *****<br />
Flåm, Norway *****<br />
Lauterbrunnen, Switzerland *****<br />
Meiringen, Switzerland *****<br />
Eze, France ****<br />
Positano, Italy ****<br />
Ravello, Italy ****<br />
Vernazza, Italy ****<br />
Giethoorn, Netherlands ****<br />
Divaca, Slovenia ****<br />
Valldemossa, Spain ****<br />
Sankt Moritz, Switzerland ****<br />
Vatican City, Vatican ****<br />
Chenonceaux, France ***<br />
Mont Saint Michel, France ***<br />
Amalfi, Italy ***<br />
Monterosso al Mare, Italy ***<br />
Riomaggiore, Italy ***<br />
Trakai, Lithuania ***<br />
Hindeloopen, Netherlands ***<br />
Batalha, Portugal ***<br />
San Marino, San Marino ***<br />
Interlaken, Switzerland ***<br />
Melk, Austria **<br />
Manarola, Italy **<br />
Vaduz, Liechtenstein **<br />
Sloten, Netherlands **<br />
Buchs, Switzerland *</p>
<p>This rating is based on both objectivity and subjectivity. I did not  include the cities that I have spent too little time to judge them  better.  Enjoy and hopefully this can be useful in planning your next  trip in this magical continent of Europe.</p>
<p>in the train from Groningen &#8211; Utrecht<br />
15 April 2010</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/greenzie"><img class="alignleft size-full wp-image-852" title="Mackenzie Hadi" src="http://www.ppigroningen.nl/wp/wp-content/uploads/2010/04/12404_401635590934_619500934_5330923_2544581_n-e1271841958105.jpg" alt="http://www.facebook.com/greenzie" width="55" height="93" /></a></p>
<p>Kontributor</p>
<p><strong>Mackenzie Hadi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ppigroningen.nl/wp/2010/04/21/mackenzies-rating-of-european-cities/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

